Konten dari Pengguna

Sang Maestro Lengger Lanang Banyumas Sampaikan Pesan kepada Generasi Muda

Eyora Kinasih

Eyora Kinasih

Akrab disapa Yora, berperan sebagai ibu rumah tangga dan Mahasiswi Pascasarjana Ilmu Komunikasi di Universitas Indonesia.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Eyora Kinasih tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mas Rianto selaku Maestro Lengger Lanang Banyumasan. Sumber: Dokumentasi Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Mas Rianto selaku Maestro Lengger Lanang Banyumasan. Sumber: Dokumentasi Pribadi

Salah satu kebudayaan asli di Indonesia, khususnya di lokasi Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah, sangat terkenal dengan budaya Tari Lengger Lanang Banyumasan. Terdapat Rumah Lengger (di dalam kawasan Pendopo Duplikat Sipanji), sebagai cagar budaya, pusat dokumentasi, sastra dan data dari budaya Lengger. Didirikan Rumah Lengger sebagai wujud upaya pelestarian budaya, menghindarkan dari proses lupa dan tumpulnya masyarakat dalam memaknai kekayaan tradisi Indonesia sendiri.

Dikira wanita tetapi adalah pria adalah makna dari nama Lengger. Orisinalitas lahirnya budaya Tari Lengger adalah dibawakan oleh lelaki. Adanya peleburan unsur maskulinitas dan feminitas di dalam satu tubuh adalah representasi dari Lengger Lanang ini. Adanya cross gender dalam budaya ini, masih menimbulkan stigma di kalangan masyarakat.

Stigma yang masih tertanam di benak masyarakat erat kaitannya terhadap budaya Lengger dengan hal yang berbau banci, gay dan hal yang menyalahi kodrat seorang lelaki. Dibalik itu semua, Lengger sebenarnya adalah murni suatu bentuk ekspresi berbudaya yang mengekspresikan bahwa di dalam setiap tubuh manusia memiliki dua unsur maskulin dan feminim.

Rianto, selaku Maestro Lengger Lanang Banyumasan, pada acara Apresiasi Seni Budaya Banyumas (Menjaga Ketahanan Budaya Lokal Menuju Kemajuan Global), Universitas Amikom Purwokerto, yang diikuti oleh seluruh civitas akademik program studi Ilmu Komunikasi. Rianto menyampaikan pesannya bahwa “Janganlah banyak berbicara, tetapi banyaklah memahami. Janganlah banyak mencela, tetapi banyaklah mencintai. Indonesia tidak akan ada tanpa kebudayaan. Tugas kita untuk selalu mencintai dan melestarikan kebudayaan sendiri.”

Mahasiswa yang mengikuti kegiatan tersebut sangat berantusias dan menimbulkan kesan menakjubkan serta mendapatkan pesan yang bermakna dalam perihal pelestarian budaya Indonesia.