Bekal Kembali ke Masyarakat, Napiter Lapas Besi Antusias Ikuti Pelatihan Juleha

Public Relations at Lapas Kelas IIA Besi Nusakambangan
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Rezana Agustyan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Nusakambangan – INFO_PAS. Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Besi Nusakambangan menggelar pelatihan Juru Sembelih Halal (Juleha) bagi para narapidana kasus terorisme (napiter), Kamis (21/5/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari program deradikalisasi berbasis kemandirian yang bertujuan untuk membekali para warga binaan dengan keterampilan nyata sebelum mereka kembali ke masyarakat.
Pelatihan yang berlangsung di aula Lapas Besi ini terselenggara berkat kerja sama sinergis antara Lapas Besi, Datasemen Khusus (Densus) 88 Anti-teror Polri, dan Pengurus Daerah Muhammadiyah Kabupaten Cilacap. Melalui program ini, para napiter tidak hanya diajarkan teori fikih penyembelihan secara syariat Islam, tetapi juga praktik langsung mengenai teknik penyembelihan yang higienis dan berkesejahteraan hewan.
Kepala Lapas (Kalapas) Besi, Muda Husni, menjelaskan bahwa program ini sengaja dirancang untuk menyentuh sisi spiritual sekaligus ekonomi para napiter. Menurutnya, pemahaman agama yang lurus harus diimbangi dengan keahlian praktis yang bermanfaat bagi umat.
"Kami ingin memastikan bahwa proses integrasi sosial para warga binaan berjalan dengan lancar. Pelatihan Juleha ini bukan sekadar memberikan keahlian menjagal hewan, melainkan cara kami meluruskan pemahaman mereka melalui jalur yang positif. Ketika bebas nanti, mereka memiliki sertifikasi keahlian yang diakui dan dapat langsung memanfaatkannya untuk membuka usaha atau membantu masyarakat, terutama menjelang momentum seperti Iduladha," ujar Muda Husni.
Proses deradikalisasi ini berjalan dengan interaktif. Perwakilan dari Muhammadiyah Cilacap bertindak sebagai instruktur utama yang memandu jalannya pelatihan, mulai dari penajaman bilah pisau, metode merobohkan hewan tanpa menyakiti, hingga titik pemotongan tiga saluran utama pada leher hewan. Para napiter tampak antusias dan mengikuti setiap tahapan dengan khidmat.
Sinergi instansi ini dinilai menjadi salah satu formula efektif dalam menekan angka residivisme di kalangan mantan pimpinan atau anggota jaringan teror. Densus 88 memandang pendekatan humanis berbasis kompetensi seperti ini sangat krusial dalam menyentuh hati para napiter.
Perwakilan Densus 88 Anti-teror Polri, Kossa, menegaskan bahwa kehadiran negara dalam mendampingi para napiter tidak akan berhenti pada aspek penegakan hukum saja, melainkan terus berlanjut hingga tahap pemulihan ideologi dan kemandirian ekonomi.
"Deradikalisasi yang sukses adalah ketika para saudara kita ini menyadari kesalahan masa lalu dan siap berkontribusi positif untuk NKRI. Melalui kegiatan Juleha bersama Muhammadiyah ini, kita membangun jembatan kepercayaan (trust building). Kami dari Densus 88 sangat mengapresiasi keterbukaan para warga binaan yang dengan tulus mau belajar dan menerima pemahaman Islam yang rahmatan lil 'alamin," kata Kosa di sela-sela kegiatan.
Melalui pelatihan intensif ini, diharapkan para napiter di Lapas Besi Nusakambangan dapat sepenuhnya mengikis pemikiran ekstremis dan menggantinya dengan semangat baru untuk menjadi juru sembelih yang profesional, legal, dan halal bagi masyarakat luas setelah masa pidana mereka usai.
