Konten dari Pengguna

Apa Kata Dunia, 1 Jam Tanpa Humas

Fajar Herlambang

Fajar Herlambang

ASN, Pranata Humas, Penulis Buku Fiksi Non Fiksi, Fotografer, Content Creator

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fajar Herlambang tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

sumber image : freepik.com
zoom-in-whitePerbesar
sumber image : freepik.com

Bayangkan jika seluruh dunia kehilangan profesi humas hanya dalam satu jam. Chaos kah? Atau justru damai?

Pernah gak sih lo mikir, kira-kira gimana jadinya dunia kalau tiba-tiba semua humas di planet ini menghilang selama satu jam? Bukan cuma libur makan siang atau coffee break biasa, tapi beneran menghilang—kayak dimakan bumi gitu.

Kedengarannya sepele ya? Wong cuma satu jam doang. Tapi coba deh kita bayangin bareng-bareng.

Ketika Dunia Kehilangan Juru Bicaranya

Jam 12.00 siang, tiba-tiba semua praktisi humas di dunia lenyap. Yang ada di kantor gubernur, kementerian, perusahaan multinasional, startup unicorn, sampai warung kopi tetangga yang punya Instagram bisnis—semuanya hilang. Poof!

Lima menit pertama, mungkin belum ada yang sadar. Tapi di menit ke-10, mulai ada yang nanya: "Eh, si humas kemana? Katanya mau briefing pers jam segini?"

Di menit ke-15, CEO sebuah perusahaan teknologi terkemuka panik berat. Aplikasinya down, jutaan user komplain di media sosial, tapi tim humasnya raib. Dia harus ngomong sendiri ke wartawan—dan lo tau kan, CEO teknis yang ngomong langsung tanpa filter itu kayak gimana? Recipe for disaster.

Sementara itu, di Istana Negara, juru bicara presiden yang biasanya standby 24/7 untuk menjawab pertanyaan sensitif politik, tiba-tiba gak ada. Wartawan senior Najwa Shihab yang sedang persiapan wawancar eksklusif mendadak bingung: "Siapa yang bakal ngatur protokol dan briefing sebelum wawancara?"

Teori Komunikasi yang Terbantahkan

Menurut Grunig (1984), public relations adalah kegiatan manajemen komunikasi antara sebuah organisasi dengan publik. Nah, bayangin kalau manajemen komunikasi ini tiba-tiba vakum selama satu jam.

Relationship management theory yang merupakan teori sangat penting dalam public relations karena terkait dengan fungsi dasar aktivitas komunikasi yang menghubungkan organisasi dan publik, langsung collapse. Kayak jembatan komunikasi yang tiba-tiba putus.

Di era digital seperti sekarang, dimana informasi beredar dengan kecepatan cahaya, ketiadaan filter komunikasi profesional bisa jadi bencana besar. Social media manager yang biasanya merespons mention dalam hitungan menit, tiba-tiba gak ada yang handle. Algorithm Twitter dan Instagram mulai "ngamuk" karena engagement rate turun drastis.

Suara dari Lapangan

"Humas itu seperti oli mesin," kata Aiman Witjaksono, jurnalis senior yang sudah bertahun-tahun tampil di media TV Indonesia dan bekerja selama 10 tahun. "Tanpa mereka, roda komunikasi antara institusi dan publik bakal macet. Bahkan dalam satu jam sekalipun."

Dia menambahkan dengan nada serius yang biasa terdengar di layar kaca: "Sebagai wartawan, saya sering berinteraksi dengan humas. Mereka bukan cuma juru bicara, tapi juga translator yang menerjemahkan bahasa teknis institusi menjadi informasi yang bisa dicerna publik. Bayangkan kalau translator itu hilang, chaos pasti terjadi."

Realita di Balik Layar

Yang sering gak disadari orang adalah, seorang humas itu kerja 24/7. Bukan lebay, tapi literally. Tengah malam ada isu viral di Medsos? Humas yang handle. Sabtu minggu ada journalist yang butuh konfirmasi urgent? Humas lagi yang diganggu.

Mereka manusia biasa yang butuh makan, minum, tidur, bahkan me-time. Tapi realitanya? Handphone gak pernah silent, WhatsApp grup media selalu rame, dan email terus masuk bahkan saat liburan.

"Satu jam tanpa humas mungkin terdengar singkat, tapi di era informasi sekarang, satu jam itu bisa jadi lifetime”.

Plot Twist: Yang Terjadi Selanjutnya

Tapi tunggu dulu. Di menit ke-30, sesuatu yang menarik terjadi. Tanpa perantara humas, beberapa CEO mulai berbicara langsung ke publik lewat media sosial. Ada yang blunder parah, tapi ada juga yang justru lebih authentic dan relatable.

Publik mulai menghargai transparansi langsung ini. "Wah, ternyata direkturnya humble ya, ngomongnya gak kaku," kata netizen di kolom komentar.

Di sisi lain, beberapa organisasi yang biasanya tertutup mulai kebobolan informasi internal karena gak ada yang ngatur message control. Whistleblower dadakan bermunculan. Transparency level naik drastis—entah itu good news atau bad news.

Ketika Mereka Kembali

Jam 13.00, semua humas kembali. Seperti bangun dari mimpi buruk, mereka langsung dihadapkan dengan puluhan missed call, ratusan chat WhatsApp, dan inbox email yang hampir penuh.

"Ya Tuhan, satu jam doang kok kayak seabad," keluh seorang humas kementerian sambil scroll timeline Twitter yang penuh @ mention.

Crisis management mode langsung on. Press release darurat disiapkan, damage control dijalankan, dan relationship recovery dimulai. Mereka bekerja overtime untuk memperbaiki situasi yang "berantakan" selama satu jam itu.

Lesson Learned

Dari eksperimen imajiner ini, kita belajar bahwa profesi humas ternyata lebih crucial dari yang kita kira. Mereka bukan cuma "tukang ngomong" atau "pembuat press release". Mereka adalah jembatan komunikasi yang menjaga stabilitas informasi di era yang serba cepat ini.

Satu jam tanpa humas menunjukkan betapa rapuhnya ekosistem komunikasi modern. Tapi di saat yang sama, juga membuka mata kita bahwa kadang-kadang, komunikasi langsung tanpa filter juga punya charm tersendiri.

Mungkin yang dibutuhkan bukan dunia tanpa humas, tapi humas yang lebih manusiawi. Mereka juga butuh istirahat, butuh work-life balance, dan butuh pengakuan bahwa mereka lebih dari sekadar "mesin pembuat konten".

Jadi, next time kalau lo ketemu humas yang lagi stress karena handling crisis communication, mungkin kasih mereka secangkir kopi dan bilang: "Good job, bro. Dunia butuh lo."

Karena sejujurnya, dunia tanpa humas—bahkan cuma satu jam—itu ternyata cukup menakutkan. Dan mungkin, sedikit membosankan juga.