Konten dari Pengguna

Dilema Etika dan Profesionalisme: Tekanan Sosial yang Terus Menghantui Guru

Faadhillah Fathiya

Faadhillah Fathiya

Mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Pamulang

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Faadhillah Fathiya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kegiatan belajar mengajar di SDN Cengkareng Barat 15 Pagi [Foto: Dokumentasi pribadi]
zoom-in-whitePerbesar
Kegiatan belajar mengajar di SDN Cengkareng Barat 15 Pagi [Foto: Dokumentasi pribadi]

Etika dan profesionalisme merupakan dua hal yang sangat melekat jika membicarakan profesi guru. Dalam menjalankan profesi ini, masih banyak guru yang mendapatkan upah yang sangat minimum meskipun sebutan mereka adalah "Pahlawan Tanpa Tanda Jasa". Tidak hanya sampai disitu guru juga dituntut untuk harus terampil dalam segala hal, mulai dari terampil dalam teknologi, terampil dalam memberikan pembelajaran kreatif mengikuti zaman, dan sebagainya.

Ditengah banyaknya tuntutan pekerjaan, problematika kesejahteraan, dan sebagainya guru juga harus menghadapi siswa dengan beragam karakter. Guru pada jenjang Sekolah Dasar (SD) akan dihadapkan dengan siswa yang rewel, tidak bisa diam dan ingin selalu diperhatikan. Lalu pada jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) karakter siswa mulai bisa terkendali namun masih tetap memiliki sifat kekanak-kanakan. Selanjutnya pada jenjang Sekolah Menegah Atas (SMA), saat inilah guru paling diuji dalam etika dan profesionalisme, karena pada jenjang inilah seorang anak mulai mengalami fase pubertas yang tinggi dan seringkali membuat guru jengkel karena kenakalan mereka.

Seringkali kekerasan di lingkungan sekolah menjadi sorotan publik. Setiap kali kasus muncul, guru kerap menjadi pihak yang paling disalahkan, seolah profesionalisme dan etika mereka runtuh begitu saja. Namun, di balik sorotan tajam tersebut, jarang dibahas tekanan besar yang harus dihadapi guru dalam menjalankan perannya di sistem pendidikan Indonesia.

Ilustrasi siswa sedang kesal [sumber: https://www.istockphoto.com/id]

Dalam beberapa tahun terakhir, perubahan besar telah terjadi dalam dunia pendidikan di Indonesia. Masyarakat semakin menuntut kualitas layanan pendidikan yang lebih baik, sementara masalah sosial, teknologi, dan perilaku siswa semakin kompleks. Beberapa waktu lalu, publik dikejutkan oleh tindakan seorang kepala sekolah yang menampar siswanya karena merokok di lingkungan sekolah. Kasus tersebut adalah bukti bahwa perilaku siswa mengalami perubahan yang kompleks dari zaman ke zaman. Dalam situasi yang berubah ini, guru menempati posisi yang vital tetapi juga rentan. Mereka diharapkan untuk berperan sebagai pendidik, pembimbing etika, dan pengatur disiplin.

Pakar pendidikan mengatakan bahwa guru adalah tenaga pendidik yang memberikan ilmu pengetahuan kepada siswa, yang tidak hanya berorientasi pada kecakapan kognitif, tetapi juga emosional dan spiritual. Namun, menilik Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 mengenai hak guru, ternyata masih banyak hak guru yang belum terpenuhi tetapi tekanan dalam pekerjaan terus saja meningkat. Seperti hak kesejaheteraan yang masih belum merata juga hak sarana-prasarana yang belum terpenuhi.

Sebagai guru, banyak sekali tantangan yang akan dihadapi dimasa depan, berbagai tekanan serta peraturan yang semakin tidak berpihak pada kesejahteraan guru membuat guru harus berpikir bagaimana memerankan peran sebagai guru yang baik dengan banyaknya kekurangan pada sistem kesejahteraan untuk mereka. Bukan hal yang mudah menjalankan peran sebagai role model bagi generasi penerus bangsa. Karena selain tekanan sosial, guru juga menghadapi banyak tekanan pada pekerjaannya yang memaksa mereka untuk bisa menyesuaikan diri dengan kemajuan teknologi dan juga perubahan pada budaya belajar. Namun, meskipun begitu tetap saja kekerasan dalam pendisiplinan bukanlah hal yang tepat dilakukan oleh seorang guru.

Memberikan tindakan disiplin yang positif pada perilaku penyimpangan yang dilakukan siswa itulah yang seharusnya guru lakukan, karena melakukannya tidak akan membuat wibawa seorang guru menjadi hilang, justru itulah tindakan yang tepat membangun hubungan baik dengan para siswa serta dapat menciptakan lingkungan sekolah anti kekerasan. Selain itu, Guru yang bekerja di bawah tekanan tinggi rentan kehilangan kontrol emosional. Dukungan psikologis dan beban kerja yang wajar harus menjadi agenda serius.

Faadhillah Fathiya, Mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Pamulang