Gawai Meningkat, Literasi Anjlok: Imbas Hasil Belajar Siswa

Mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Pamulang
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Faadhillah Fathiya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menurunnya kemampuan literasi peserta didik kembali menjadi sorotan publik. Hasil berbagai asesmen nasional maupun internasional menunjukkan bahwa kemampuan membaca, memahami teks, dan menalar informasi siswa di Indonesia belum menunjukkan perbaikan signifikan dan malah justru semakin memburuk.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan mendasar: Apakah anjloknya literasi merupakan persoalan minat baca semata, atau justru merupakan cerminan dari kualitas hasil belajar yang belum optimal?
Pada jenjang sekolah dasar dan menengah, masih banyak kita jumpai siswa yang mampu membaca teks secara lancar, tetapi kesulitan menangkap makna, menarik kesimpulan, atau mengaitkan isi bacaan dengan konteks kehidupan sehari-hari.
Literasi kerap dipersempit maknanya hanya sebagai kemampuan membaca dan menulis, padahal sejatinya literasi mencakup kemampuan berpikir kritis, memahami informasi, dan menggunakan pengetahuan secara reflektif.
Tekanan akademik yang berorientasi pada capaian nilai, ketuntasan materi, dan penyelesaian administrasi pembelajaran sering kali membuat proses belajar kehilangan esensinya. Guru dituntut menuntaskan target kurikulum, sementara siswa dibebani tugas yang menekankan hafalan, bukan pemahaman mendalam. Akibatnya, literasi tidak tumbuh sebagai budaya belajar, tetapi sekadar formalitas kegiatan membaca tanpa makna.
Hasil belajar sejatinya tidak hanya diukur dari angka rapor atau kelulusan, tetapi dari sejauh mana siswa mampu mengolah informasi, menalar, dan mengambil keputusan berdasarkan pengetahuan yang dimilikinya. Ketika pembelajaran masih berpusat pada ceramah satu arah (teacher centered) dan latihan soal yang berulang, kemampuan literasi akan sulit berkembang.
Secara teoretis, pendekatan konstruktivistik menekankan bahwa pengetahuan dibangun melalui proses aktif, dialogis, dan kontekstual. Siswa perlu dilibatkan dalam diskusi, analisis teks, pemecahan masalah, dan refleksi kritis. Tanpa ruang untuk berpikir dan bertanya, literasi akan terus tertinggal, meskipun jam belajar dan tumpukan materi terus bertambah.
Di era digital seperti sekarang, tantangan literasi semakin kompleks. Siswa dihadapkan pada banjir informasi dari media sosial dan internet, tetapi tidak dibekali kecakapan memilah, memverifikasi, dan memahami informasi secara kritis. Ironisnya, teknologi seperti gawai yang seharusnya bisa menjadi sarana belajar justru sering menjadi distraksi dan memperlemah daya konsentrasi mereka.
Selain itu, masih banyak orang tua dari siswa yang menyepelekan literasi. Banyak dari mereka yang acuh dan membiarkan anak mereka tumbuh hanya bermodalkan pengetahuan membaca tanpa memahami. Mereka menganggap bahwa literasi hanyalah sebuah kegiatan membaca biasa yang tidak akan berpengaruh pada apa pun.
Fenomena ini menegaskan bahwa rendahnya literasi bukan sekadar persoalan teknis pembelajaran, melainkan persoalan sistemik yang berkaitan dengan budaya belajar di sekolah dan di rumah. Ketika membaca tidak dijadikan kebutuhan intelektual, hasil belajar pun cenderung dangkal dan mudah dilupakan.
Anjloknya literasi seharusnya menjadi cermin untuk mengevaluasi kualitas hasil belajar secara menyeluruh. Sekolah perlu mengembalikan pembelajaran pada tujuan hakikinya: membentuk peserta didik yang mampu berpikir, memahami, dan bertindak secara bertanggung jawab. Guru memegang peran strategis sebagai fasilitator yang menumbuhkan budaya literasi melalui pembelajaran yang bermakna, dialogis, dan kontekstual.
Lebih dari itu, literasi harus dipahami sebagai investasi jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia. Tanpa literasi yang kuat, hasil belajar hanya akan menjadi angka statistik tanpa daya ubah. Maka, pertanyaannya bukan lagi "apakah literasi anjlok berdampak pada hasil belajar?"melainkan "sejauh mana kita bersedia berbenah agar literasi kembali menjadi jantung pendidikan?"
