Bukan Gaji, Bukan Bos, Bukan Beban Kerja: Alasan Sebenarnya Karyawan Pergi dari Kantor Toxic

Mahasiswa Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Program Sarjana, Universitas Pamulang
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Fabian Iransyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gaji dibayar tepat waktu. Pekerjaan masih sanggup dikerjakan. Atasan pun tidak pernah membentak. Namun suatu hari, seorang karyawan mengajukan surat pengunduran diri, dan rekan-rekannya heran, “Kan enak di sini, kenapa pergi?” Pertanyaan itu sering muncul karena kita terbiasa mengira alasan resign selalu berkaitan dengan gaji, bos, atau beban kerja. Padahal ada penyebab lain yang jarang terlihat, yaitu lingkungan kerja yang toxic.
Lingkungan kerja toxic adalah suasana kantor yang merusak kesehatan mental, rasa aman, dan semangat karyawan lewat perilaku atau budaya yang tidak sehat. Bentuknya tidak selalu berupa teriakan atau pertengkaran terbuka. Justru racun yang paling berbahaya sering bekerja pelan dan nyaris tak terlihat.
Racun yang Tidak Pernah Tercatat di Slip Gaji
Obrolan di pantry kerap berubah menjadi ajang membicarakan orang di belakangnya. Karyawan yang tidak masuk “lingkaran” tertentu akhirnya merasa terasing, dan setiap hari datang dengan rasa waswas, jangan-jangan hari ini giliran dirinya yang dibicarakan. Di saat yang sama, pilih kasih membuat sebagian orang selalu mendapat kesempatan, sementara yang lain bekerja sama kerasnya tetapi tak pernah dilirik. Ketika penghargaan lebih ditentukan oleh kedekatan daripada kinerja, usaha terasa sia-sia.
Ada pula candaan yang berubah menjadi luka. Kalimat “cuma bercanda, jangan baper” sering dipakai untuk membenarkan ejekan soal fisik, usia, atau latar belakang seseorang. Garis antara humor dan perundungan sangat tipis, dan korbannya biasanya baru berani bicara setelah luka menumpuk. Bentuk yang lebih halus lagi adalah sindiran dan pengucilan, seperti dicuekin, tidak diundang ke grup, atau disindir lewat status media sosial. Tidak ada bukti yang jelas, tetapi dampaknya terasa nyata dan sulit dilaporkan.
Racun berikutnya terjadi di ruang rapat. Di kantor toxic, pendapat sering ditertawakan, dipotong, atau diabaikan. Lama-kelamaan karyawan memilih diam, dan diam yang berlarut-larut membuat orang merasa tidak berarti. Padahal di kantor yang sehat, ide yang keliru dianggap bagian dari proses belajar.
Mengapa Uang Tidak Cukup untuk Bertahan
Manusia menghabiskan sekitar sepertiga harinya di tempat kerja. Bila selama itu ia terus merasa tegang, tidak diterima, dan harus berhati-hati, tubuh dan pikirannya ikut menanggung beban. Gejalanya bisa berupa cemas setiap kali akan berangkat kerja, sulit berkonsentrasi, mudah lelah meski pekerjaan tidak berat, turunnya kepercayaan diri, hingga gangguan tidur. Inilah sebabnya gaji besar tidak otomatis membuat orang bertahan. Uang dapat membayar tagihan, tetapi tidak dapat membeli ketenangan batin.
Yang membuat masalah ini sulit terdeteksi, banyak karyawan pergi tanpa berterus terang. Saat wawancara keluar, jawaban yang paling sering muncul adalah “ingin mencari pengalaman baru”. Alasannya sederhana: takut dianggap memperburuk hubungan, khawatir memengaruhi referensi kerja, atau yakin tidak akan ada yang berubah. Ada pula yang sudah melapor kepada bagian SDM, tetapi tidak mendapat tindak lanjut. Dari situ muncul kesimpulan bahwa pergi lebih mudah daripada berharap pada perubahan.
Yang Bisa Dilakukan Perusahaan
Perusahaan tidak bisa hanya menunggu karyawan resign lalu bertanya-tanya sebabnya. Manajemen SDM perlu menyediakan jalur pengaduan yang aman dan rahasia, memastikan setiap laporan ditindaklanjuti, serta menetapkan aturan perilaku yang tegas, termasuk soal perundungan dan candaan yang merendahkan. Survei kepuasan dan keamanan psikologis sebaiknya dilakukan secara berkala, atasan perlu dilatih menangani konflik sebelum membesar, dan hasil wawancara keluar yang jujur harus benar-benar dipakai untuk memperbaiki budaya kerja.
Kapan Karyawan Perlu Mempertimbangkan untuk Pergi
Bertahan tidak selalu salah. Namun perlu waspada bila kesehatan mental atau fisik mulai terganggu, bila sudah mencoba berbicara atau melapor tetapi tidak ada perubahan, atau bila rasa takut dan muak muncul setiap kali memikirkan kantor. Sebelum memutuskan resign, catat kejadian yang dialami, bicarakan dengan orang yang dipercaya, dan siapkan rencana keuangan serta lamaran baru. Pergi dengan persiapan jauh lebih baik daripada pergi karena sudah kehabisan tenaga.
Karyawan jarang meninggalkan perusahaan hanya karena satu hal besar. Sering kali mereka pergi karena tumpukan hal kecil yang tidak pernah ditangani, seperti gosip, sindiran, candaan yang melukai, dan rasa tidak aman. Bagi perusahaan, pelajarannya jelas: gaji yang bagus dan pekerjaan yang jelas belum cukup. Lingkungan yang sehat adalah alasan utama orang mau bertahan.
