Konten dari Pengguna

Resign Bukan karena Gaji: Atasan Tak Mau Mendengar dan Tak Pernah Menghargai

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fabian Iransyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Terkadang, alasan seseorang memilih resign bukan karena gaji yang tak sepadan, melainkan karena merasa tidak didengar, tidak dihargai, dan kehilangan semangat di tempat kerja.
zoom-in-whitePerbesar
Terkadang, alasan seseorang memilih resign bukan karena gaji yang tak sepadan, melainkan karena merasa tidak didengar, tidak dihargai, dan kehilangan semangat di tempat kerja.

Bayangkan seorang karyawan yang kinerjanya konsisten baik dan gajinya baru saja naik. Suatu hari ia menyerahkan surat pengunduran diri. Atasannya heran, lalu menduga ada tawaran gaji lebih besar dari perusahaan lain. Dugaan itu masuk akal, tetapi sering kali meleset. Penyebab sebenarnya biasanya tersimpan dalam pengalaman sehari-hari di tempat kerja, bukan di angka pada slip gaji.

Gaji Penting, tetapi Bukan Satu-Satunya Penentu

Mari kita jujur sejak awal: gaji memang berpengaruh besar. Dalam survei Jajak Pendapat (JakPat) terhadap generasi muda Indonesia, kesenjangan antara gaji dan beban pekerjaan menjadi alasan terbanyak untuk mundur, dipilih sekitar 65% responden. Namun, hasil yang sama juga memperlihatkan bahwa jam kerja yang berantakan dan berlebihan berada di urutan berikutnya dengan sekitar 57%, disusul budaya kerja toksik sekitar 52%.

Jika dicermati, dua alasan terakhir berkaitan langsung dengan cara pimpinan mengelola tim. Bahkan, keluhan soal gaji sering kali berakar pada beban kerja yang terasa tidak sebanding dengan imbalannya. Artinya, uang bukan satu-satunya masalah. Banyak karyawan merasa bahwa perlakuan yang mereka terima tidak sepadan dengan tenaga yang mereka berikan.

Atasan Memegang Kunci Keterlibatan Karyawan

Lembaga riset Gallup pernah mengkaji persoalan ini dalam skala besar. Hasilnya, peran manajer menjelaskan paling sedikit 70% perbedaan tingkat keterlibatan karyawan antarunit bisnis. Perlu dicatat bahwa data ini berasal dari Amerika Serikat, tetapi temuannya cukup relevan sebagai gambaran umum: semangat kerja sebuah tim sangat bergantung pada sosok yang memimpinnya.

Itulah sebabnya ada anggapan yang sudah lama beredar di dunia kerja, yakni orang masuk karena perusahaan, tetapi pergi karena atasan. Tiga perilaku di bawah ini adalah penyebab yang paling sering muncul.

Atasan yang Tidak Mau Mendengar

Karyawan di lini depan biasanya paling tahu hambatan nyata di lapangan, mulai dari prosedur yang tidak efisien hingga keluhan pelanggan. Sayangnya, tidak semua atasan membuka telinga. Ada yang menganggap saran bawahan sebagai gangguan, bahkan sebagai tanda tidak patuh.

Akibatnya, rapat hanya menjadi tempat menyampaikan perintah. Karyawan belajar bahwa berbicara tidak ada gunanya, lalu memilih diam. Dalam rangkuman penyebab resign yang disusun Jobseeker, sikap atasan yang menutup telinga terhadap pendapat anak buah termasuk ciri gaya memimpin yang mendorong orang pergi. Kerugian terbesar justru ditanggung perusahaan, karena gagasan segar dan peringatan dini atas masalah hilang begitu saja.

Atasan yang Tidak Pernah Memberi Apresiasi

Apresiasi tidak selalu berupa hadiah atau bonus. Ucapan terima kasih yang tulus, pujian yang spesifik, atau pengakuan di depan rekan satu tim sudah cukup memberi arti. Robert Walters Indonesia mencatat bahwa karyawan ingin hasil kerjanya diakui, dan minimnya komunikasi terbuka antara manajer dan staf menjadi kebiasaan buruk yang merusak kenyamanan di kantor.

Masalah muncul ketika pekerjaan yang beres dianggap sudah semestinya, sementara kekeliruan kecil cepat ditegur. Perlahan-lahan, karyawan merasa jerih payahnya tidak terlihat. Mereka tetap datang dan bekerja, tetapi hanya sebatas memenuhi kewajiban. Gejala ini kerap disebut quiet quitting, yaitu bekerja secukupnya tanpa keterlibatan batin.

Atasan yang Memberi Tugas Berlebihan

Kepemimpinan yang baik menuntut pembagian kerja yang adil. Kenyataannya, ada atasan yang melimpahkan pekerjaan tanpa menghitung kemampuan dan waktu bawahannya. Tenggat dipadatkan, tugas tambahan muncul mendadak, dan jam kerja melar hingga malam atau akhir pekan. Ketimpangan pembagian beban seperti ini juga termasuk perilaku manajerial yang disebut sebagai pemicu karyawan mengajukan pengunduran diri.

Jika dibiarkan terus-menerus, tekanan semacam ini bisa berujung pada kelelahan berkepanjangan atau burnout. Konsentrasi menurun, tubuh mudah sakit, dan batas antara kehidupan kerja serta kehidupan pribadi kian kabur. Pada titik itu, mundur dari pekerjaan terasa seperti satu-satunya jalan untuk memulihkan diri.

Mengapa Alasan Sebenarnya Jarang Terungkap

Banyak orang enggan jujur saat wawancara keluar. Mereka khawatir hubungan baik dengan perusahaan rusak atau referensi kerja terganggu, sehingga memilih alasan yang aman seperti ingin mencari tantangan baru. Di pihak perusahaan, ada kecenderungan menerima alasan tersebut dengan lega, karena menyalahkan faktor luar terasa lebih nyaman ketimbang berkaca pada kepemimpinan sendiri. Hasilnya, masalah yang sama terus berulang dari satu karyawan ke karyawan berikutnya.

Langkah Nyata yang Dapat Ditempuh Perusahaan

Kabar baiknya, persoalan ini dapat diperbaiki. Langkah pertama adalah membangun budaya saling mendengar: beri ruang bagi karyawan untuk berpendapat, tanggapi dengan terbuka, dan jelaskan alasannya apabila sebuah usulan belum bisa dijalankan. Langkah kedua adalah membiasakan apresiasi secara rutin dan spesifik, bukan menunggu penilaian akhir tahun.

Perusahaan juga perlu mengatur beban kerja secara realistis dengan memantau kapasitas tiap orang dan melibatkan tim dalam menentukan tenggat. Selain itu, jabatan atasan sebaiknya disertai pelatihan kepemimpinan dan komunikasi, sebab keahlian teknis saja tidak otomatis menghasilkan pemimpin yang baik. Terakhir, lakukan stay interview, yakni percakapan berkala untuk menanyakan apa yang membuat karyawan bertahan dan apa yang mengganjal, sebelum surat pengunduran diri tiba di meja.

Kembali pada karyawan di awal tulisan ini. Ia pergi bukan karena gajinya kurang, melainkan karena merasa tidak didengar, tidak dihargai, dan terlalu lama dibebani. Cerita seperti ini terjadi di banyak tempat dan sering baru disadari ketika sudah terlambat. Gaji mungkin dapat membuat orang melamar, tetapi cara atasan memperlakukan mereka yang menentukan apakah mereka mau tinggal.