Minggu di Swiss, Hari Khusus Istirahat

Seorang perempuan dengan mimpi besar
Tulisan dari Dira Fabrian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hari Sabtu merupakan hari paling sibuk di Swiss bagi pegawai lajang seperti kami. Bukan kah hari Sabtu merupakan hari libur? Hari bersantai? Lalu mengapa kah?
Sebagaimana di banyak negara lainnya, hari Sabtu dan Minggu adalah hari libur di Swiss. Namun, berbeda dengan di Indonesia dan mayoritas negara Asia, toko, pusat perbelanjaan, tempat hiburan, dan bahkan sebagian restoran tutup di hari Minggu.
Mulanya, realita ini cukup sulit diterima bagi orang-orang seperti kami yang terbiasa dengan kehidupan di Jakarta, di mana mudah mencari keperluan kapan saja, di mana saja, dan pusat perbelanjaan ramai di hari Minggu. Tinggal di Swiss mengharuskan kami mengelola waktu dengan baik. Meskipun letih setelah bekerja selama seminggu, jika telur atau susu habis-atau membutuhkan jasa pencucian mobil-maka kegiatan-kegiatan tersebut harus dikerjakan di hari Sabtu.
Hari Minggu: Hari banyak larangan
Rupanya, tidak hanya kegiatan usaha yang tutup di Swiss pada hari Minggu. Ternyata, kegiatan pribadi yang bising dan dapat mengganggu ketenangan orang lain dilarang di hari Minggu. Termasuk dalam kegiatan yang dilarang adalah memangkas rumput, mendaur ulang (biasanya barang yang terbuat dari kaca dijatuhkan ke dalam sebuah kotak daur ulang khusus), dan bahkan menjemur baju di luar rumah/ apartemen (1).
Di beberapa komunitas, menggunakan mesin cuci dan mencuci mobil pun dapat berujung pada teguran dari tetangga.
Ada apa dengan hari Minggu?
Berdasarkan riset sederhana, ada tiga teori untuk menjelaskan suasana hari Minggu di Swiss:
Pengaruh agama-Swiss adalah negara yang mayoritas penduduknya beragama Kristen-37% Katolik dan 25% Protestan. Oleh sebab itu, tak heran jika banyak kegiatan, festival, dan tradisi lokal yang dipengaruhi oleh agama Kristen (2). Dalam hal ini, termasuk kegiatan di hari Minggu yang merupakan hari ke gereja.
Perlindungan bagi hak pekerja/ buruh - Dalam pasal 18 Undang-Undang Ketenagakerjaan di Swiss, disebutkan bahwa pegawai/ karyawan tidak boleh bekerja antara pukul 11 malam hari Sabtu dan 11 malam hari Minggu (3). Tentunya ada pengecualian dengan konsekuensi kompensasi bagi pegawai.
Biaya-Upah pekerja/ buruh di Swiss yang tinggi seringkali menyulitkan toko-toko kecil untuk menggaji pegawai di hari Minggu. Hal ini mengakibatkan adanya kesenjangan kapasitas dan 'perang distribusi' antara toko besar dengan toko kecil. Hal ini disinyalir sebagai penyebab ditolaknya usulan referendum mengenai perluasan hari dan jam buka toko (4).
Situasi terkini
Konon, heningnya hari Minggu di Swiss mengakibatkan banyak penduduknya pergi ke negara tetangga untuk berbelanja jika ada keperluan mendadak. Hal ini sangat kondusif dilakukan di kota seperti Jenewa, di mana perbatasan Swiss-Prancis dapat ditempuh dalam waktu 20 menit saja. Selain itu, pada masa pra-pandemi, tak sedikit penduduk (termasuk ekspatriat) yang pergi ke negara lain di akhir pekan untuk keluar dari sunyinya suasana di Swiss.
Menurut mereka yang sudah tinggal lebih dari 10 tahun di Swiss, keadaan saat ini sudah berubah. Toko swalayan dan beberapa toko lainnya di stasiun dan bandar udara buka di hari Minggu. Begitu pula dengan toko Asia dan toko swalayan di pom bensin. Hal ini memudahkan sekiranya terdapat keperluan belanja mendadak.
Selain itu, pasca terjadinya pandemi, pernah juga pusat perbelanjaan dibuka di suatu hari Minggu untuk membantu kegiatan usaha dan menggerakkan perekonomian.
Meskipun demikian, hari Minggu masih menjadi hari yang sangat tenang di Swiss. Walaupun awalnya merasa janggal, kini kami justru menikmati adanya hari yang tenang dan tidak digunakan untuk kegiatan komersial.
Lalu kegiatan apakah yang banyak dilakukan di hari Minggu? Jawabannya adalah mengunjungi kerabat/ teman, piknik, menikmati alam, atau... tidur!
