Alasan Mahasiswa Pilih Thrifting untuk Tampil Kekinian

Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Program Studi Akuntansi
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Fachri Pandari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tren fashion di kalangan anak muda terus berkembang. Salah satu kebiasaan yang semakin banyak dilakukan adalah membeli pakaian bekas atau yang biasa dikenal dengan istilah thrifting. Bagi sebagian mahasiswa, thrifting bukan hanya soal mencari pakaian dengan harga murah, tetapi juga menjadi cara untuk menemukan gaya berpakaian yang sesuai dengan karakter masing-masing.
Thrifting menawarkan berbagai jenis pakaian, mulai dari kaus, kemeja, jaket, celana, hingga aksesori. Barang yang tersedia juga biasanya memiliki model yang beragam, sehingga mahasiswa dapat menemukan pakaian yang berbeda dari produk yang banyak dijual di toko pakaian pada umumnya.
Harga menjadi salah satu alasan mahasiswa tertarik dengan thrifting. Sebagai mahasiswa yang perlu mengatur pengeluaran, membeli pakaian dengan harga yang lebih terjangkau dapat menjadi pilihan. Dengan anggaran yang sama, seseorang bahkan bisa mendapatkan beberapa pakaian sekaligus.
Selain harga, faktor keunikan juga membuat thrifting menarik. Tidak sedikit pakaian bekas yang memiliki model atau desain yang sudah jarang ditemukan di pasaran. Kondisi tersebut membuat sebagian anak muda merasa lebih bebas dalam membangun gaya berpakaian mereka.
“Kalau thrifting biasanya lebih murah dan modelnya juga banyak. Kadang bisa dapat barang yang bagus dan jarang dipakai orang lain,” ujar salah satu mahasiswa yang memiliki kebiasaan membeli pakaian thrift.
Bagi sebagian mahasiswa, mencari pakaian thrift juga memberikan pengalaman tersendiri. Mereka biasanya harus meluangkan waktu untuk memilih barang, memeriksa kondisi pakaian, serta menyesuaikannya dengan gaya yang diinginkan.
Media sosial turut berperan dalam berkembangnya tren tersebut. Berbagai konten mengenai outfit, rekomendasi tempat thrifting, hingga tips memadukan pakaian sering muncul di media sosial. Hal ini membuat mahasiswa lebih mudah mendapatkan inspirasi sebelum membeli atau menggunakan pakaian thrift.
Tren thrifting juga berkaitan dengan munculnya kesadaran sebagian anak muda untuk menggunakan kembali pakaian yang masih layak pakai. Daripada membeli pakaian baru setiap kali ingin mengikuti tren, membeli pakaian bekas dapat menjadi salah satu alternatif.
Meski begitu, membeli pakaian thrift tetap membutuhkan pertimbangan. Kondisi barang perlu diperiksa dengan teliti sebelum dibeli. Pembeli juga perlu memperhatikan kebersihan, ukuran, bahan, serta memastikan pakaian masih layak digunakan.
Pada akhirnya, thrifting bagi mahasiswa memiliki alasan yang beragam. Ada yang tertarik karena harganya lebih terjangkau, ada yang mencari model pakaian yang unik, dan ada pula yang ingin mencoba gaya berpakaian berbeda.
Fenomena ini menunjukkan bahwa fashion di kalangan mahasiswa tidak selalu harus mengikuti produk terbaru. Dengan kreativitas dalam memadukan pakaian, barang thrift pun dapat menjadi bagian dari gaya berpakaian sehari-hari.
