Konten dari Pengguna

Seberapa Dekat Mahasiswa dengan Isu Politik?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fachri Pandari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber ilustrasi: Dokumentasi penulis, dibuat menggunakan AI.
zoom-in-whitePerbesar
Sumber ilustrasi: Dokumentasi penulis, dibuat menggunakan AI.

Isu politik semakin mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari mahasiswa. Bukan hanya melalui pemberitaan televisi atau media online, informasi mengenai kebijakan pemerintah, aksi mahasiswa, hingga perkembangan politik kini juga muncul di media sosial seperti Instagram, TikTok, YouTube, dan X.

Kondisi tersebut membuat mahasiswa memiliki lebih banyak akses untuk mengikuti isu publik. Namun, kedekatan dengan informasi politik tidak selalu berarti mahasiswa terlibat langsung dalam kegiatan politik. Sebagian mahasiswa memilih mengikuti perkembangan isu melalui media sosial, sementara lainnya terlibat dalam diskusi, organisasi kampus, maupun aksi menyampaikan pendapat.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Electoral Governance mengenai pola bermedia Generasi Z menunjukkan bahwa media sosial menjadi salah satu tempat utama generasi tersebut mencari informasi politik. Penelitian tersebut melibatkan 802 responden Generasi Z dan wawancara mendalam terhadap 19 orang. Hasilnya menunjukkan bahwa informasi politik sering dikonsumsi secara insidental, tetapi responden tetap memperhatikan nilai keaslian, reputasi, dan kredibilitas informasi.

Bagi mahasiswa, media sosial juga menjadi ruang untuk menyampaikan pandangan terhadap isu yang sedang berkembang. Pada 2025, misalnya, sejumlah anak muda menggunakan media sosial untuk menyuarakan kritik terhadap kondisi sosial dan politik melalui berbagai unggahan dan diskusi digital. Aktivitas tersebut menunjukkan bahwa partisipasi politik tidak selalu dilakukan melalui kegiatan langsung di lapangan.

Keterlibatan mahasiswa dalam isu politik juga terlihat dari berbagai kegiatan dan aksi yang berlangsung pada 2026. Pada Juni 2026, mahasiswa dari sejumlah universitas melakukan aksi di depan Gedung DPR RI dengan membawa tuntutan terkait berbagai persoalan nasional. DPR kemudian menerima aspirasi mahasiswa tersebut untuk disampaikan kepada pemerintah.

Selain aksi langsung, perhatian terhadap literasi politik di kalangan mahasiswa juga menjadi perhatian penyelenggara pemilu. Dalam kegiatan Bawaslu Campus Connect di Universitas Negeri Jakarta pada Juli 2026, Bawaslu mendorong mahasiswa untuk tidak hanya menjadi pengguna media sosial, tetapi juga berperan dalam meningkatkan literasi digital, menangkal hoaks, dan ikut mengawasi proses demokrasi.

Hal ini menjadi penting karena derasnya informasi politik di media sosial juga membawa tantangan tersendiri. Informasi yang beredar tidak selalu disertai konteks yang lengkap dan dapat bercampur dengan informasi yang belum terverifikasi. Karena itu, kemampuan memeriksa sumber dan membandingkan informasi menjadi bagian penting dalam mengikuti isu politik.

Pada akhirnya, kedekatan mahasiswa dengan politik tidak hanya dapat dilihat dari apakah mereka mengikuti pemilu atau terlibat dalam aksi. Membaca berita, mengikuti kebijakan publik, berdiskusi, menyampaikan pendapat, hingga memeriksa kebenaran informasi politik juga menjadi bentuk keterlibatan dalam kehidupan demokrasi.

Bagi mahasiswa, mengikuti isu politik bukan berarti harus terlibat dalam politik praktis. Yang tidak kalah penting adalah memahami informasi yang diterima, melihat berbagai sudut pandang, dan membentuk pendapat berdasarkan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.