Ada Pria Ngamen di Mikrotrans di Kampung Melayu, Transjakarta: Tak Boleh

Seorang pria yang diduga pengamen terekam bernyanyi di dalam armada Mikrotrans di sekitar Terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur. Pria tersebut terlihat berada di dekat pintu kendaraan sambil bernyanyi dan menerima uang dari penumpang.
Video tersebut diunggah seorang warga melalui Threads pada Rabu (30/9) sekitar pukul 16.28 WIB. Dalam unggahan yang kemudian mendapat perhatian publik itu, pria tersebut terlihat jongkok di dalam armada Mikrotrans.
Unggahan tersebut turut memunculkan respons dari warganet. Sejumlah pengguna media sosial menyoroti aktivitas mengamen di transportasi umum yang dinilai dapat mengganggu kenyamanan penumpang.
Ada pula warganet yang menyinggung kondisi fasilitas Mikrotrans, termasuk pintu yang disebut tidak lagi tertutup dan AC yang tidak menyala.
Laporan mengenai kejadian tersebut kemudian mendapat respons dari Transjakarta.
Kepala Departemen Humas dan CSR Transjakarta Ayu Wardhani menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang dialami pelanggan terkait adanya pengamen di layanan Mikrotrans.
"PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) memohon maaf atas ketidaknyamanan yang dialami oleh pelanggan terkait adanya pengamen pada layanan Mikrotrans," kata Ayu dalam keterangannya.
Ayu menegaskan bahwa aktivitas mengamen, meminta sumbangan, maupun berjualan dilarang di dalam armada Transjakarta, termasuk Mikrotrans dan area halte.
"Aktivitas mengamen, meminta sumbangan, maupun jualan dalam bentuk apa pun secara tegas dilarang keras di dalam armada Bus, dan Mikrotrans maupun di seluruh area halte Transjakarta," ujarnya.
Transjakarta juga mengingatkan pelanggan mengenai sistem pembayaran yang berlaku di layanan Mikrotrans. Setiap pelanggan tetap diwajibkan melakukan tap in dan tap out menggunakan Kartu Uang Elektronik (KUE) saat naik dan turun Mikrotrans.
Kewajiban tersebut tetap berlaku meskipun tarif Mikrotrans saat ini Rp 0. Ayu mengatakan Mikrotrans hanya berhenti di bus stop untuk menaikkan dan menurunkan pelanggan.
"Laporan ini menjadi perhatian serius bagi kami, agar ke depan tidak ada aktivitas serupa di layanan Transjakarta," kata Ayu.
