Alasan Menkes Usul Pasien TBC Dapat MBG: Gizi Cukup Bisa Percepat Pemulihan

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin usai Peluncuran Komisi The Lancet Regional Health - Western Pacific di Kementerian Kesehatan, Jakarta, Senin (22/6). Foto: Aditya Nugraha/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin usai Peluncuran Komisi The Lancet Regional Health - Western Pacific di Kementerian Kesehatan, Jakarta, Senin (22/6). Foto: Aditya Nugraha/kumparan

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan alasannya mengusulkan sasaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga mencakup pasien tuberkulosis (TBC).

Budi menjelaskan, pasien TBC membutuhkan asupan gizi tambahan selama masa pengobatan yang bisa berlangsung 6 hingga 12 bulan. Kondisi tersebut dinilai berpengaruh langsung terhadap daya tahan tubuh dan proses pemulihan pasien.

“Dari hasil penelitian jurnal-jurnal internasional dan sudah diterapkan juga di India dan China, orang yang penderita TBC diobati kan selama 6 bulan sampai 12 bulan,” ungkap Budi di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (23/6).

“Itu daya tahan kondisi fisiknya itu lemah, sehingga kalau dia bisa mendapatkan asupan gizi yang cukup atau sedikit lebih, itu akan memperkuat dan mempercepat pemulihannya. Dan itu menyelamatkan nyawa, karena TBC itu kan mematikan kan, setahunnya 126 ribuan. Jadi kita ngomong 5 menit yang meninggal 2, di Indonesia TBC,” lanjutnya.

Ia menambahkan, terdapat empat kelompok utama yang dinilai paling rentan terhadap kekurangan gizi dan perlu menjadi prioritas intervensi program MBG.

“Itu sebabnya kemarin saya bicara dengan Ibu Nanik (Kepala BGN Nanik S. Deyang) kan ingin meningkatkan, memfokuskan penyaluran MBG targetnya ke siapa aja. Dia nanya ke saya kan, saya bilang, Bu, MBG itu sangat membantu saya memecahkan masalah kesehatan,” tutur Budi.

“Nah, saya bilang ada empat sebenarnya yang dari sisi kesehatan rawan untuk masalah kekurangan gizi. Satu adalah ibu hamil, dua adalah ibu menyusui, tiga adalah balita di bawah 5 tahun, kemudian empat adalah orang yang terkena TBC,” sambungnya.

Menurut Budi, pemenuhan gizi pada kelompok tersebut dapat memberikan dampak signifikan terhadap penurunan masalah kesehatan nasional, termasuk stunting dan angka kematian akibat TBC.

“Kalau empat target ini kecukupan gizinya dipenuhi, masalah kesehatan kita akan turun drastis. Buktinya, itu bisa, sudah ada di jurnal-jurnal internasional,” ucapnya.

Ia juga menjelaskan usulan perluasan penerima MBG tersebut telah dibahas pihak BGN.

“Semua program kan nggak langsung jalan sempurna ya. Yang penting buat saya adalah ke depannya ini bisa lebih bagus lagi dan beliau (Nanik) sangat terbuka walaupun memang belum masuk itu ada di sana ya, belum ada,” kata Budi.

“Karena yang di-cover kan hanya usia sekolah saja. Tapi saya rasa kalau itu bisa dimasukkan, itu sangat bagus. Terutama balita, stunting itu kan masalah kita besar, dan stunting itu disebabkan juga karena pada saat ibunya hamil atau menyusui itu kekurangan gizi juga,” tambah dia.

Terkait target implementasi, Budi menyebut usulan tersebut masih dalam tahap pembahasan awal.

“Ah belum, karena kita baru diskusi dengan Ibu (Nanik) ya,” kata dia.

Sebelumnya, Budi mengusulkan agar Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya menyasar anak sekolah, tetapi juga difokuskan kepada ibu hamil, ibu menyusui, balita, dan pengidap tuberkulosis (TBC).

Menurut Budi, kelompok tersebut merupakan sasaran yang paling membutuhkan intervensi gizi karena berpengaruh langsung terhadap kualitas kesehatan masyarakat, termasuk upaya menekan angka stunting dan meningkatkan angka kesembuhan pasien TBC.

“Jadi justru yang belum masuk sekolah, itu adalah golden period, bahwa gizinya mesti terpenuhi,” kata Budi di Kementerian Kesehatan, Jakarta, Senin (22/6).