Bahlil Sebut Golkar Tak Dimiliki Trah Tertentu: Siapa Pun Mau Jadi Ketum, Boleh

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ketua Umum DPP Partai Golkar, Bahlil Lahadalia menghadiri Pelantikan Pengurus DPD Partai Golkar Wilayah Bali, Sabtu (3/10). Foto: Sandra Gisela/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ketua Umum DPP Partai Golkar, Bahlil Lahadalia menghadiri Pelantikan Pengurus DPD Partai Golkar Wilayah Bali, Sabtu (3/10). Foto: Sandra Gisela/kumparan

Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, mengatakan bahwa Partai Golkar adalah partai yang terbuka dan tidak dimiliki oleh keluarga atau perusahaan tertentu. Hal tersebut disampaikannya saat Pelantikan Pengurus DPD Partai Golkar Wilayah Bali, Sabtu (3/10).

"Siapa pun yang mau menjadi Ketua Umum Partai Golkar, boleh. Tidak perlu minta izin ke trah A, trah B, trah C. Kita semua mempunyai trah yang sama dengan kedudukan yang sama," ungkap Bahlil.

Bahlil mengungkap, Partai Golkar merupakan partai dengan proses kelahiran yang berbeda dengan partai lainnya. Menurutnya, Partai Golkar dilahirkan oleh Soekarno dengan gagasan-gagasan awal yang dimilikinya. Gagasan tersebut terbentuk dari dua masalah.

Pertama adalah stabilitas setelah Pemilu tahun 1955 yang tidak kondusif. Pada masa tersebut, laju inflasi Indonesia mencapai 650 persen, lapangan pekerjaan sulit didapatkan, dan banyak persoalan.

Kedua, adanya keinginan kelompok tertentu yang ingin mengubah ideologi Pancasila menjadi komunis. Saat itu, berkumpullah tokoh-tokoh untuk mendirikan Sekretariat Bersama Golongan Karya (Sekber Golkar).

"Jadi saya ingin mengatakan bahwa Partai Golkar tidak dilahirkan oleh satu kelompok masyarakat tertentu, apalagi keluarga tertentu," kata Bahlil.

Bahlil mengeklaim setiap anggota Partai Golkar memiliki hak dan kedudukan yang sama di mata Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD-ART) partai.

"Partai Golkar adalah salah satu partai terbuka dari sekian banyak partai yang ada di Indonesia. Ini kira-kira yang membedakan partai kita," ucapnya.

Selain itu, Bahlil juga mengatakan bahwa dalam sejarahnya, Golkar banyak melahirkan partai-partai lainnya. Dia menyebut Partai Demokrat, Partai Hanura, Partai Nasdem, dan Partai Gerindra sebagai partai yang lahir dari Golkar.

"Golkar itu kader-kadernya sudah terlalu banyak. Tidak hanya pindah partai, sampai melahirkan partai. Apakah kita marah? Tidak, karena dalam pandangan Golkar, partai-partai itu satu rumah dengan Golkar, cuma beda kamar," jelasnya.