BNPB Ungkap 1.410 Ha Lahan Masih Terbakar, Paling Banyak di Papua Selatan

Kapusdatin BNPB Berton SP Panjaitan mengungkapkan penanganan karhutla di Indonesia belum selesai. Ia mengatakan masih ada 1.410 lahan yang terbakar.
Dalam konferensi pers yang disampaikan Berton pada Jumat (30/10) sore, karhutla terbanyak saat ini terjadi di Papua Selatan dengan total luas mencapai 502 hektare.
"Jumlah lahan terbakar yang berada saat ini sebesar 1.410 hektare. Berada di Papua Selatan 502 hektare, Sulawesi Tengah 295 hektare, Sulawesi Tenggara 257 hektare, Maluku 182 hektare, Kaltim 174 hektare," kata Berton dalam konferensi pers di YouTube BNPB Indonesia.
Dalam penanganan karhutla, armada udara terus dikerahkan. Total armada udara mencapai 58 unit. Rinciannya 23 untuk patroli hingga operasi modifikasi cuaca (OMC), sedangkan 35 lainnya untuk water bombing.
Penempatan armada udara terbanyak masih di 6 wilayah prioritas yakni Kalsel (13 unit), Kalteng (11 unit), Sumsel (11 unit), Kalbar (9 unit), Jambi (5 unit) dan Riau (4 unit). Sedangkan di luar wilayah tersebut jumlah armada udara yang dikerahkan yakni Lampung (2 unit), Jatim (1 unit), Kaltim (1 unit), Papua Selatan (1 unit) dan Papua Barat Daya (1 unit).
OMC Turunkan Hujan
Dalam penanganan karhutla OMC masih dilakukan di sejumlah lokasi. Hasilnya hujan ringan hingga sedang turun di Kalteng, yakni Seruyan, Lamandau, Katingan, Kotawaringinn Timur, Sukamara, Gunung Mas, Murung Raya, dan Barito.
Sedangkan di Kalsel hujan intensitas ringan hingga sedang turun di Tapian dan Hulu Sungai Selatan. Kemudian hujan sangat ringan hingga ekstrem dilaporkan turun di Palembang, Musi Banyuasin, OKI, hingga hampir di seluruh Sumsel.
Kondisi Karhutla di Kaltim
Berton menuturkan, khusus Kaltim, masih terdapat 27 titik api. Karhutla terluas terjadi di Kutai Kartanegara yakni 76,5 hektare dengan jumlah titik api sebanyak 11 titik.
Di Kaltim BNPB juga menemukan masih tercatat kualitas udara buruk.
"Kualitas udara secara umum berada di kategori sedang namun di Sendawar dan 3 titik pemantauan kami di IKN ada kualitas udara yang tidak sehat," ujar Berton.
Maka itu, BNPB masih mengimbau masyarakat sekitar untuk tetap menggunakan masker. Selain itu juga membatasi diri untuk beraktivitas di luar ruang.
"Kami tetap mengimbau masyarakat menggunakan masker dan membatasi aktivitas di luar sehingga memproteksi diri dari ancaman abu ataupun asap dari api tersebut terutama kelompok rentan. Meski titip api sudah berkurang kewaspadaan tetap ditingkatkan mengingat sumber air yang masih kering, karakteristik lahan gambut, angin bisa mempengaruhi kecepatan pembakaran serta akses yang sulit dijangkau," tuturnya.
