Dugaan Penyelewengan Dana Donasi Humanity Care, Eks Relawan Kumpulkan Bukti

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 7 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Donasi. Foto: Fresh Stocks/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Donasi. Foto: Fresh Stocks/Shutterstock

Beredar di media sosial Threads, dugaan penipuan donasi yang dilakukan komunitas sosial Humanity Care (HC). Dugaan tersebut mencuat setelah warganet menyoroti laporan pertanggungjawaban (LPJ) penggunaan dana donasi yang dinilai janggal.

Donasi yang dihimpun Humanity Care diketahui digunakan untuk membantu korban bencana hingga mendukung logistik dari peserta aksi demonstrasi. Penggalangan dana tersebut dilakukan dengan tajuk “Donasi Warga THREADS, Bantu Warga INDONESIA”.

Dalam unggahannya, Humanity Care mempublikasikan LPJ donasi, di antaranya untuk korban gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 25 Agustus-16 Oktober 2026, aksi demonstrasi masyarakat Pati pada 21-27 Agustus 2026, serta aksi demonstrasi pada 20-22 Oktober 2026 di Jakarta, Bandung, Bali, dan Yogyakarta.

Namun, sejumlah warganet mempertanyakan perhitungan dan penggunaan dana yang tercantum dalam LPJ tersebut. Mereka menilai terdapat sejumlah kejanggalan dalam laporan yang disampaikan komunitas itu kepada para donatur.

Menanggapi polemik tersebut, Faridh, yang menjadi penghubung eks relawan Humanity Care, mengatakan sejumlah mantan relawan tengah mengumpulkan bukti untuk menindaklanjuti dugaan penyelewengan dana tersebut.

Faridh menyebut, ada rencana untuk membawa persoalan ini ke ranah hukum. Namun, pihaknya masih mengumpulkan bukti transfer dan menjalin komunikasi dengan mantan relawan yang bersedia memberikan keterangan.

“Ada langkah tersebut, kami ingin mengumpulkan banyak bukti dari eks humanity. Karena relawan ini pada ketakutan juga kasus ini mencuat dan mereka tidak tahu kalau founder-nya bermasalah,” kata Faridh saat dihubungi kumparan, Sabtu (31/10).

Ia mengatakan, waktu pelaporan ke polisi belum dapat dipastikan karena masih menunggu bukti-bukti yang dikumpulkan dari para mantan relawan.

“Untuk waktunya masih menunggu bukti transferan dan kerja sama relawan yang pernah di HC terkumpul dulu. Saya belum bisa memastikan,” ujarnya.

Sejauh ini, Faridh mengaku telah memperoleh sejumlah informasi mengenai rekening yang digunakan untuk menerima transfer donasi sebelum dana tersebut dialihkan ke rekening seseorang bernama Chandra.

Selain itu, ia menerima pengakuan dari relawan yang bertugas di lapangan mengenai dugaan permintaan untuk menjual sejumlah barang hasil donasi, mulai dari minuman, alat kesehatan, hingga barang pemberian merek tertentu.

“Baru rekening yang digunakan untuk transfer sebelum di oper ke rekening Chandra, pengakuan relawanan di lapangan yang bertugas diminta menjual hasil donasi berupa minuman, alat kesehatan, barang dari brand. Yang alkes dijual ke instansi terkait dan ini sangat sensitif perlu saya dalami tapi dari relawan tersebut juga saya dapat foto Chandra sama kepala instansi terkait,” ungkap Faridh.

Faridh mengatakan, pihaknya masih mendalami informasi tersebut, termasuk menelusuri rekening-rekening yang diduga digunakan dalam pengelolaan dana donasi.

Eks Relawan Mengaku Tak Mengetahui Pengelolaan Dana

Ilustrasi donasi online. Foto: Shutter Stock

Faridh menyebut, jumlah donatur yang bersedia ikut melaporkan persoalan ini juga belum banyak terkumpul. Sejauh ini, informasi yang diterimanya lebih banyak berasal dari mantan relawan Humanity Care.

Menurutnya, sejumlah mantan relawan masih menunggu LPJ yang sebelumnya dijanjikan akan diperbaiki.

Namun, Faridh meragukan laporan tersebut dapat menggambarkan penggunaan dana secara rinci apabila penyusunannya masih melibatkan pihak yang selama ini mengelola keuangan komunitas.

“Saya coba hubungi satu persatu pihak eks HC untuk tau jumlah kebenaran nominal donasi tapi semua jawaban sama mereka tidak tahu karena Chandra yang megang keuangan dan mendistribusikannya ke relawan,” tuturnya.

Ia juga mengungkapkan, pihak yang menyusun LPJ disebut mengaku mendapat arahan dari founder Humanity Care, yang diketahui bernama Chandra, untuk membuat laporan dengan format seperti yang telah dipublikasikan. Padahal, menurut Faridh, penyusun LPJ tersebut mengaku sebenarnya dapat membuat laporan yang lebih terperinci.

Selain persoalan laporan keuangan, Faridh turut menyoroti sejumlah komponen pengeluaran yang tercantum dalam LPJ, khususnya biaya penyewaan kendaraan dan mobil toilet.

Ia menyebut, berdasarkan informasi yang diterimanya, mobil yang dalam LPJ disebut disewa selama 40 hari ternyata tidak digunakan selama periode tersebut.

“Mobil dipakai gak sampai sebulan,” tuturnya.

Faridh juga mempertanyakan nominal biaya penyewaan kendaraan yang disebutnya tidak mencapai Rp 1,5 juta. Menurutnya, persoalan tersebut sempat ramai setelah pemilik rental ikut memberikan komentar.

Sementara itu, terkait mobil toilet, Faridh mengatakan nominal sewanya juga dipertanyakan karena disebut tidak mencapai Rp 7 juta dan penggunaannya tidak berlangsung hingga sore hari.

Faridh menambahkan, sejumlah mantan relawan lainnya, yakni Ajeng, Iqbal, dan Hans, disebut bersedia menjadi saksi apabila persoalan ini berlanjut ke proses hukum.

Namun, ia mengakui masih ada mantan relawan yang belum berani menyampaikan keterangan secara terbuka karena khawatir ikut terkena dampak dari polemik tersebut.

“Masih banyak yang belum speak up dari relawan HC karena takut mereka terkena imbas nya tapi setelah gw tanya semua jawaban sama mereka nggak tau soal dana karena di pegang Chandra sama Glorya (Istri),” katanya.

Pengunggah Awal Polemik Juga Kumpulkan Bukti

Sementara itu, akun Threads @dr.ferrykslg yang pertama kali menyoroti persoalan Humanity Care mengatakan, sejumlah pihak saat ini tengah mengumpulkan bukti untuk menindaklanjuti dugaan tersebut.

Ia menyebut, berdasarkan informasi terakhir yang diterimanya, sudah ada pengacara yang bersedia membantu proses pendampingan hukum secara cuma-cuma atau probono.

“Untuk pelaporan sepengetahuan saya teman-teman sedang mengumpulkan bukti dan dari info terakhir sudah ada lawyer yang bersedia bantu secara probono,” kata pemilik akun @dr.ferrykslg saat dikonfirmasi.

Meski demikian, ia menegaskan tidak akan menjadi pihak yang melaporkan kasus tersebut secara langsung. Ia mengaku hanya merasa memiliki tanggung jawab moral karena sebelumnya beberapa kali membagikan unggahan dan merekomendasikan Humanity Care kepada warganet.

“Kalau saya sendiri tidak akan menjadi pelapor. Saya hanya sebagai pihak yang merasa punya beban moral karena beberapa kali me-repost dan beberapa kali menyarankan HC,” ujarnya.

instagram embed

Klarifikasi Humanity Care

kumparan telah mencoba menghubungi Humanity Care melalui kontak yang tertera untuk meminta penjelasan mengenai dugaan kejanggalan dalam LPJ serta tudingan yang disampaikan sejumlah mantan relawan dan warganet.

Pihak Humanity Care menyampaikan bahwa mereka tengah menyusun ulang laporan pertanggungjawaban bersama akuntan publik.

“Kami sedang melakukan penyusunan LPJ kembali bersama akuntan publik,” demikian keterangan Humanity Care kepada kumparan, Sabtu (31/10).

Sebelumnya, melalui akun media sosial Threads pada Selasa (27/10), Humanity Care juga sempat menyampaikan permohonan maaf atas polemik yang berkembang.

Dalam unggahannya, mereka menyatakan tengah melakukan pembenahan dan akan melibatkan auditor eksternal untuk membantu proses pemeriksaan. Berikut lengkapnya:

“Merespon kegaduhan di Threads, kami memohon maaf sebesar besarnya dan kami sedang memperbaiki segala hal dan trimakasih atas semua masukan dan kritik yang tujuan nya baik dan positif.

Kami juga sedang menghire auditor eksternal untuk membantu kami….

Kami tetap mempertanggung jawabkan dan tidak akan melepas tanggung jawab begitu saja….”

kumparan Datangi Lokasi yang Diduga Jadi Operasional Humanity Care

Selain meminta keterangan dari pihak-pihak terkait, kumparan juga mendatangi lokasi yang diduga menjadi tempat operasional komunitas Humanity Care.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, lokasi tersebut berada di Perumahan Citra Indah City, Cluster Bukit Gardenia, Jonggol, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Namun, saat kumparan mendatangi lokasi tersebut, tidak terlihat adanya aktivitas dari rumah atau bangunan yang diduga berkaitan dengan operasional Humanity Care.

Salah seorang warga sekitar yang tidak ingin disebutkan identitasnya mengatakan, sosok Chandra yang diduga merupakan founder Humanity Care memang jarang terlihat berada di rumah.

Menurut warga tersebut, Chandra biasanya pulang pada malam hari, bahkan terkadang hingga sekitar pukul 01.00 WIB.

“Pak Chandra pulang selalu malam, kadang jam 1 malam, paling enggak di atas jam 9 malam. Jarang di rumah sih, emang selalu kosong,” kata warga tersebut saat berbincang dengan kumparan.

Warga itu juga mengaku beberapa kali melihat pengiriman barang dalam jumlah banyak ke rumah tersebut. Salah satunya ketika terjadi bencana gempa di NTT, saat sejumlah kurir mengantarkan barang yang disebut-sebut berkaitan dengan kebutuhan donasi.

“Sering ada barang yang datang, terakhir kemarin waktu gempa NTT, banyak kurir yang datang. Mobil Lalamove isinya kayak pampers gitu-gitu. Bisa dua dus, delapan dus. Kalau ada dia, langsung diantar ke rumah, tapi kalau enggak ada, ditaruh di pos sampai penuh pos. Kalau kata kurir yang antar sih memang buat donasi gitu,” ujarnya.

Warga tersebut mengaku tidak pernah melihat kegiatan relawan berlangsung di rumah itu. Menurutnya, selama sekitar empat bulan terakhir rumah tersebut dikontrak, aktivitas yang terlihat lebih banyak berupa pengiriman paket.

“Enggak pernah sih ada kegiatan relawan gitu, cuma dia doang di rumah. Selama dia baru ngontrak di sini emang suka ada kurir antar paket,” tuturnya.

Warga juga menyebut Chandra beberapa kali terlihat bepergian ke luar kota ketika terjadi bencana. Namun, ia tidak mengetahui secara pasti aktivitas maupun pekerjaan Chandra.

“Kerja atau enggak sih kurang tahu ya, tapi emang selalu pulang malam. Kemarin-kemarin waktu ada bencana sering keluar kota, ngasihin donasi kayaknya,” katanya.