Hari Ketiga Pencarian 5 Wartawan yang Hilang, Polri Sisir Perairan Selat Sunda

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Polri kerahkan KP Sanjaya-7017 dan libatkan salah satu istri dari 5 wartawan hilang. Foto: Dok. Polri
zoom-in-whitePerbesar
Polri kerahkan KP Sanjaya-7017 dan libatkan salah satu istri dari 5 wartawan hilang. Foto: Dok. Polri

Polri kembali mengerahkan KP Sanjaya-7017 pada hari ketiga pencarian rombongan wartawan yang hilang di Selat Sunda saat meliput Gunung Anak Krakatau, Kamis (10/9). Rombongan yang terdiri dari lima wartawan, dua kru kapal, dan satu guide itu hilang kontak sejak Senin (7/9).

Polri menurunkan 59 personel dalam operasi SAR gabungan tersebut. Tim dipimpin langsung Dirpolairud Polda Banten Kombes Pol Eko Hartanto.

Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Pol Trunoyudo Wisnu Andiko mengatakan, pencarian dilakukan dengan memperluas penyisiran di sejumlah sektor perairan.

"Memasuki hari ketiga, Polri terus mengoptimalkan pencarian delapan orang yang masih dalam pencarian setelah KM Arupadatu 1 hilang kontak," ujar Trunoyudo dalam keterangan yang diterima kumparan pada Kamis (10/9).

KP Sanjaya-7017 telah dikerahkan sejak hari kedua pencarian. Pada Kamis pagi, personel terlebih dahulu melakukan briefing sebelum kapal bergerak sekitar pukul 08.00 WIB menuju perairan sekitar Gunung Anak Krakatau bersama KN SAR Tetuka.

KP Sanjaya-7017 membawa 36 personel yang terdiri dari 27 awak kapal, 5 personel Ditpolairud Polda Banten, 2 personel Basarnas, dan 2 awak media. Sementara KN SAR Tetuka juga didukung oleh 3 personel Ditpolairud Polda Banten dalam pencarian.

Kapal Polisi KP. Bharata 8004 (kanan) dan KP. Sanjaya-7017 (kiri) berada di dermaga Mako Korpolairud Baharkam Polri, Jakarta, Selasa (1/12/2020). Foto: Muhammad Adimaja/ANTARA FOTO

Pada hari ketiga, Basarnas Banten membagi wilayah pencarian menjadi enam sektor dengan total luas 2.483 nautical mile square (NM²).

KP Sanjaya-7017 melakukan penyisiran di sektor B yang terbagi menjadi delapan subsektor, yakni B1 hingga B8. Sementara KN SAR Tetuka menyisir sektor C yang juga terbagi menjadi delapan subsektor, C1 hingga C8.

"Pencarian dilakukan secara sistematis berdasarkan sektor dan koordinat dengan mempertimbangkan posisi terakhir kapal, arah angin, arus, gelombang, cuaca dan perkembangan informasi di lapangan. Setiap unsur bekerja sesuai kemampuan masing-masing dan saling memperkuat dalam satu operasi SAR gabungan," jelas Trunoyudo.

Petugas dalam penyisiran mencari sejumlah petunjuk yang dapat membantu menemukan KM Arupadatu 1. Di antaranya keberadaan korban, bagian kapal, perlengkapan keselamatan, maupun benda lain yang dapat menunjukkan posisi kapal.

Operasi SAR hari ketiga melibatkan lebih dari 280 personel gabungan. Mereka berasal dari Polri, Basarnas, TNI, Bakamla, KSOP, BPBD, unsur kewilayahan, potensi SAR, nelayan, masyarakat, media, dan keluarga korban.

Pencarian dilakukan di tengah kondisi cuaca yang menjadi tantangan bagi tim SAR. Wilayah operasi dilaporkan berawan tebal hingga berkabut, dengan angin sekitar 15 knot dan gelombang yang di sejumlah area mencapai 2,5 hingga 4 meter.

Selain kondisi cuaca, petugas juga memperhitungkan perubahan arus dan aktivitas Gunung Anak Krakatau dalam menentukan pergerakan kapal selama pencarian.

Trunoyudo mengatakan Polri bersama unsur SAR lainnya akan terus melakukan pencarian dengan tetap memperhatikan keselamatan petugas di lapangan.

"Kami memahami ada keluarga yang menunggu kepastian. Karena itu, pencarian akan terus dilakukan secara maksimal, terukur dan terpadu dengan tetap memperhatikan keselamatan seluruh personel yang berada di lapangan,” ujar dia.

Selain pencarian, Polri juga menyelidiki penyebab KM Arupadatu 1 hilang kontak. Subditgakkum Ditpolairud Polda Banten telah meminta keterangan sejumlah pihak, termasuk pemilik kapal, pekerja galangan kapal, serta pihak yang berkaitan dengan proses docking dan perbaikan kapal.

Polri mengimbau masyarakat, nelayan, maupun pihak lain yang memiliki informasi terkait keberadaan KM Arupadatu 1 atau delapan orang tersebut untuk segera melapor kepada Basarnas, Polri, atau aparat berwenang.

"Kami mengajak masyarakat untuk membantu melalui koordinasi dengan petugas. Jika memiliki informasi, segera sampaikan kepada Basarnas, Polri atau aparat berwenang. Jangan mengambil tindakan sendiri, karena kondisi laut dan kawasan Gunung Anak Krakatau memiliki risiko yang harus diperhitungkan,” tutupnya.