Kekeringan Bisa Sampai November, Pulau Jawa Paling Banyak Terdampak

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi kekeringan di Meksiko. Foto: ALEX ARZAGA/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kekeringan di Meksiko. Foto: ALEX ARZAGA/AFP

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut Pulau Jawa menjadi wilayah yang paling banyak terdampak kekeringan berdasarkan pemetaan kondisi kekeringan dalam beberapa periode terakhir.

Plt Kapusdatin BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan kekeringan merupakan bencana yang dapat berlangsung cukup panjang. Berdasarkan data historis 2015-2025, periode kekeringan umumnya berlangsung mulai Mei hingga November atau bahkan Desember.

“Data ini menunjukkan bahwa sesungguhnya kekeringan tersebut dimulai pada bulan Mei bisa sampai November tahun berjalan. Jadi bencana kekeringan ini menunjukkan tren yang cukup panjang,” kata Berton saat memaparkan perkembangan penanganan bencana di Gedung Graha BNPB, Jakarta, Selasa (15/9).

Menurut Berton, puncak kekeringan dalam data historis tersebut terjadi pada Juli dan September. Kondisi ini dipengaruhi berkurangnya ketersediaan air akibat curah hujan yang rendah atau tidak merata.

Berton menyebut kekeringan dapat berdampak terhadap berbagai sektor, mulai dari ketersediaan air bersih, produksi pertanian, hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

“Ini juga bisa mengganggu produksi pertanian, penurunan ketersediaan air bersih, meningkatkan risiko kebakaran, hingga ancaman terhadap ketahanan pangan serta kesehatan masyarakat,” ujarnya.

Berdasarkan pemetaan BNPB, wilayah yang masuk daftar kabupaten/kota dengan tingkat kekeringan tinggi tahun ini didominasi daerah di Pulau Jawa.

Meski demikian, kekeringan juga ditemukan di sejumlah wilayah lain, seperti Kalimantan Utara, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur.

Selain itu, kondisi kekeringan juga tercatat di sejumlah wilayah Sulawesi, Papua, Maluku, hingga Aceh.

“10 kabupaten/kota tertinggi kekeringan di tahun ini kita lihat didominasi di kabupaten-kabupaten di Jawa, kemudian ada di Kalimantan, baik Kalimantan Utara, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, maupun Kalimantan Timur,” kata Berton.

Pada pemetaan dua dasarian atau periode 20 hari terakhir, BNPB kembali menemukan kekeringan yang didominasi kabupaten-kabupaten di Pulau Jawa.

Kondisi serupa juga terlihat di Kalimantan Barat bagian timur, sebagian Kalimantan Tengah, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Papua bagian Merauke, Sumatera bagian selatan, serta Bangka Belitung.

Warga Diminta Hemat Air

Plt Kapusdatin BNPB Berton SP Panjaitan (kiri) dan Plt Dirjen Perkebunan Kementan Heru Tri Widarto (kanan) saat memberikan keterangan pers Perkembangan Karhutla di Indonesia di Gedung Graha BNPB, Jakarta, Selasa (15/9/2026). Foto: Nauval Pratama/kumparan

Untuk mengantisipasi kekeringan, BNPB bersama pemerintah melakukan sejumlah langkah mitigasi, mulai dari optimalisasi cadangan air hingga pembangunan infrastruktur penyimpanan air.

Berton menyebut upaya tersebut dilakukan melalui operasi modifikasi cuaca (OMC), pengisian embung, danau, waduk, serta tempat penampungan air lainnya.

“Fokus kami adalah pembangunan sumur dalam, dan BNPB sudah melakukan beberapa pembangunan sumur dalam,” ujarnya.

Selain itu, pemerintah juga memperkuat kapasitas daerah dengan menyediakan sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk menyimpan air maupun menangani dampak kekeringan.

Berton juga meminta masyarakat menjaga sumber mata air dan tidak mengeksploitasinya secara berlebihan.

Masyarakat yang berada di wilayah terdampak kekeringan diminta menggunakan air secara bijak dengan memprioritaskan kebutuhan penting, seperti minum, memasak, dan sanitasi.

“Kurangi pemakaian air yang berlebihan dan matikan keran air jika tidak diperlukan,” kata Berton.

Warga juga dapat menggunakan kembali air bekas yang tidak mengandung bahan kimia keras, seperti air cucian beras, sayuran, atau bilasan pakaian untuk kebutuhan lain.

BNPB turut mengimbau masyarakat yang mengalami kekurangan air untuk melaporkan kondisi tersebut dan meminta bantuan distribusi air bersih kepada pihak berwenang.