Kematian Eks Istri Polisi: Polda Sumut Ungkap Alasan Tak Perlu Ekshumasi

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Irwasda Polda Sumut, Kombes Pol Nanang Masbudi (tengah) dan Komisioner Kompolnas, Choirul Anam (kanan) saat konferensi pers di Polrestabes Medan, Rabu (23/9/2026). Foto: Amar Marpaung/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Irwasda Polda Sumut, Kombes Pol Nanang Masbudi (tengah) dan Komisioner Kompolnas, Choirul Anam (kanan) saat konferensi pers di Polrestabes Medan, Rabu (23/9/2026). Foto: Amar Marpaung/kumparan

Irwasda Polda Sumut, Kombes Pol Nanang Masbudi, menjelaskan ekshumasi tidak perlu dilakukan terhadap jenazah Winda Lorenza Gowasa, mantan istri polisi berpangkat Brigadir ISH.

"Tidak perlu (ekshumasi)," kata Nanang saat konferensi pers di Polrestabes Medan, Rabu (23/9).

Sebelumnya, penasihat hukum Winda, Utreck Richardo Siringoringo, mengatakan keluarga meminta jenazah Winda diautopsi kembali dan meminta penyelidikan dilakukan secara transparan.

Namun, menurut Nanang kematian Winda telah melalui penyelidikan mendalam dengan melibatkan anggota audit internal jajaran Polda Sumut maupun pihak eksternal, dokter forensik, hingga keterangan dari pihak keluarga.

"Transparansi dan akuntabilitas dalam penanganan kasus. Pembuktian berdasarkan rekam jejak digital dan logika peristiwa yang didukung oleh scientific crime investigation, di mana penyidik terfokus pada rekam jejak digital. Alur peristiwa yang logis dan saling berhubungan untuk menyimpulkan kejadian secara akurat," ujar Nanang.

Kompolnas Sebut Kematian Winda Solid

Ilustrasi Mayat. Foto: Skyward Kick Productions/Shutterstock

Pada kesempatan yang sama, Komisioner Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas), Choirul Anam, menjelaskan bahwa kematian Winda secara keseluruhan merupakan rangkaian peristiwa yang solid.

Anam mengatakan peristiwa tersebut didukung sejumlah temuan, termasuk rekaman CCTV di tempat kejadian yang sebelumnya mengalami masalah pada sistemnya. Menurut dia, rekaman CCTV empat bulan sebelumnya juga telah menunjukkan adanya permasalahan pada sistem.

"Ternyata problem seperti itu, ini empat bulan ke belakang, Mei, Juni, Juli, Agustus, memang memiliki pola yang secara sistem problem. Jadi, sistemnya para problemnya adalah pada sistemnya. Jadi tidak hanya mati di tanggal 2 Agustus 2026 ya, tanggal 1 pun itu rekaman bukan mati tapi problem sistemnya. Rekaman problem sistemnya itu sejak beberap waktu sebelumnya juga ya," ucap Anam.

Selanjutnya, penyelidikan kematian Winda juga mencakup hubungan Winda dengan keluarganya maupun hubungannya dengan Brigadir ISH.

Penyelidikan dilakukan dengan mengecek rekam jejak digital antara Winda dan pihak keluarga, termasuk kondisi kesehatan serta dinamika komunikasi keluarga dengan Winda. Menurut Anam, rangkaian peristiwa tersebut kemudian menjadi solid.

"Nah, itu yang menjadikan peristiwa ini dalam konteks penelusuran membuat terangnya peristiwa, rekam jejak digital digandengkan dengan kesaksian atau dengan bukti-bukti nyata sebelumnya, connect. Sehingga, terangnya peristiwa ini ya dengan bukti yang sudah ada, dengan penelusuran yang menurut saya cukup detail, itu solid," imbuh Anam.

Anam menuturkan jenazah Winda juga diperiksa sebelum dan sesudah autopsi. Ia menyebut dokter forensik menunjukkan 96 foto yang menjadi bukti tidak adanya luka lain akibat senjata tajam. Menurut dia, hanya terdapat luka akibat senjata api di bagian kepala Winda.

"Jadi kalau di sini banyak jahitan (perut) macam-macam, itu karena tindakan autopsi. Karena ketika bersih, belum ada tindakan autopsi, ya itu bersih. Luka-luka hanya ada di sini (kepala), apa luka akibat tembakan itu. Yang lain enggak terdapat. Jadi kalau di sini ada jahitan (perut), itu bukan karena tusukan, bukan karena benda tajam dan sebagainya, tapi itu karena tindakan dari autopsi," tutur Anam.

"Juga dijelaskan kami soal mata ini, kenapa kok matanya kalau secara umum kelihatan lebam gitu?. Nah dia jelasin dengan berbagai penjelasan ilmiahnya. Tapi yang paling penting adalah kami juga ditunjukkan tindakan dia (dokter) sedang membuka matanya. Jadi ini dibuka dan pupil di matanya yang putih sama hitam itu, terutama di bagian putih enggak ada pendarahan, enggak ada. Jadi bersih," ujarnya.

Annam juga menuturkan lebam-lebam pada kuku tangan Winda merupakan ciri-ciri seseorang yang meninggal dunia karena kekurangan oksigen.

"Nah, itu ciri-ciri siapa pun yang meninggal, salah satunya kalau dia kekurangan oksigen, ininya (kuku) akan membiru. Nah itu, semakin lama semakin biru. Dia (dokter) jelasin tadi secara ilmiah, tapi karena saya orang hukum jadi enggak bisa menjelaskan itu," ucap Anam.

Selimut Jenazah Winda Saat Dipindahkan Brigadir ISH Tak Jadi Bukti

Suasana keluarga Winda Lorenza Gowasa gelar aksi damai 1000 lilin di Kota Medan, Jumat (28/8/2026). Foto: Amar Marpaung/kumparan

Anam menjelaskan bahwa saat peristiwa kematian Winda, Brigadir ISH mendobrak pintu untuk memindahkan jenazah Winda menggunakan selimut. Menurut dia, selimut tersebut tidak dijadikan barang bukti karena digunakan sebagai alas untuk memindahkan jenazah.

"Bagaimana dobrak pintu dan sebagainya, kami dapat keterangan dari berbagai pihak, termasuk juga Inafis dan Reskrim. Kami juga lihat di TKP. Jadi kalau dia didobrak dengan bahan seperti itu memungkinkan memang terbuka. Kami tadi lihat kerusakan di panel pintunya, termasuk di pintunya. Terus kenapa kok di luar kamar mandi itu ada bercak darah sedikit misalnya? Ya karena itu pemindahan. Jadi enggak memungkinkan darah itu keluar kalau itu bukan pemindahan dari dalam ke luar. Karena posisinya apalagi jenazah almarhum memang nyender ke pintu, sehingga kalau dia enggak dipindah enggak mungkin pintunya bisa dibuka," ucap Choirul.

"Ada satu video ya, di depan kamar jenazah yang ada bungkusannya. Ada tim inafis yang bungkusannya enggak masuk dalam bukti di teman-teman Polres. Nah, kami cek ternyata itu kayak selimut begitu dan memang enggak ada hubungannya, kecuali peristiwanya adalah memindahkan apa namanya, dari kamar mandi ke kamarnya, nah itu jadi alasnya. Jadi itu tidak merupakan bukti," sambung Choirul.

Polisi Pastikan Mantan Istri Polisi Bunuh Diri Pakai Senpi

Sebelumnya, Polrestabes Medan menyatakan Winda yang tewas di rumahnya, meninggal akibat bunuh diri menggunakan senjata api milik mantan suaminya, Brigadir ISH, pada Minggu (2/8).

Hal tersebut diungkapkan setelah pihak kepolisian melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) bersama tim Inafis. Di dalam kamar mandi ditemukan senjata api. Hasil autopsi juga menemukan residu pada tubuh korban.

"Tim Inafis sudah melakukan tindakan pertama TKP dan olah TKP dengan hasil bahwa betul ada senjata api di dalam (kamar mandi) dan ada perlukaan di korban, dikuatkan dengan hasil Labfor. Dikuatkan dengan hasil autopsi yang dilakukan oleh dokter autopsi bahwa adanya sisa residu di jari, tangan, badan, baju milik korban," kata Kapolrestabes Medan, Kombes Pol Jean Calvijn Simanjuntak, saat ditemui di Polrestabes Medan, Selasa (4/8).

Calvijn menuturkan tim identifikasi dan Laboratorium Forensik (Labfor) melakukan swab (pengambilan sampel) pada jari tangan ISH. Hasilnya tidak ditemukan sisa residu.

Berdasarkan hasil pemeriksaan autopsi, pada tubuh korban tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan. Hanya ditemukan satu luka tembak pada bagian kepala.

"Di sini didapati bahwa dari keterangan para ahli, yang pertama adalah dokter forensik yang melakukan autopsi bahwa tidak ada bekas-bekas kekerasan atau bekas-bekas apa pun, benda tumpul, benda tajam yang melukai korban," ucap Calvijn.

"Hanya ada satu luka tembak yang berada di bagian kepalanya, yang dilakukan bunuh diri seperti yang saya jelaskan tadi, dikuatkan dengan dua saksi ISH dan anak," lanjutnya.