Kisah Isnawati Terima Rp 247 Juta dari BPJS Ketenagakerjaan usai Suami Meninggal

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Isnawati, penerima manfaat jaminan sosial BPJS Ketenagakerjaan senilai Rp247,2 juta yang disalurkan melalui Kemenko PM di Pondok Pesantren Al Falah Putera, Kalimantan Selatan, Sabtu (24/10/2026). Foto: Zahira Hilman/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Isnawati, penerima manfaat jaminan sosial BPJS Ketenagakerjaan senilai Rp247,2 juta yang disalurkan melalui Kemenko PM di Pondok Pesantren Al Falah Putera, Kalimantan Selatan, Sabtu (24/10/2026). Foto: Zahira Hilman/kumparan

Hidup Isnawati harus tetap berjalan usai sang suami meninggal dunia secara mendadak akibat serangan jantung.

Kini, ia harus membesarkan lima anak seorang diri. Di tengah dukanya, Isnawati juga memikirkan biaya pendidikan anak-anaknya.

Isnawati menerima manfaat jaminan sosial BPJS Ketenagakerjaan senilai Rp 247.207.920 yang disalurkan melalui Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Kemenko PM).

Manfaat itu terdiri dari jaminan kematian, jaminan hari tua, jaminan pensiun, serta beasiswa pendidikan untuk anak.

Isnawati mengaku bersyukur atas bantuan yang diterimanya. Beasiswa dari BPJS Ketenagakerjaan itu dapat membantu membiayai pendidikan dua anaknya yang bersekolah di Pondok Pesantren Al Falah Putera, Kalimantan Selatan.

“Alhamdulillah bisa bayar uang sekolah dari itu,” kata Isnawati saat ditemui wartawan usai menerima manfaat jaminan sosial di Pondok Pesantren Al Falah Putera, Kalimantan Selatan, Sabtu (24/10).

Isnawati, penerima manfaat jaminan sosial BPJS Ketenagakerjaan senilai Rp247,2 juta yang disalurkan melalui Kemenko PM di Pondok Pesantren Al Falah Putera, Kalimantan Selatan, Sabtu (24/10/2026). Foto: Zahira Hilman/kumparan

Ia menjelaskan, beasiswa tersebut diberikan secara bertahap yang nantinya, akan Isnawati gunakan untuk membayar sejumlah kebutuhan pendidikan, seperti SPP, infaq, dan daftar ulang.

“Karena itu kan beasiswa ya, jadi dikeluarkannya bertahap nggak langsung semuanya gitu. Tapi alhamdulillah buat bayar SPP, infak daftar ulang tiap tahun. Lumayanlah,” terang Isnawati.

Sebelumnya, kata Isnawati, sang mendiang suami bekerja sebagai staf administrasi di PT Citra Utama dan menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan melalui perusahaan tempatnya bekerja.

Dia juga menceritakan, suaminya sempat mengalami gangguan pernapasan saat kabut asap menyelimuti wilayah Banjarbaru.

Ia menyebut sang suami sempat beberapa kali mengalami pilek dan gejala yang disebutnya sebagai ISPA.

“Maksudnya ada pilek, kayak ISPA, terkena ISPA berulang kali juga,” ungkap Isnawati.

Namun, dia tidak memastikan apakah kondisi tersebut berkaitan dengan kematian suaminya.

Ia pun mengatakan, sang suami meninggal mendadak pada 26 Juli lalu, setelah selesai salat Zuhur dan sedang duduk di rumah.

“Enggak sakit sebenarnya. Selesai salat zuhur, duduk di rumah sambil makan ngomong, lalu kayak pusing kepalanya. Langsung meninggal,” tuturnya.

Sejak kepergian suaminya, Isnawati kini harus mengurus kelima anaknya seorang diri. Ia mengaku belum bekerja dan masih memikirkan pekerjaan yang bisa dijalani sambil tetap mendampingi anak-anaknya.

“Enggak, masih di rumah. Enggak tahu lagi nih mau jadi apa nanti. Sementara masih berpikir lagi, mau kerja apa, kan anak-anak sekolah,” kata Isnawati.

Ia mengaku pendidikannya yang hanya sampai tingkat SMP menjadi salah satu pertimbangan dalam mencari pekerjaan.

“Soalnya enggak setinggi kayak orang. SMP aja. Susah, setinggi seperti orang kan kerjanya harus kuliah, apalagi kerja seperti orang tua yang rata-rata kan. Bingung lagi,” tuturnya.