Kisah Remaja Tunanetra di Kudus Hidup dalam Sunyi Pascalumpuh

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Nenek Rukayah menemani cucunya di kediamannya, Senin (24/8/2026). Foto: Vega Ma'arijil Ula/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Nenek Rukayah menemani cucunya di kediamannya, Senin (24/8/2026). Foto: Vega Ma'arijil Ula/kumparan

Turki Firdayanto (17) mengalami kelumpuhan serta tidak dapat melihat (tunanetra) sejak lahir. Setiap harinya dihabiskan dengan berbaring di kasur. Selain lumpuh dan tunanetra, ia juga tak dapat berbicara seperti remaja pada umumnya.

Mengalami kelumpuhan, tak dapat melihat serta tidak bisa berbicara, Turki seakan menjalani kehidupan dalam sunyi. Remaja asal Desa Medini, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, itu dirawat oleh kakek dan neneknya.

Sedangkan ibunya, Noor Farida, harus banting tulang ke Taiwan menjadi Pekerja Migran Indonesia (PMI) demi mencukupi kebutuhan putranya itu. Noor Farida sudah berada di Taiwan selama sepuluh tahun.

"Saya bekerja sebagai TKW di Taiwan. Kerjaan saya bersih-bersih rumah dan merawat lansia," katanya saat video call dengan kumparan, Senin (24/8).

Farida menjelaskan, putranya itu memiliki saudara kembar. Namun, sudah meninggal. Sedangkan putra ketiganya saat ini masih sekolah di salah satu pondok pesantren di Kabupaten Kudus.

Sementara itu, Turki, putranya yang kini lumpuh sejak usia satu tahun tak dapat melihat serta berbicara. Dia hanya mampu terbaring di kasur. Kakek dan neneknya yang senantiasa merawatnya selama Farida mencari uang di Taiwan. Sedangkan ayahnya sudah lama tak menengok putranya itu.

Kondisi Turki awalnya dikarenakan polio. Kabar itu didapatkan dari dokter yang menangani proses kelahirannya. Persoalan kondisi mata dari Turki yang tidak dapat melihat juga didapatkannya dari dokter.

"Dulu saat usia dua bulan mengalami panas tinggi. Ketika itu saya belum memiliki uang sehingga belum bisa periksa," terangnya.

Ia mengaku saat itu tidak memiliki kepesertaan BPJS Kesehatan. Sehingga terlalu berat baginya apabila harus membayar biaya kesehatan secara mandiri.

Kemudian, sejak usia Turki menginjak lima tahun sampai 17 tahun ini, Farida tak pernah memeriksakan putranya itu lagi. Sebab, petugas medis sudah tidak dapat berbuat lebih banyak.

"Masih sering kejang-kejang. Setelah kejang-kejang kemudian lemas dan tertidur," jelasnya.

Rasa kangen terus muncul untuk bertemu buah hatinya yang belum pernah ditemuinya lagi sejak 2016 itu. Namun, lagi-lagi alasan perekonomian menahannya lebih lama lagi untuk berada di Taiwan.

"Sejak 2026 saya belum pernah pulang lagi ke Kudus. Saya meninggalkan Turki saat usia 7 tahun. Ketika mau pulang ke Kudus, kontrak kerja saya selalu diperpanjang," ujarnya.

Nenek Rukayah menemani cucunya video call dengan Noor Farida di kediamannya, Senin (24/8/2026). Foto: Vega Ma'arijil Ula/kumparan

Ia berharap suatu saat nanti bisa membelikan kursi roda bagi putranya itu. Sehingga bisa memudahkan kakek dan neneknya di rumah.

"Supaya kalau mau ke luar rumah lebih mudah. Neneknya kalau harus menggendong sudah tidak kuat karena usia Turki sudah 17 tahun," imbuhnya.

Sementara itu, nenek Turki, Rukayah (65) menggantikan peran dari Noor Farida untuk merawat Turki. Setiap harinya, ia menyuapi, memandikan dan mengganti pampers Turki.

"Selama ini saya yang merawat. Turki tidak bisa berbicara, jadi waktunya sarapan saya suapi. Kemudian saya cek pampers-nya kalau sedang buang air besar. Dia sama sekali tidak bisa diajak berkomunikasi," katanya saat ditemui di kediamannya, Senin (24/8).

Nenek Rukayah menemani cucunya video call dengan Noor Farida di kediamannya, Senin (24/8/2026). Foto: Vega Ma'arijil Ula/kumparan

Rukayah begitu sabar saat merawat Turki setiap hari. Termasuk ketika Turki sedang kejang-kejang, ia selalu menenangkan.

"Sehari bisa kejang-kejang sampai dua kali. Biasanya saya tenangkan sebentar, dia langsung tidur," ucapnya.

Dalam hati Rukayah, ia berkeinginan agar ada pihak yang memberikan bantuan berupa kursi roda. Sehingga bisa memudahkan mobilisasi untuk memindahkan cucunya itu.

"Karena selama ini kalau mau mandi saya gendong, mau ke kamar saya gendong. Sedangkan saya tenaganya sudah tidak kuat," imbuhnya.