LF PBNU Tetapkan Tahun Baru Islam 1 Muharram Jatuh pada Rabu, 17 Juni

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Nahdlatul Ulama (NU).
 Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Nahdlatul Ulama (NU). Foto: Shutterstock

Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU) menetapkan tahun baru Islam atau 1 Muharram 1448 H jatuh pada Rabu, 17 Juni 2026. Keputusan ini berbeda dengan Muhammadiyah yang menetapkan 1 Muharram jatuh pada Selasa, 16 Juni 2026.

Keputusan LF PBNU tersebut disampaikan dalam Surat Penjelasan Rukyah Muharram 1448 H nomor 146/PB.08/A.II.11.13/13/06/2026 yang ditandatangani Ketua LF PBNU KH Sirril Wafa dan Sekretaris LF PBNU H Asmui Mansur pada Senin (15/6).

Dikutip dari media resmi PBNU, NU Online, keputusan tersebut didasari hilal yang tak teramati di seluruh Indonesia pada Senin Pon, 29 Zulhijah 1447 H atau bertepatan dengan 15 Juni 2026.

"Telah dilaporkan penyelenggaraan rukyatul hilal pada Senin Pon 29 Zulhijah 1447 H/15 Juni 2026 M pada titik di seluruh Indonesia. Semua lokasi tidak melihat hilal," tulis pengumuman tersebut.

"Sebagai tindak lanjutnya maka awal bulan Muharram 1448 H bertepatan dengan Rabu Kliwon 17 Juni 2026 M (mulai malam Rabu) atas dasar istikmal," lanjutnya.

LF PBNU mengucapkan terima kasih atas kontribusi dan partisipasi Nahdliyin dalam rukyatul hilal ini. Jajaran Lembaga Falakiyah PWNU dan PCNU se–Indonesia juga diminta bertindak aktif untuk menyebarluaskan pengumuman awal Muharram 1448 H ini kepada warga NU khususnya jajaran pengurus di wilayah atau cabangnya masing–masing.

Posisi Hilal

Adapun hilal awal Muharram 1448 H saat ini sudah berada di atas ufuk, yakni tepatnya 2 derajat 01 menit 24 detik, dengan markaz Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, koordinat 6º 11’ 25” LS 106º 50’ 50” BT. Sementara konjungsi atau ijtimak bulan terjadi pada Senin Pon 15 Juni 2026 M pukul 09.55.14 WIB.

Sementara itu, letak matahari terbenam berada pada posisi 23 derajat 21 menit 58 detik selatan titik barat, sedangkan letak hilal pada posisi 28 derajat 30 menit 15 detik selatan titik barat.

Adapun kedudukan hilal berada pada 1 derajat 50 menit 15 detik selatan matahari dalam keadaan miring ke selatan dengan elongasi 9 derajat 31 menit 33 detik. Sementara lama hilal 37 menit 06 detik.

Berdasarkan metode falak yang sama pula, maka diketahui parameter hilal terkecil terjadi di Kota Merauke, Provinsi Papua Selatan dengan tinggi hilal mar’i mar’i 0 derajat 42 menit, elongasi hilal hakiki 5 derajat 37 menit, dan lama hilal di atas ufuk 5 menit 19 detik.

Sementara parameter hilal terbesar terjadi di Kota Lhoknga Provinsi Aceh dengan tinggi hilal mar’i 3 derajat 37 menit, elongasi hilal hakiki 6 derajat 57 menit, dan lama hilal di atas ufuk 18 menit 30+0_ detik.

Karena di seluruh Indonesia tinggi hilal adalah positif, maka pada saat matahari terbenam hilal sudah di atas ufuk. Sementara wilayah yang sudah memenuhi kriteria imkanur rukyah dengan tinggi hilal 3 derajat dan sudut elongasi 6,4 derajat hanya di Indonesia bagian barat, seperti Aceh.