Menkes Ungkap Donasi Kesehatan ke RI Tembus USD 1 Miliar

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin saat konferensi pers usai agenda Indonesia Health Partners Meeting (IHPM) ke-4 tahun 2026 di Hotel Shangri-La, Jakarta Pusat, Selasa (15/9/2026). Foto: Zahira Hilman/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin saat konferensi pers usai agenda Indonesia Health Partners Meeting (IHPM) ke-4 tahun 2026 di Hotel Shangri-La, Jakarta Pusat, Selasa (15/9/2026). Foto: Zahira Hilman/kumparan

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan total donasi kesehatan dari luar negeri yang diterima Indonesia telah mencapai sekitar USD 1 miliar atau lebih dari Rp 18 triliun.

Hal itu disampaikan Budi dalam konferensi pers pada agenda Indonesia Health Partners Meeting (IHPM) ke-4 di Hotel Shangri-La, Jakarta Pusat, Selasa (15/9).

Budi mengatakan, donasi kesehatan dari luar negeri yang diterima Indonesia sejak pandemi COVID-19 belum terkoordinasi dengan baik. Karena itu, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) membentuk Donor’s Office untuk mengatur penyaluran bantuan agar lebih terkoordinasi.

“Kita bikin Donor’s Office supaya donor-donor itu kalau datang bisa masuknya terkoordinasi dengan bagus. Nggak harus semua lewat pemerintah, bisa juga langsung ke implementing agency yang lain, tapi kita atur supaya outcome-nya sama,” terang Budi.

Ia mencontohkan bantuan untuk penanganan tuberkulosis yang dapat disalurkan melalui Kemenkes, pemerintah daerah, maupun organisasi kemasyarakatan. Seluruh bantuan tersebut, kata Budi, akan didata agar tetap mendukung target penurunan kasus tuberkulosis.

“Misalnya tuberkulosis, kita mau turunin. Ada yang bantunya lewat Kementerian Kesehatan, ada yang masuknya lewat Pemerintah Nusa Tenggara Timur, ada yang bantunya lewat organisasi kemasyarakatan, misalnya Muhammadiyah dulu pernah bantu juga. Nah, itu nggak apa-apa masuk langsung ke mereka, tapi kita register dengan baik semuanya dan kita lihat tujuannya sama untuk mengurangi insiden tuberkulosis,” jelas Budi.

Menurut Budi, nilai donasi kesehatan tersebut meningkat signifikan. Saat dirinya mulai menjabat, jumlah donasi yang terkumpul berada di kisaran USD 200–300 juta. Kini, nilainya telah mencapai sekitar USD 1 miliar.

“Kita kan sekarang sudah kumpulin. Waktu saya masuk sekitar 200–300 juta, sekarang udah naik ke 1 miliar dolar, ya. Jadi ordernya lumayan besar sih mereka nyumbang,” ucapnya.

Lebih lanjut, Budi menjelaskan donasi tersebut memiliki siklus sekitar tiga hingga empat tahun. Setiap tahun, terdapat donor baru yang menggantikan donor sebelumnya, sehingga total bantuan yang pernah diberikan mencapai sekitar USD 1 miliar atau lebih dari Rp18 triliun.

“Itu siklusnya antara 3 sampai 4 tahun. Jadi tiap tahun tuh ada yang masuk baru menggantikan yang lama, tapi total yang sudah pernah diberikan ke kita itu ordenya 1 billion US atau di atas 18 triliun, ya. Ini sifatnya donor ya, and grant (hibah),” pungkasnya.

Dana BPJS Disebut Sudah Tersedia, Pencairan Tunggu PMK

Di sisi lain, Budi mengatakan dana pemerintah untuk BPJS Kesehatan sebenarnya sudah tersedia. Namun, pencairannya masih menunggu penerbitan Peraturan Menteri Keuangan (PMK).

Pernyataan itu disampaikan Budi saat ditanya mengenai keterlambatan pencairan dana BPJS yang berdampak pada pembayaran kepada rumah sakit.

“Itu kan semuanya uangnya sudah ada, tinggal dibuatkan Peraturan Menteri Keuangannya, dan Pak Wamenkeu tadi malam udah bilang, ya nanti dia akan bantu agar bisa cepat dicairkan ke BPJS supaya bisa dibayarkan,” ungkap Budi.

Kendati demikian, Budi belum memastikan tanggal pencairan dana tersebut. Ia berharap proses pencairan dapat dilakukan pada bulan ini.

“Doain mudah-mudahan kalau bisa bulan ini, ya,” kata dia.