Perubahan Sikap Anak Korban Daycare Little Aresha: Pukul Mulut-Kepala Sendiri

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Para terdakwa dalam kasus kekerasan dan penelantaran anak Daycare Little Aresha Yogyakarta di Pengadilan Negeri Yogyakarta (PN Yogyakarta), Rabu (26/8/2026). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Para terdakwa dalam kasus kekerasan dan penelantaran anak Daycare Little Aresha Yogyakarta di Pengadilan Negeri Yogyakarta (PN Yogyakarta), Rabu (26/8/2026). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Sejumlah anak korban kekerasan dan penelantaran Daycare Little Aresha mengalami perubahan perilaku. Hal itu disampaikan oleh 10 orang tua yang dihadirkan sebagai saksi dalam sidang lanjutan kasus Daycare Little Aresha di Pengadilan Negeri Yogyakarta (PN Yogyakarta), Rabu (26/8).

Denta Erma, salah satu orang tua mengatakan anaknya masuk daycare tersebut saat usia 4 bulan. Ketika penggerebekan usianya sudah 20 bulan.

Denta tahu soal daycare ini berdasarkan informasi dari seorang teman. Dia tertarik ke Little Aresha karena janji fasilitas yang lengkap dan jam penjemputan yang fleksibel.

Sebelum penggerebekan, Denta mengaku sudah melihat perubahan perilaku sang anak.

"Cara dia mengeluarkan emosi 2 minggu sebelum penggerebekan. Dia memukul mulut dan kepalanya sendiri," kata Denta.

Hal serupa, juga dialami anak dari Imedia Dwi, anaknya yang mengalami Autism Spectrum Disorder (ASD) ringan mengalami perubahan jadi lebih agresif.

"Memukul, mencubit, dan lebih agresif. Misal di lepas di ruangan terbuka akan lari muter terus. Memukul mencubit kalau setelah saya amati setelah penggerebekan suka main ikat-ikat kaki, ikat tanggannya. Mainan, dinonya (dinosaurus) diikat," katanya.

Selain itu, Imedia mengatakan dalam sebulan pasti anaknya mengalami lebam hingga luka goresan. Selain itu pernah juga pelipisnya benjol.

"Di pelipis benjol gede terus tengahnya ada robekan itu alasannya (daycare) lari-lari kesandung terus kepentok lego," katanya.

Orang tua lain, Yeni Astri Widiastuti, mengatakan anaknya mengalami keterlambatan perkembangan seperti terlambat berjalan.

"Masuk kategori lambat jalan. Di hari pertama masuk sudah ada benjolan di belakang kepala. Sebelumnya tidak ada. Saya konfirmasi juga dari sekolah infonya tidak terjadi apa pun," kata Yeni.

Ayunanda, orang tua lainnya mengatakan anaknya mengalami perubahan perilaku yakni gemar membenturkan kepalanya.

"Anak kami masuk di usia 16 bulan. Perilaku sama sekitar 1 bulan sebelum penggerebekan ada cenderung memukul kepala dan membenturkan kepala. Dalam pikiran kami dulu adalah fase," katanya.

Selain itu ketika selimutan ada kecenderungan anaknya ingin seperti membedong dirinya.

"Anak ini susah dipakain baju. Dia senang banget lari tidak pakai apa-apa terus tiduran tidak apa-apa Terus dipakaiain baju susah. Itu hampir dua bulan setelah di sana," katanya.

Nidya Himayanti mengatakan anaknya awal masuk kepribadian tidak mudah rewel.

"Awal masuk ketika marah itu matanya melotot lalu menggerakkan rahang saya pikir itu menirukan temannya," katanya.

"Tiga bulan sebelum penggerebekan dia menjadi anak yang mudah sekali rewel, mudah marah, tidak mau makan. Kalau diminta mandi menangis meraung-raung. Kalau ada pintu tertutup menangis langsung gedor-gedor pintu," ujarnya.

Zly Wahyuni mengatakan, anaknya juga mengalami sejumlah perubahan sikap seperti gemar melilitkan tali ke leher. Mulai dari tali tas milik Zly hingga kabel charger.

"Paling berat pukul kepala ke lantai," kata Zly.

Anak dari Fitriani Eka juga mengalami hal yang serupa. Ketika keinginannya tidak dituruti, anak akan memukul orang tuanya.

"Ada juga perilaku yang memukul mulut saya dan mengucap nakal ketika ditegur. Ada perilaku lagi yang muncul setelah dimandikan susah sekali untuk diberikan baju," katanya.

Sidang kasus daycare ini akan dilanjutkan pada Senin mendatang. Agenda minggu depan, jaksa penuntut umum akan kembali menghadirkan saksi.