Pramono Melayat ke Rumah Bambang, Korban Kericuhan 27 Agustus

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung melayat ke rumah duka Bambang Setiyawan (59), warga yang menjadi korban kericuhan saat penyampaian aspirasi di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat, pada Kamis (27/8) malam.
Pantauan kumparan di lokasi, Pramono tiba di rumah duka sekitar pukul 18.28 WIB, Jumat (28/8). Ia kemudian menemui istri dan anak Bambang.
Pramono berbincang dengan keluarga Bambang selama sekitar 30 menit. Dalam pertemuan tersebut, Pramono juga sempat berbicara dengan anak almarhum terkait pekerjaan.
“Yang penting mau kerja kan,” kata Pramono kepada anak Bambang dari dalam rumah.
“Iya Pak, mau, mau. Saya apa aja mau, Pak,” jawab anak Bambang.
“Benar ya,” ujar Pramono.
Selain melayat ke rumah duka Bambang, Pramono juga menjenguk Faturohman (18), korban lain yang mengalami luka-luka akibat kericuhan tersebut.
Usai melayat, Pramono tidak memberikan banyak keterangan kepada awak media. Ia hanya menyampaikan permintaan maaf.
“Maaf, maaf,” kata Pramono sambil menunjukkan gestur tangan yang menyilang di dada.
Sementara, Ketua RW 06 Bendungan Hilir, Rabiono, mengatakan kedatangan Pramono ke rumah duka tidak disangka oleh keluarga maupun warga. Menurutnya, Pramono datang untuk menyampaikan belasungkawa kepada keluarga Bambang.
“Nggak disangka-sangka, tiba-tiba datang tiba-tiba gitu lho. Yang namanya gubernur biasa lah, warganya gitu biasa,” ujar Rabiono kepada wartawan.
Rabiono mengatakan Pramono tidak menyampaikan pesan khusus kepada keluarga selain menyampaikan belasungkawa. Ia juga meminta agar persoalan kericuhan tersebut tidak diperpanjang.
“Ya nggak ada apa-apanya, sesumbar biasa, belasungkawa aja. Pak Gubernur belasungkawa aja kok, nggak ada apa-apa,” katanya.
Terkait adanya suara warga yang meminta agar kasus tersebut diusut tuntas, Rabiono memilih agar persoalan tidak diperpanjang.
“Pokoknya jangan ini, pesannya jangan dibesar-besarkan,” jelasnya.
Rabiono mengatakan warga tetap memiliki hak untuk meminta keadilan apabila pelaku pengeroyokan dapat diketahui. Namun, ia mengaku belum mengetahui secara pasti siapa pelaku yang menyebabkan Bambang meninggal dunia.
“Masalahnya ini pelakunya siapa kan nggak tahu siapa, karena pendemo banyak. Yang jelas yang udah ya udah. Kalau kita bicara ke depan, kalau kita ke belakang nggak ada habis-habisnya,” kata Rabiono.
“Ke depannya harus kita lebih waspada, hati-hati,” sambungnya.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua RT 11 Petamburan, Budi Santoso, mengatakan Bambang ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa di sekitar wilayah tersebut. Ia menyebut kejadian berlangsung sekitar pukul 22.30 WIB.
“Setengah 11 itu kejadiannya tampaknya para pendemo rame. Ya kita nggak tahu karena itu warga sini juga kita nggak tahu, tahu-tahu udah rame kayak gitu,” ujar Budi.
Rabiono menambahkan warga setempat tidak mengetahui secara pasti pihak yang bertanggung jawab atas kejadian tersebut.
“Yang tampaknya yang salah siapa kita juga nggak tahu persis,” katanya.
Meski demikian, Rabiono menyebut warga di kawasan tersebut tidak terlalu trauma dengan adanya aksi penyampaian aspirasi. Menurutnya, warga sudah terbiasa menghadapi situasi serupa.
“Wah nggak (trauma), di sini udah biasa. Di sini mah udah matang, udah blenger,” kata Rabiono.
Budi menambahkan warga setempat sudah menghadapi situasi demonstrasi dari tahun ke tahun sehingga mereka memilih untuk tetap menjaga wilayah.
“Dari tahun ke tahun juga udah ya udah, namanya kita tempatan di wilayah sini mau gimana lagi,” ujarnya.
