Ramai soal Beeru Stevia, Kemenkes: Pemanis Pengganti Gula Bukan Solusi Kendalikan Berat Badan

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengingatkan masyarakat bahwa pemanis pengganti gula bukan solusi utama untuk mengendalikan berat badan dalam jangka panjang.
Imbauan tersebut disampaikan Kemenkes menyusul sorotan terhadap produk Beeru Stevia, produk pemanis cair pengganti gula yang mengeklaim nol kalori. Namun, Dokter Fiktif (Doktif) di akun TikTok-nya, mengatakan produk itu tidak nol kalori berdasarkan data laboratorium yang dilakukannya secara mandiri.
Masyarakat diminta untuk memperhatikan komposisi dan informasi nilai gizi produk, termasuk yang mengeklaim rendah gula (low sugar) atau tanpa gula (zero sugar).
“Pemanis pengganti gula juga bukan solusi utama untuk mengendalikan berat badan dalam jangka panjang,” kata Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes Aji Muhawarman saat dihubungi kumparan, Kamis (29/10).
Aji meminta masyarakat tidak langsung menganggap produk berlabel low sugar atau zero sugar pasti lebih sehat. Menurut dia, konsumen perlu memperhatikan komposisi, informasi nilai gizi, serta jumlah produk yang dikonsumsi.
“Jangan langsung menganggap produk low atau zero sugar pasti lebih sehat. Perhatikan komposisi, informasi nilai gizi, dan jumlah yang dikonsumsi,” ujarnya.
Selain memperhatikan kandungan produk, Kemenkes juga mengingatkan masyarakat untuk membatasi konsumsi gula harian.
Aji menyebut, batas konsumsi gula yang dianjurkan maksimal 50 gram atau setara dengan empat sendok makan per orang dalam sehari.
“Batas ini perlu diperhatikan dari seluruh makanan dan minuman yang dikonsumsi, bukan hanya gula yang ditambahkan sendiri,” kata Aji.
Kemenkes juga mengimbau masyarakat untuk memeriksa informasi gizi sebelum membeli produk. Salah satunya melalui kebijakan Nutri-Level yang diterbitkan Kemenkes untuk pangan olahan siap saji.
Kata Aji, Nutri-Level menggunakan kategori A, B, C, dan D dengan penanda huruf dan warna untuk menunjukkan kandungan gula, garam, dan lemak jenuh pada minuman siap saji.
“Dengan melihat label ini, masyarakat bisa lebih mudah membandingkan pilihan dan memilih produk yang lebih sehat,” terangnya.
Namun, ia menegaskan, penerapan Nutri-Level bukan bertujuan melarang masyarakat mengkonsumsi produk tertentu. Kebijakan itu ditujukan untuk membantu masyarakat memilih produk secara lebih bijak dan membatasi konsumsi gula berlebihan.
“Tujuannya bukan melarang masyarakat mengkonsumsi produk tertentu, tetapi membantu masyarakat lebih bijak dalam memilih dan membatasi konsumsi gula berlebihan,” tuturnya.
Sementara itu, terkait dugaan kandungan pemanis buatan pada Beeru Stevia, Aji mengatakan Kemenkes belum dapat menyimpulkan keamanan produk maupun dampaknya terhadap kesehatan sebelum hasil pengujian dan penilaian dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) terkonfirmasi.
“Kemenkes tidak bisa menyimpulkan produk tersebut berbahaya atau menjelaskan dampak buruk terhadap kesehatan sebelum hasil pengujian dan penilaian BPOM terkonfirmasi,” pungkas Aji.
Beeru Stevia Buka Suara
Terkait masalah ini, manajemen Beeru Indonesia menghentikan sementara penjualan produknya hingga proses verifikasi selesai.
Keputusan tersebut disampaikan melalui akun Instagram resmi Beeru Indonesia.
Dalam keterangannya, Beeru menyebut tengah berkoordinasi dengan mitra manufaktur dan melakukan verifikasi lebih lanjut terkait produk tersebut.
“Perlu kami sampaikan bahwa Beeru Stevia diproduksi melalui kerja sama dengan mitra manufaktur yang menangani formulasi, pengadaan bahan baku, dan proses produksi,” demikian keterangan Beeru Indonesia, Rabu (28/10).
Beeru menyatakan proses verifikasi dilakukan untuk memastikan kembali kesesuaian produk sebelum penjualan dilanjutkan.
