Sosok Savia, Sinden Cilik Disabilitas yang Tampil di Istana Saat HUT 81 RI

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sinden cilik disabilitas Savia Aulia Rahmawati di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Senin (17/8/2026). Foto: Zamachsyari/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Sinden cilik disabilitas Savia Aulia Rahmawati di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Senin (17/8/2026). Foto: Zamachsyari/kumparan

Suara sinden cilik terdengar dalam rangkaian Upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Senin (17/8). Di balik penampilan tersebut, ada sosok Savia Aulia Rahmawati, remaja disabilitas yang membuktikan dirinya mampu berkarya di panggung kenegaraan.

Savia, yang dikenal dengan nama Savia Sinden Cilik, tampil di hadapan ribuan orang dalam upacara peringatan HUT RI.

Usianya akan genap 15 tahun pada Desember mendatang. Ia berasal dari Ciledug, Tangerang, Banten. Savia juga memiliki darah keluarga dari Yogyakarta, yakni Bantul dan Sleman, serta Wonogiri.

"Saya Savia Aulia Rahmawati, biasa dipanggil Savia atau biasa dikenal sebagai Savia Sinden Cilik. Umur saya nanti Desember 15 tahun," kata Savia usai tampil di Istana Merdeka.

Kesempatan tampil dalam upacara kenegaraan itu datang setelah Savia dihubungi oleh event organizer (EO) yang bekerja untuk Istana.

"Kurang tahu kalau asal mulanya bagaimana, tapi saya dihubungi lewat EO dari Istana langsung," ujarnya.

Bagi Savia, kesempatan tersebut menjadi pengalaman yang membanggakan. Terlebih, sebagai tunadaksa, ia ingin penampilannya menjadi bukti bahwa disabilitas tetap dapat berkarya dan menunjukkan kemampuan di berbagai panggung.

"Alhamdulillah seneng banget dan pastinya bangga, tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, karena saya sebagai penyandang disabilitas bisa mewakili saudara-saudara saya yang disabilitas di luar sana untuk membuktikan bahwa disabilitas juga bisa berkarya tanpa batas," tutur Savia.

Untuk mempersiapkan penampilannya, Savia menjalani latihan sekitar satu pekan. Ia juga menjaga kondisi tubuh dengan memperhatikan pola makan dan waktu tidur.

Paskibraka membawa bendera Merah Putih yang diserahkan oleh Presiden Prabowo dalam Upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi di Istana Negara, Jakarta, Senin (17/8/2026). Foto: YouTube/ Sekretariat Presiden

"Persiapan hanya pola makannya dijaga, mengurangi es dan lain-lain, dan pola tidur juga dijaga," katanya.

Savia mengaku sudah menyukai aktivitas bernyanyi sejak kecil. Namun, ketertarikannya untuk mendalami dunia persindenan baru muncul sekitar dua tahun terakhir.

"Kalau bernyanyi saya dari kecil, namun untuk saya mendalami dunia persindenan itu baru dua tahun terakhir," ujarnya.

Sebelumnya, bernyanyi bagi Savia hanya sebatas hobi. Ia tidak secara khusus mendalami seni tersebut. Hingga kemudian ketertarikannya terhadap dunia sinden membuatnya memutuskan untuk berlatih secara serius.

"Kalau sebelumnya saya dari kecil hanya nyanyi biasa, namun tidak diseriusin, cuma buat hobi-hobi aja. Cuma saya tiba-tiba tertarik di dunia persindenan, terus saya memutuskan untuk latihan dan akhirnya saya menjadi sinden, tampil sebagai sinden," tuturnya.

Ada sosok yang menjadi salah satu inspirasi Savia untuk serius menekuni dunia persindenan. Momen itu terjadi ketika ia mendapat kesempatan menyumbangkan lagu di Lenteng Agung.

Saat itu, Savia diberi kesempatan bernyanyi oleh almarhum dalang Ki Warseno Slank, yang biasa ia panggil Babe. Kesempatan tersebut menjadi pengalaman yang memotivasi Savia untuk lebih serius mendalami seni sinden.

"Karena pertama saya nyumbang lagu di Lenteng Agung, itu saya diberi kesempatan untuk nyumbang lagu oleh almarhum dalang Ki Warseno Slank atau yang biasa saya panggil Babe, itu menyemangati saya dan sangat memotivasi saya sehingga saya serius untuk mendalami dunia persindenan," kata Savia.

Penampilan di Istana Merdeka pun menjadi pengalaman istimewa bagi Savia. Ia bahkan sempat bertemu dengan Presiden Prabowo Subianto setelah rangkaian acara berlangsung.

Namun, pertemuan tersebut berlangsung singkat. Savia mengatakan dirinya hanya sempat bertemu ketika berada di lapangan, sementara Presiden berada di bagian depan.

"Mohon maaf bertemunya hanya sebatas tadi di lapangan dan bapak di depan," ujarnya.

Meski tak sempat berbincang panjang, Savia mendapat gestur dari Presiden berupa acungan jempol.

"Iya dikasih jempol," kata Savia.

Bagi Savia, acungan jempol tersebut menjadi momen kecil yang berkesan setelah ia menyelesaikan penampilannya di hadapan ribuan orang.

Dari bernyanyi sekadar hobi hingga menekuni dunia persindenan, Savia kini mendapat kesempatan berdiri di panggung kenegaraan. Penampilannya menjadi bagian dari kisah seorang remaja penyandang disabilitas yang ingin terus membuktikan bahwa keterbatasan bukan batas untuk berkarya.