Tak Punya Jamban, Warga Kota Pekalongan Manfaatkan MCK Komunal

Sudah tiga tahun warga Kelurahan Pasirkratonkramat, Kecamatan Pekalongan Barat, Kota Pekalongan, Jawa Tengah memanfaatkan keberadaan MCK Komunal Adaptif yang dibangun oleh Adaptation Fund dan Kemitraan.
Keberadaan MCK ini menjadi penting lantaran warga tak perlu lagi membuang kotoran di sungai, atau menumpang di rumah tetangga atau kerabatnya.
Sebab, sebagian besar warga kelurahan ini memang tak memiliki toilet sehingga akses mereka untuk mandi, buang air besar dan buang air kecil sangat terbatas.
Ada enam WC yang bisa dimanfaatkan oleh warga. Bagunannya kokoh dengan pondasi lebih tinggi untuk menghindari rob. Airnya pun jernih, bersih dan lancar.
Salah satu warga penerima maanfat Wastiah (60) mengatakan, setiap hari ia dan tiga orang anaknya memanfaatkan MCK komunal. Kegiatan mandi, cuci dan kasus hampir seluruhnya dilakukan di sini.
"Iya setiap hari ke sini, buat buang air besar, kencing, atau mandi. Soalnya rumahnya tidak punya jamban," ujar Wastiah ditemui, Jumat (23/10).
Sebelum MCK komunal ini berdiri, Wastiah terpaksa menggunakan sungai sebagai toilet mereka. Kegiatan buang air besar dan kecil dilakukan di sungai yang airnya menghitam karena kotor atau menumpang di rumah tetangganya.
Ancaman penyakit, lingkungan yang tercemar atau kemungkinan terjatuh ke dalam sungai yang dalam sudah menjadi bagian dari hidup Wastiah sehari-hari.
"Iya takut jatuh ke kali, apalagi kalau malam-malam pas kebeletnya, kadang buang air di kresek terus baru dibuang ke sungai," ungkap Wastiah.
Wastiah bukan tidak mau memiliki toilet atau jamban, namun ia hanya tidak mampu. Ketimbang membangun toilet yang gampang rusak karena terkena rob, ia berpikir lebih baik untuk menutupi kebutuhan sehari-hari.
"Iya bukan nggak mau tapi nggak punya uang," ucap Wastiah.
Hal senada juga dikatakan warga lain Sri Yatun (51). Sama seperti Wastiah, Sri Yatun pun tak punya kakus atau toilet yang bisa digunakan di dalam rumah.
"Iya dulu punya tapi karena kena rob terus menerus, banjir terus akhirnya rusak belum dibenerin. Jadi kalau mau mandi atau buang air besar ya di sini," imbuh Sri.
Di sisi lain, Ketua RT 04/RW 03, Faisal Aris (30) menyebut, sekitar 20 dari 30 rumah warganya memanfaatkan MCK Komunal ini karena tak memiliki WC pribadi. Kegiatan MCK pun biasanya dilakukan di sungai atau menumpang di rumah tetangga atau kerabat yang memiliki WC.
"Sangat berguna, apalagi ketika banjir rob, toiletnya masih tetap bisa digunakan. Memang warga di sini rata-rata bukan orang mampu. Jadi banyak yang tidak punya WC di rumah," ungkap Faisal.
Setiap bulannya satu rumah hanya ditarik iuran Rp 10.000 untuk membayar kebutuhan air, listrik, dan perlengkapan kebersihan. Warga juga gotong royong dan merawat MCK Komunal ini agar bisa terus digunakan.
"Kita rawat bareng-bareng karena kami sudah dibantu, dibangunkan, kami hanya tinggal merawat supaya bersih dan awet," kata Faisal.
