Wisatawan Asing Ikut Patungan Bantu Korban Kebakaran Desa Adat Sade, NTB

Bantuan untuk warga Kampung Adat Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, terus berdatangan setelah kebakaran besar melanda kawasan tersebut. Dukungan tidak hanya datang dari masyarakat dan sejumlah tokoh nasional, tetapi juga dari wisatawan asing yang tengah berlibur di kawasan Mandalika.
Bantuan yang diterima warga diberikan dalam berbagai bentuk, mulai dari uang tunai hingga paket sembako dan kebutuhan sehari-hari. Kepedulian tersebut muncul setelah kabar kebakaran yang menghanguskan banyak bangunan di Kampung Adat Sade menyebar luas.
Kepala Desa Rembitan, Lalu Mirata, mengatakan nilai bantuan materi yang telah diterima pemerintah desa hingga Senin (24/8/2026) diperkirakan mencapai lebih dari Rp2,4 miliar.
“Perkiraan sementara ada Rp 2,4 miliar lebih yang sudah kami terima,” ujar Lalu Mirata.
Menurut dia, salah satu bantuan terbesar datang dari Raffi Ahmad yang memberikan sekitar Rp 1 miliar. Bantuan lainnya antara lain Rp 200 juta dari Sari dan Rp 50 juta dari Sinta, istri Gubernur NTB. Selain itu, terdapat sumbangan dari masyarakat dan berbagai pihak lainnya.
Bantuan juga datang dari wisatawan mancanegara yang sedang berada di Lombok, termasuk mereka yang tengah menikmati liburan di kawasan Mandalika. Sebagian wisatawan asing mendatangi masyarakat dan memberikan bantuan secara langsung.
Nominal yang diberikan wisatawan asing beragam. Ada yang memberikan sumbangan sekitar Rp1 juta hingga Rp2 juta, sementara beberapa lainnya menyumbang mencapai Rp10 juta. Selain uang tunai, sebagian bantuan diberikan dalam bentuk barang dan paket kebutuhan pokok.
“Ada bantuan yang langsung ke masyarakat. Ada juga beberapa bantuan yang bentuknya Rp 1 juta, Rp 2 juta dan ada yang Rp 10 juta dari WNA,” kata Mirata.
Menurut Mirata, kepedulian tersebut menunjukkan bahwa musibah yang dialami masyarakat Sade mendapat perhatian luas. Sade dinilai bukan hanya bagian dari destinasi wisata Lombok, tetapi juga kawasan yang memiliki nilai budaya bagi masyarakat Sasak.
“Ini bentuk kepedulian terhadap Sade. Ini bukan hanya saja datang dari warga NTB, Indonesia, namun juga internasional,” ujarnya.
Ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah memberikan bantuan, baik berupa materi, kebutuhan pokok maupun dukungan moral. Menurutnya, bantuan tersebut menjadi penyemangat bagi warga yang sedang menghadapi masa sulit setelah kehilangan rumah dan harta benda.
“Banyak sekali orang yang bersimpati dan berempati terhadap kejadian ini. Saya atas nama pemerintah desa dan juga masyarakat mengucapkan terima kasih kepada seluruh lapisan, baik lokal, nasional maupun internasional,” katanya.
Mirata menilai bantuan yang terus mengalir menjadi dorongan bagi masyarakat untuk bangkit. Di tengah kondisi kawasan yang masih menyisakan puing-puing kebakaran, dukungan dari berbagai pihak membuat warga merasa tidak menghadapi musibah tersebut seorang diri.
“Ini merupakan cahaya bagi kami yang dalam keadaan saat ini sedang berduka. Bantuan, dukungan, doa dan moril adalah penyemangat bagi kami di saat kami terpuruk,” pungkasnya.
Kebakaran Kampung Adat Sade terjadi pada Sabtu malam, 22 Agustus 2026. Api dengan cepat merambat di kawasan permukiman yang sebagian besar bangunannya menggunakan material seperti kayu, bambu dan alang-alang.
Pasca kebakaran, warga terdampak masih menjalani masa pemulihan dan sebagian mengungsi di rumah kerabat. Selain kebutuhan pangan dan tempat tinggal sementara, warga juga membutuhkan dukungan untuk menghidupkan kembali mata pencaharian, termasuk aktivitas menenun dan berdagang yang selama ini menjadi sumber penghasilan masyarakat Sade.
