Konten dari Pengguna

Sekolah Gratis Belum Cukup, Saatnya Fokus ke Kualitas Guru

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari FADHIL RAHMAN tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Guru mengajar. Source: Freepik
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Guru mengajar. Source: Freepik

Setiap kali pemerintah mengumumkan alokasi anggaran pendidikan, angkanya selalu fantastis. Tahun 2025, misalnya, sudah dicatat angka Rp724 triliun, rekor tertinggi sepanjang sejarah Indonesia. Tapi mari berhenti sejenak: apakah angka besar ini benar-benar menyentuh esensi pendidikan yaitu, proses belajar mengajar?

Jonathan Gruber dalam Public Finance and Public Policy menyampaikan sebuah insight penting: investasi paling efektif dalam pendidikan adalah pada kualitas guru, bukan hanya infrastruktur gedung atau fasilitas fisik.

“Semua Itu Alat, Tapi Interaksi Guru dan Murid Itu Esensinya”

Banyak sekolah sekarang memiliki fasilitas yang memadai , ruang kelas rapi, bantuan operasional, hingga teknologi modern. Namun di beberapa tempat, proses pembelajaran tetap terasa statis: guru mengajar dengan gaya lama, murid mencatat, ujian pun lebih banyak soal hafalan.

Sebaliknya, ada juga sekolah dengan keterbatasan fasilitas, bocor di atap, papan tulis usang,namun gurunya mampu menghadirkan suasana belajar yang hidup, kreatif, dan memantik rasa ingin tahu siswa. Seperti yang diungkapkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim:

“Teknologi adalah tools, hanya suatu alat. Bukan segalanya. Kualitas pembelajaran dalam kelas, interaksi antara guru dan murid itu esensinya.”

“Perubahan Dimulai dari Guru, Bukan dari Atasan”

Frasa itu tidak berlebihan, pembaharuan pendidikan sejati terjadi jika guru memiliki ruang untuk berinovasi dan berkembang, bukan hanya rutinitas administratif. Sayangnya, pelatihan yang selama ini digelar sering hanyalah seremoni: guru datang, tandatangan absen, dapat sertifikat, lalu kembali mengajar seperti biasa.

Berbeda dengan pendekatan berkelanjutan, para guru butuh pendampingan nyata, kolaborasi, serta bahan kurikulum yang progresif agar proses belajar bisa benar-benar berdampak.

Tantangan Nyata di Lapangan

Beberapa tantangan tampak nyata di berbagai daerah:

  • Sekolah di pelosok sering kekurangan guru dengan pelatihan memadai, sementara sekolah kota justru kelebihan fasilitas tapi gurunya pas-pasan.

  • Studi PISA menunjukkan beberapa kelemahan guru di Indonesia: kurang adaptif, tidak benar-benar memahami kebutuhan murid, sering absen, dan sulit berubah metode pengajaran

Fokus pada Guru: Solusi yang Telah Menunggu untuk Diterapkan

Jika kita benar-benar ingin dana triliunan itu menghasilkan perubahan, berikut beberapa langkah yang bisa ditempuh:

1.Pelatihan yang Praktis & Berkelanjutan: pelatihan guru harus diikuti dengan pendampingan di lapangan, bukan hanya sertifikat di atas meja.

2. Insentif untuk Guru Berprestasi: sistem penghargaan berbasis inovasi dan dampak pembelajaran lebih efektif daripada sekadar masa kerja.

3. Komunitas Guru & Kolaborasi Terbuka: ruang bagi guru untuk berbagi praktik terbaik,tentu akan mempercepat penyebaran metode efektif.

4. Pengawasan Publik yang Transparan : dana pendidikan harus bisa dilacak: digunakan untuk apa saja, di mana, dan siapa yang merasakan manfaatnya.

“Kualitas Guru Adalah Investasi Jangka Panjang”

Pendidikan bukan soal hasil kilat dalam waktu singkat. Tapi jika kita konsisten menempatkan guru sebagai pusat kebijakan, maka anggaran besar itu tidak akan sia-sia. Anak-anak kita kelak bukan hanya duduk di kelas megah, tetapi didampingi guru yang mampu menyalakan semangat belajar.

Seperti dikatakan Jusuf Kalla saat Hari Guru Nasional 2014,

“Meningkatkan kesejahteraan guru memang penting. Namun yang tidak boleh ditinggalkan adalah: ketika kesejahteraan naik, mutu guru juga harus ikut naik.”

Pada akhirnya, sekolah gratis hanyalah langkah awal. Masa depan pendidikan Indonesia terletak pada siapa yang berdiri di depan kelas dan apakah mereka memiliki kualitas untuk meneranginya.