Lelah kuliah atau Quarter Life Crisis? Kenali Lewat Psikodiagnostik

Mahasiswa Psikologi - Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Fadhila Tri Rizwana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah Merasa Lelah, Bingung, dan Kehilangan Arah?
Masa kuliah sering dianggap sebagai waktu terbaik untuk belajar, berkembang, dan merancang masa depan. Namun di balik itu, masa ini juga menjadi periode penuh tekanan dan ketidakpastian. Pada usia dewasa awal, seseorang sedang berada dalam fase emerging adulthood, yaitu masa pencarian identitas, eksplorasi pilihan hidup, dan proses menentukan arah masa depan. Tidak heran jika pada fase ini banyak mahasiswa lebih rentan mengalami kebingungan, kecemasan, dan tekanan psikologis (Arnett, 2000).
Tugas kuliah yang menumpuk, deadline yang terus datang, aktivitas organisasi yang menguras energi, hingga tuntutan untuk segera sukses sering kali memunculkan pertanyaan seperti, “Apakah aku sudah berada di jalan yang tepat?” atau “Kenapa orang lain terlihat lebih siap dengan masa depannya daripada aku?”. Ketika harapan tidak selalu berjalan tidak selalu berjalan sesuai kenyataan, kondisi ini dapat berkembang menjadi krisis psikologis pada masa dewasa awal (Robinson & Wright, 2013).
Apa Itu Quarter Life Crisis?
Istilah quarter life crisis pertama kali dipopulerkan oleh Alexandra Robbins dan Abby Wilner melalui buku QuarterLife Crisis. Mereka menjelaskan bahwa quarter life crisis merupakan kondisi krisis emosional yang umumnya dialami individu pada usia 20-an ketika mulai menghadapi realitas kehidupan dewasa, seperti menentukan karier, membangun hubungan interpersonal, mencapai kemandirian finansial, serta menentukan identitas diri (Robbins & Wilner, 2001).
Pada mahasiswa, kondisi ini sering muncul dalam bentuk kebingungan dalam mengambil keputusan, rasa takut gagal, kecemasan terhadap masa depan, penilaian negatif terhadap masa depan, penilaian negatif terhadap diri sendiri, hingga perasaan terjebak dalam situasi yang sulit. Penelitian pada mahasiswa tingkat akhir menunjukkan bahwa kecemasan terhadap masa depan, tekanan akademik, dan ketidakpastian karier menjadi dinamika yang paling dominan dalam pengalaman quarter life crisis.
Lelah Biasa atau Ada Masalah yang Lebih Dalam?
Banyak mahasiswa menganggap semua bentuk kelelahan sebagai hal yang normal. Padahal, tidak semua rasa lelah memiliki sumber yang sama. Dalam konteks akademik, mahasiswa dapat mengalami academic burnout, yaitu kondisi kelelahan fisik, emosional, dan mental akibat tuntutan akademik yang berlangsung terus-menerus. Kondisi ini biasanya ditandai dengan menurunnya energi, sulit fokus, kehilangan minat belajar, dan munculnya keinginan untuk menghindari tugas akademik.
Sementara itu, quarter life crisis melibatkan konflik psikologis yang lebih dalam. Individu tidak hanya merasa lelah terhadap aktivitas yang dijalani, tetapi juga mulai mempertanyakan identitas, tujuan hidup, makna pencapaian, serta masa depan yang sedang dibangun. Penelitian menunjukkan bahwa krisis pada masa dewasa awal sering berkaitan dengan konflik identitas dan kebutuhan untuk menemukan arah hidup yang lebih jelas (Robinson & Wright, 2013)
Peran Psikodiagnostik dalam Memahami Kondisi Mahasiswa
Dalam kondisi seperti ini, psikodiagnostik memiliki peran yang sangat penting untuk membantu memahami apa yang sebenarnya sedang dialami mahasiswa. Psikodiagnostik merupakan proses asesmen dalam psikologi yang dilakukan secara sistematis untuk melihat kondisi mental, emosi. pola pikir, kepribadian, serta dinamika psikologis seseorang secara lebih menyeluruh. Melalui proses ini, psikolog tidak hanya melihat gejala yang tampak di permukaan, tetapi juga mencoba memahami faktor psikologis yang menjadi sumber dari masalah yang dialami individu.
Melalui wawancara psikologis, mahasiswa dapat menceritakan pengalaman, tekanan, serta konflik yang sedang dihadapi secara lebih terbuka. Selain itu, penggunaan tes psikologis memungkinkan pengukuran yang lebih objektif terhadap berbagai aspek psikologis, seperti tingkat stres, kecemasan, depresi, efikasi diri, kemampuan coping, hingga karakteristik kepribadian. Berdasarkan data tersebut, psikolog dapat membedakan apakah individu sedang mengalami kelelahan akademik, kesulitan penyesuaian diri, atau sedang berada pada fase quarter life crisis (Groth-Marnat & Wright, 2009)
Mengapa Mahasiswa Menjadi Kelompok yang Rentan Mengalami Quarter Life Crisis?
Mahasiswa berada pada fase transisi dari remaja menuju dewasa, yaitu masa ketika individu mulai belajar mandiri, mengambil keputusan sendiri, serta memikirkan masa depan dengan lebih serius, baik dalam pendidikan, karier, maupun hubungan sosial. Pada tahap ini, tidak sedikit mahasiswa yang mulai merasa bingung, tidak yakin dengan pilihan hidupnya, atau khawatir terhadap masa depan karena sedang berada dalam proses mencari jati diri dan arah hidup yang lebih jelas (Arnett, 2000).
Di sisi lain, perkembangan teknologi dan media sosial juga ikut menambahkan tekanan psikologis. Melihat pencapaian orang lain secara terus-menerus dapat membuat mahasiswa tanpa sadar membandingkan dirinya dengan orang lain, sehingga muncul perasaan tertinggal, kurang percaya diri, bahkan meragukan kemampuan diri. Ditambah dengan tuntutan akademik, persaingan dunia kerja, harapan keluarga, dan rasa takut gagal, kondisi tersebut dapat meningkatkan kecemasan tentang masa depan dan memicu munculnya quarter life crisis pada dewasa awal (Robinson & Wright, 2013).
Strategi Adaptif dalam Menghadapi Quarter Life Crisis
Tingkatkan Kesadaran Diri (Self-Awareness): Pahami emosi, kenali sumber tekanan, dan sadari bahwa proses hidup setiap orang berbeda.
Hentikan Membandingkan Diri: Kurangi kebiasaan membandingkan pencapaian dengan orang lain, terutama di media sosial, agar tidak cemas.
Tetapkan Target Realistis: Buat tujuan hidup yang sesuai kemampuan dan jalankan secara konsisten.
Cari Dukungan Sosial: Berbagilah cerita dengan teman, keluarga, dosen, atau orang terdekat untuk mengurangi beban emosional.
Hubungi Profesional Jika Perlu: Jangan ragu mencari bantuan psikolog jika kecemasan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari dan membuat sulit fokus.
________________________________________________
Oleh Fadhila Tri Rizwana dan Dr. Rachmat Mulyono, M.Si., Psikolog
