Konten dari Pengguna

Ketika Lelah Kuliah Datang, Aku Ingat Alasan Aku Bertahan

Fadhilah Annadwa Rambe

Fadhilah Annadwa Rambe

Mahasiswi Prodi Sistem Informasi Universitas Pamulang.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fadhilah Annadwa Rambe tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

AI
zoom-in-whitePerbesar
AI

Ada hari-hari ketika kuliah terasa begitu berat. Tugas menumpuk, pikiran lelah, tubuh juga ikut letih. Tidak jarang muncul pertanyaan dalam diri, “Kenapa semua ini terasa sulit sekali?” Di titik itu, rasa ingin menyerah sering datang diam-diam. Bukan karena tidak mampu, tetapi karena terlalu capek untuk terus kuat.

Sebagai mahasiswa, aku belajar bahwa lelah bukan hanya soal fisik. Ada lelah yang datang dari tekanan, dari rasa takut gagal, dari keadaan ekonomi yang tidak selalu mendukung. Terkadang aku melihat teman-teman lain bisa fokus kuliah tanpa harus memikirkan biaya, tanpa harus membagi waktu dengan beban lain. Di sisi lain, aku harus belajar bertahan dengan keterbatasan.

Namun, setiap kali rasa ingin menyerah datang, aku selalu mencoba mengingat satu hal: alasan kenapa aku memilih untuk bertahan. Aku ingat bagaimana perjuangan orang tua, bagaimana harapan yang mereka titipkan padaku. Aku ingat bagaimana pendidikan adalah satu-satunya jalan yang kupunya untuk mengubah keadaan. Dari situlah aku kembali menguatkan diri.

Kuliah bukan hanya tentang mengejar nilai, tetapi tentang membangun masa depan. Tidak semua orang mendapat kesempatan ini dengan mudah. Ada yang harus berjuang lebih keras hanya untuk bisa duduk di bangku perkuliahan. Aku termasuk salah satu dari mereka yang memandang pendidikan sebagai kesempatan yang sangat berharga.

Di setiap langkah yang terasa berat, aku belajar bahwa tidak apa-apa merasa lelah. Tidak apa-apa menangis sejenak, berhenti sebentar, selama setelah itu aku mau bangkit lagi. Lelah bukan tanda bahwa aku lemah. Lelah justru tanda bahwa aku sedang berjuang.

Aku juga belajar bahwa tidak semua orang memulai dari titik yang sama. Ada yang jalannya lurus dan mudah, ada juga yang penuh liku. Tetapi perbedaan itu tidak seharusnya membuat siapa pun merasa kecil. Justru dari perjuangan itulah lahir kekuatan yang tidak semua orang miliki.

Di saat-saat terberat, aku sering bertanya pada diri sendiri: “Untuk siapa semua ini?” Jawabannya selalu sama: untuk masa depan. Untuk keluarga. Untuk diri sendiri yang tidak ingin hidup di tempat yang sama selama selamanya. Pendidikan bagiku bukan sekadar gelar, tetapi jembatan menuju kehidupan yang lebih baik.

Kini aku paham, bertahan bukan berarti tidak pernah ingin menyerah. Bertahan adalah tetap berjalan walaupun pernah ingin berhenti. Bertahan adalah terus melangkah meski langkah terasa berat. Bertahan adalah memilih untuk tetap percaya bahwa semua lelah ini akan bermakna.

Dan ketika suatu hari nanti aku sampai di titik yang aku impikan, aku ingin bisa berkata pada diriku sendiri: aku pernah hampir menyerah, tetapi aku memilih untuk bertahan. Karena mimpiku lebih besar daripada lelahku.