Konten dari Pengguna

Rasa Bersalah Saat Istirahat: Efek Tersembunyi Internalized Capitalism

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fadilah Amanda Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

(Tuntutan produktif. Source: Shutterstock)
zoom-in-whitePerbesar
(Tuntutan produktif. Source: Shutterstock)

Pernahkah kamu merasa bersalah hanya karena memutuskan untuk tidak melakukan apa-apa? Kamu bangun di hari Minggu, merasa lelah secara mental dan fisik, lalu memilih untuk beristirahat. Namun setelah beberapa jam hanya duduk diam, menonton serial atau scroll media sosial, muncul perasaan tidak nyaman. Kamu mulai merasa bersalah. ‘Aku seharusnya melakukan sesuatu yang produktif’, kata suara kecil dalam benakmu. Perasaan bersalah ini tidak selalu berasal dari luar.

Jika kamu mengalaminya, kamu tidak sendirian. Dan bisa jadi kamu sedang mengalami fenomena yang disebut: internalized capitalism.

Apa itu Internalized Capitalism?

Internalized capitalism adalah istilah yang digunakan untuk 6menggambarkan kondisi ketika seseorang menyerap nilai-nilai kapitalistik ke dalam cara berpikir dan memandang dirinya sendiri. Nilai-nilai seperti efisiensi, hasil, kompetisi, dan produktivitas menjadi parameter utama dalam menilai harga diri. Kita tidak lagi hanya hidup di bawah sistem kapitalisme, tetapi sistem itu telah menjelma menjadi suara dalam kepala kita. Saat kita berhenti sejenak, istirahat, atau tidak melakukan hal-hal yang ‘menghasilkan’, kita merasa gagal. Kita merasa tidak layak.

Menurut Anders Hayden, seorang profesor ilmu politik, internalized capitalism adalah keyakinan bahwa nilai diri hanya ada jika kita terus melakukan sesuatu. "You can’t feel value in yourself just for being alive, you have to be a ‘human doing’" (Hayden, 2023).

Fenomena ini dibentuk perlahan sejak kecil. Kita diajarkan bahwa untuk menjadi sukses, kita harus bekerja keras, pantang menyerah, dan mengisi waktu seefisien mungkin. Di sekolah, kita dihargai karena prestasi akademik, bukan karena kemampuan merawat diri atau menjadi teman yang baik. Di media sosial, kita dibanjiri konten tentang orang-orang yang menjalankan tiga pekerjaan sekaligus, bangun jam lima pagi, atau menyelesaikan buku dalam seminggu. Semua ini membentuk persepsi bahwa sibuk adalah norma, dan istirahat adalah kemewahan.

Padahal, manusia bukan mesin. Kita butuh waktu untuk pulih, untuk memelihara kesehatan mental, dan untuk merasakan hidup. Namun internalized capitalism membuat kita merasa bersalah karena melakukan hal-hal yang tidak produktif secara ekonomi. Contohnya, seseorang yang memilih untuk tidur siang di hari kerja, meski pekerjaannya sudah selesai, bisa merasa gelisah seolah sedang melakukan kesalahan. Atau seseorang yang mengambil cuti kerja tapi tetap membuka email karena merasa tidak enak ‘menganggur’. Ini adalah bukti bahwa sistem kapitalisme telah masuk ke dalam cara kita mengelola waktu dan emosi.

Dampak Internalized Capitalism terhadap Kesehatan Mental

1. Kelelahan Kronis dan Burnout

Banyak orang mengalami burnout bukan hanya karena beban kerja, tetapi karena dorongan internal untuk selalu tampil produktif. Ketika seseorang terus-menerus merasa harus produktif demi merasa berharga, mereka cenderung mengabaikan kebutuhan dasar tubuh seperti istirahat dan tidur. Hal ini dapat menyebabkan kelelahan fisik dan emosional yang berujung pada burnout (Petersen, 2020). Burnout ditandai dengan kelelahan ekstrim, sinisme terhadap pekerjaan, dan berkurangnya efikasi pribadi.

2. Gangguan Kecemasan dan Depresi

Internalized capitalism membuat individu merasa gagal ketika mereka tidak bekerja maksimal. Tekanan ini menciptakan kecemasan berlebihan terhadap performa diri dan menurunnya harga diri, yang kemudian dapat berkontribusi pada gejala depresi (Frayne, 2015). Ketika nilai diri sepenuhnya diukur melalui produktivitas, kegagalan kecil pun terasa sebagai krisis identitas.

3. Guilt Culture (Merasa Bersalah)

Rasa bersalah yang muncul saat seseorang mengambil waktu untuk beristirahat merupakan dampak langsung dari kapitalisme yang terinternalisasi. Ini adalah bentuk guilt culture, di mana individu merasa berdosa ketika tidak melakukan sesuatu yang dianggap “bermanfaat secara ekonomi”. Akibatnya, istirahat bukan lagi pemulihan, tapi menjadi sumber stres.

4. Alienasi dari Diri Sendiri dan Relasi Sosial

Internalized capitalism mendorong fokus pada performa individu daripada relasi manusiawi. Orang bisa merasa terisolasi, karena mereka mengabaikan hubungan sosial demi pencapaian pribadi, hingga akhirnya kehilangan makna dalam hidup. Orang-orang ini sering kali tidak bisa menikmati waktu luang karena merasa harus ‘menggunakannya’ untuk hal yang berguna. Akhirnya, mereka kehilangan koneksi dengan tubuh dan emosinya sendiri. Hidup menjadi sekadar rangkaian to-do list, bukan pengalaman yang bermakna.

Yang lebih mengkhawatirkan, internalized capitalism menciptakan ilusi bahwa nilai manusia terletak pada kemampuannya menghasilkan sesuatu. Orang yang sedang sakit, menganggur, atau memilih jalan hidup yang tidak konvensional sering kali merasa tidak berharga. Padahal, nilai diri manusia tidak bisa diukur hanya dari produktivitas. Kita berharga karena keberadaan kita, bukan karena hasil yang kita capai.

Bagaimana Kita Bis Lepas dari Jerat Internalized Capitalism?

1. Membangun Kesadaran Diri (Self-awareness)

Langkah pertama dan paling penting adalah mengenali bahwa kita telah menginternalisasi nilai-nilai kapitalistik dalam cara kita memandang diri sendiri dan orang lain. Banyak dari kita merasa bersalah saat beristirahat, takut dianggap tidak berguna saat tidak produktif, atau merasa gagal saat tidak mencapai target-target kerja. Menurut Tasha Eurich (2018), self-awareness adalah fondasi untuk pertumbuhan psikologis. Dengan memahami pikiran, emosi, dan dorongan internal kita, kita bisa mulai membongkar konstruksi sosial yang tidak sehat dalam diri sendiri.

Kesadaran ini bisa dibangun melalui refleksi diri secara jujur, misalnya dengan bertanya:

  • “Mengapa saya merasa bersalah saat mengambil waktu untuk istirahat?”

  • “Apakah saya hanya merasa berharga ketika sedang ‘sibuk’?”

  • “Apa motivasi di balik kerja keras saya? Apakah karena cinta terhadap pekerjaan, atau takut dianggap gagal?”

2. Mengubah Narasi Diri

Internalized capitalism menciptakan narasi toksik: bahwa manusia harus “menghasilkan” sesuatu agar dianggap layak. Oleh karena itu, penting untuk membangun kembali narasi tentang diri kita. Mengganti pola pikir berbasis performa menjadi pola pikir berbasis keberadaan (being-based value) adalah bentuk radikal dari self-love dan self-liberation. Hal ini disebut sebagai praktik self-compassion, yaitu memperlakukan diri dengan kasih sayang di tengah kegagalan atau ketidaksempurnaan, serta mengakui bahwa kita tidak harus ‘sempurna’ untuk merasa cukup.

Contohnya:

  • Narasi lama: “Aku harus kerja lembur agar tidak dianggap malas.”

  • Narasi baru: “Aku berhak beristirahat karena tubuh dan pikiranku juga butuh dipulihkan.”

3. Istirahat adalah Kebutuhan

Dalam budaya kapitalistik, istirahat sering dipandang sebagai bentuk kemalasan. Padahal, secara biologis dan psikologis, istirahat adalah kebutuhan dasar yang esensial. Melakukan aktivitas tanpa tujuan produktif merupakan bentuk perlawanan halus terhadap tekanan untuk selalu aktif dan efisien.

Istirahat yang berkualitas bisa berupa:

  • Tidur siang tanpa rasa bersalah

  • Menikmati waktu santai tanpa agenda

  • Bermain, berkarya, atau menghabiskan waktu di alam

4. Melatih Boundaries dan Reclaiming Waktu Pribadi

Banyak orang merasa harus selalu available untuk pekerjaan, bahkan di luar jam kerja. Ini adalah bentuk eksploitasi diri yang sudah “dinormalisasi.” Maka, penting untuk melatih kemampuan menetapkan batasan waktu, tenaga, dan pikiran. Dengan reclaiming waktu pribadi, kita sedang merebut kembali otonomi atas hidup kita, mengembalikan nilai bahwa waktu bukan hanya milik pasar, tapi juga milik tubuh dan jiwa kita.

Langkah-langkahnya antara lain:

  • Berani unutk menolak permintaan pekerjaan tambahan di luar kapasitas

  • Mematikan notifikasi kerja di akhir pekan

  • Membuat ritual self-care harian (journaling, meditasi, olahraga ringan)

REFERENSI

Barnard, L., & Curry, J. (2011). Self-compassion: Conceptualizations, correlates & interventions. Review of General Psychology, 15(4), 289–303.

Hayden, A. (2021). Internalized capitalism [Opinion column]. Dalhousie Gazette. Retrieved from Dalhousie Gazette

Neff, K. D., & Germer, C. (2018). The Mindful Self-Compassion workbook: A proven way to accept yourself, build inner strength, and thrive. Guilford Press.

Odell, J. (2019). How to Do Nothing: Resisting the attention economy. Melville House.