Konten dari Pengguna

Keberagaman Bahasa dan Budaya Indonesia sebagai Kekayaan Bangsa

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fadillah Nuruz Zahroh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Dokumentasi pribadi. Gambar ini menunjukkan tradisi Sadranan, salah satu bentuk keberagaman budaya masyarakat Gunungkidul, yang dilaksanakan di area pemakaman warga.
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Dokumentasi pribadi. Gambar ini menunjukkan tradisi Sadranan, salah satu bentuk keberagaman budaya masyarakat Gunungkidul, yang dilaksanakan di area pemakaman warga.

Pentingnya Menjaga Keberagaman Bahasa dan Budaya Indonesia

Keberagaman bahasa dan budaya Indonesia merupakan salah satu kekayaan bangsa yang mencerminkan identitas dan keunikan masyarakatnya. Perbedaan bahasa daerah, adat istiadat, dan tradisi menjadi alasan penting bagi kita untuk saling menghargai dan menjaga persatuan. Namun dalam masyarakat, pertemuan antar bahasa dan budaya tidak dapat dihindari dan cenderung menimbulkan konflik sosial baik vertikal maupun horizontal. Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah mencanangkan program pendidikan karakter melalui kebijakan No. 43/dikti/kep/2006 dan UU No. 12 tahun 2012, di mana Bahasa Indonesia termasuk dalam Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian sebagai penguat semangat kebangsaan. Dengan penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, diharapkan dapat menjaga keharmonisan dan kesatuan di tengah keberagaman.

Secara hakikat, keberagaman didefinisikan sebagai atribut yang membuat satu individu berbeda dari individu lain (Janasz, 2006). Keberagaman bahasa dan budaya terjadi secara alamiah karena faktor alam dan kebebasan pengguna bahasa. Contohnya dalam mengungkapkan bunyi ayam berkokok, Sunda menyebut kongkorongok, Indonesia kukuruyuk, Jepang kokekoko. Perbedaan juga terlihat pada jumlah kosakata, seperti kata dalam bahasa Inggris yang dalam bahasa Indonesia menjadi empat: padi, gabah, beras, dan nasi. Hakikat lainnya adalah strata sosial, misalnya masyarakat Jawa, Sunda, dan Bali yang kompleks memiliki variasi halus dan kasar untuk kata makan, seperti mangan (kasar) dan dahar (halus) di Sunda, sedangkan masyarakat Batak yang stratifikasinya lebih sederhana hanya mengenal kata mangan.

Pemikiran tentang keberagaman ini dijelaskan oleh Boas dalam Duranti (1997) yang melihat antropologi bahasa secara holistik: fisik, linguistik, kebudayaan, dan arkeologi. Manusia beradaptasi dengan lingkungan, sehingga orang pesisir cenderung berbicara keras, sedangkan orang pegunungan lebih halus. Boas juga menekankan pentingnya relativitas budaya (cultural relativism), yaitu memahami budaya dari sudut pandang budaya itu sendiri. Pemikiran ini dilanjutkan oleh muridnya, Edward Sapir dan Benjamin Lee Whorf dengan Hipotesis Sapir-Whorf, yang menyatakan bahwa struktur bahasa mempengaruhi cara berpikir dan pandangan dunia penuturnya. Misalnya, dalam bahasa Indonesia terdapat keragaman leksikal tentang nasi sebagai makanan pokok: padi, gabah, beras, bubur, lontong, ketupat, nasi uduk, dan lain-lain, yang tidak ada dalam budaya lain.

Wujud nyata keberagaman tersebut terlihat pada tradisi-tradisi unik dari Sabang sampai Merauke. Di Tana Toraja ada Rambu Solo, upacara pemakaman untuk mengantar roh ke Puya dengan pemotongan kerbau dan rumah adat Tongkonan. Di Bali ada Ngaben, ritual kremasi untuk memurnikan roh menuju moksha dengan peti berbentuk lembu. Di Pariaman Sumatera Barat ada Tradisi Tabuik untuk memperingati syahidnya Imam Husain pada Hari Asyura. Di Papua ada Suku Asmat yang terkenal dengan seni ukir kayu patung dan perisai yang bermakna spiritual. Dan di Sumba NTT ada Tradisi Pasola, festival perang lempar lembing kayu untuk menyambut panen dalam kepercayaan Marapu. Semua tradisi ini bukan hanya ritual, tetapi juga memiliki nilai spiritual dan daya tarik pariwisata internasional.

Kesimpulan

Pada hakikatnya, bahasa tidak dapat dipisahkan dari budaya dan keduanya adalah pasangan yang tidak terpisahkan. Untuk menjaga kesatuan di tengah keberagaman, diperlukan alat pemersatu yaitu Bahasa Indonesia. Keberagaman bahasa dan budaya adalah hal yang harus dijaga dan dilestarikan sebagai identitas nasional. Selain untuk identitas, kekayaan ini juga dapat menjadi salah satu pendapatan negara untuk mendatangkan devisa melalui kegiatan pentas seni baik nasional maupun internasional, serta mendukung pariwisata Indonesia di mata dunia.