165 Puskesmas dan 12 RS di NTT Rusak, Menkes Ajukan Anggaran Perbaikan Rp 1,39 T

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengajukan anggaran sekitar Rp 1,39 triliun untuk memperbaiki 165 puskesmas dan 12 rumah sakit yang rusak akibat bencana di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
Budi mengatakan, Kementerian Kesehatan langsung melakukan penanganan kesehatan sejak hari pertama bencana terjadi. Tahap awal difokuskan pada pencarian dan penanganan warga yang mengalami cedera akibat bencana.
"Melaporkan untuk NTT sedikit Bapak Presiden. Di hari pertama bencana terjadi kami langsung dikontak oleh Pak Seskab untuk segera melakukan penanganan masalah kesehatan. Tahap nomor satu yang kami lakukan adalah mencari pasiennya yang terkena dampak. Ada 900 lebih pasien yang patah tulang atau badan, tangan, kaki, kepala yang kita cari dengan mengirim hampir 900 relawan ke desa-desa di sana. Dan Alhamdulillah dalam seminggu, dari 900 pasien tersebut sudah tertangani dan 400 harus dibawa ke rumah sakit Bapak Presiden untuk dilakukan operasi atau penanganan lainnya," kata Budi dalam rapat terbatas (ratas) penanganan bencana secara daring bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (7/9).
Setelah penanganan pasien terdampak, Kemenkes berfokus pada pemulihan layanan kesehatan. Budi menyebut 165 puskesmas mengalami kerusakan, dengan 34 di antaranya dalam kondisi hancur.
Selain fasilitas tingkat puskesmas, sebanyak 12 rumah sakit juga mengalami kerusakan. Dua rumah sakit di antaranya dilaporkan hancur, yakni di Nagekeo dan Ruteng.
"Tahap kedua, sesudah semua pasien-pasien yang 900 orang itu tertangani, kami berusaha untuk mengembalikan layanan puskesmas dan rumah sakit Bapak Presiden. Ada 165 puskesmas yang rusak, 34 di antaranya hancur, 12 rumah sakit yang rusak, 2 di antaranya hancur di Nagekeo dan di Ruteng," ujarnya.
Kemenkes Bangun Fasilitas Kesehatan Sementara
Untuk memastikan layanan kesehatan tetap berjalan, Budi menjelaskan pemerintah membangun rumah sakit lapangan dan menggunakan tenda untuk fasilitas kesehatan yang terdampak. Ia menyampaikan apresiasi kepada BNPB dan TNI yang membantu menyediakan tenda.
"Kita segera membangun rumah sakit lapangan di sana dan terima kasih bantuan BNPB, TNI, kita mendapatkan tenda untuk seluruh puskesmas tersebut. Kita juga terima kasih ke Menkominfo dan Pak Bahlil karena sudah mendapatkan puluhan genset dan Starlink yang sekarang 165 puskesmas dan 12 rumah sakit sudah beroperasi kembali," kata dia.
Namun, menurut Budi, penggunaan tenda hanya menjadi solusi sementara. Pemerintah perlu segera memperbaiki fasilitas kesehatan yang mengalami kerusakan agar pelayanan kepada masyarakat dapat kembali dilakukan secara permanen.
"Nah mungkin, untuk minta tolong Bapak Presiden adalah yang ketiga karena puskesmas rumah sakit itu operasionalnya di tenda itu hanya bisa sementara, jadi kami dengan Pak Gubernur sudah bekerja untuk menghitung kerusakan dari 165 puskesmas dan 12 rumah sakit ini angkanya sudah ada secara ? Cek? Inventory dan saya sudah kirimkan kemarin Bapak Presiden ke Menteri Keuangan, Menteri Bappenas, Mendagri juga, Mensesneg, kebutuhan totalnya ada sekitar 1,39 triliun hitungan sementara. Mengapa ini penting Bapak Presiden?" ucap dia.
Budi menegaskan keberadaan fasilitas kesehatan di dalam tenda tidak dapat dipertahankan dalam jangka panjang. Karena itu, anggaran perbaikan diperlukan untuk memulihkan pelayanan kesehatan di wilayah terdampak bencana.
"Karena tidak mungkin layanan kesehatan itu dilakukan terus di tenda baik yang untuk puskesmas dan rumah sakit. Jadi ada anggaran yang sudah kami ajukan sebesar Rp 1,39 triliun untuk memperbaiki 165 puskesmas dan 12 rumah sakit di Provinsi Nusa Tenggara Timur bersama dengan Pak Gubernur," tandas dia.
