Abu Vulkanik Anak Krakatau Sampai Jakarta, Warga Diminta Jangan Panik

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta Marulitua Sijabat meminta masyarakat tidak panik menyikapi terdeteksinya sebaran abu vulkanik dari aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda hingga sebagian wilayah Jakarta, Minggu (6/9).
“Yang paling penting, masyarakat tidak perlu panik. Tetap tenang, tetapi tingkatkan kewaspadaan dan ikuti informasi resmi dari pemerintah,” kata Marulitua dalam keterangannya, Minggu (6/9).
Berdasarkan informasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi, Gunung Anak Krakatau masih berstatus Level III atau Siaga.
Aktivitas erupsi gunung api tersebut telah berlangsung sejak Jumat (4/9) malam. Hingga Minggu (6/9), belum ada peningkatan status Gunung Anak Krakatau.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi sebaran abu vulkanik yang mencapai sebagian wilayah DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat. Untuk wilayah Jakarta, abu diperkirakan memiliki intensitas tipis dan sebarannya dapat berubah bergantung pada arah dan kecepatan angin.
Marulitua menjelaskan, abu vulkanik memiliki karakter berbeda dengan debu pada umumnya. Partikelnya berukuran sangat halus sehingga berpotensi mengganggu saluran pernapasan, mata, maupun kulit, terutama bagi kelompok masyarakat yang rentan.
Karena itu, Pemprov DKI meminta masyarakat menerapkan sejumlah langkah perlindungan diri selama kondisi tersebut berlangsung:
Warga yang harus beraktivitas di luar rumah disarankan menggunakan masker. Pemprov DKI mengingatkan masker kain biasa tidak cukup optimal untuk menyaring partikel abu vulkanik.
Masyarakat diminta menutup pintu, jendela, serta ventilasi rumah. Kipas angin atau pendingin ruangan yang mengambil udara dari luar sebaiknya dimatikan apabila lingkungan sekitar rumah mulai terdampak abu.
Aktivitas di luar rumah perlu dikurangi, khususnya bagi bayi, anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki asma maupun penyakit paru dan jantung.
Apabila abu vulkanik mulai menumpuk di sekitar rumah, warga diminta membasahinya terlebih dahulu sebelum melakukan pembersihan. Langkah tersebut untuk mencegah abu beterbangan kembali saat disapu dalam kondisi kering.
Tempat penyimpanan makanan dan air perlu ditutup agar tidak terkontaminasi abu vulkanik. Makanan atau air yang telah terpapar abu sebaiknya tidak dikonsumsi.
Warga yang mengalami gejala seperti sesak napas berat, nyeri dada, batuk berkepanjangan, atau iritasi mata yang semakin parah diminta segera mencari pertolongan medis di fasilitas kesehatan.
Dalam kondisi darurat di wilayah Jakarta, masyarakat dapat menghubungi layanan Jakarta Siaga melalui nomor 112.
Masyarakat juga diimbau tidak langsung mempercayai maupun menyebarluaskan informasi terkait aktivitas Gunung Anak Krakatau yang belum terverifikasi.
Perkembangan aktivitas gunung api dan kondisi udara di Jakarta diimbau merujuk pada informasi resmi PVMBG, BMKG, BNPB, BPBD, serta Pemprov DKI Jakarta.
Pemprov DKI menyatakan akan terus berkoordinasi dengan instansi terkait untuk memantau perkembangan sebaran abu vulkanik. Informasi terbaru akan disampaikan apabila terdapat kondisi yang perlu diketahui masyarakat.
“Jakarta tetap beraktivitas seperti biasa dengan kewaspadaan yang proporsional. Ikuti informasi resmi, lindungi diri dan keluarga, tetap tenang, tetap waspada,” tutupnya.
