Anggota DPRD TTU Buka Suara soal Dugaan Intimidasi Dokter Icha

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Anggota DPRD TTU, Veronika Lake saat menberikan keterangan pers. Foto: kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Anggota DPRD TTU, Veronika Lake saat menberikan keterangan pers. Foto: kumparan

Anggota DPRD Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT), Veronika Lake, memberikan klarifikasi setelah namanya disebut dalam pemberitaan terkait kasus meninggalnya dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni atau dr. Icha. Ia menegaskan tidak pernah berniat mengintimidasi almarhumah saat bertugas di RS Leona Kefamenanu.

Dalam pernyataan resminya, Veronika lebih dulu menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya dokter muda tersebut.

"Saya, Veronika Lake, dengan penuh kerendahan hati menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas meninggalnya Dokter Icha. Semoga almarhumah mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan serta penghiburan," ujarnya, Minggu (29/6).

Veronika mengatakan, klarifikasi ini disampaikan sebagai penjelasan atas kronologi yang dialaminya secara langsung setelah namanya dikaitkan dengan peristiwa di RS Leona.

kumparan post embed

Hanya Ikut Membesuk

Menurut Veronika, pada 13 Juni, dirinya menghadiri kegiatan arisan istri anggota DPRD TTU di Kecamatan Insana. Saat kembali ke Kefamenanu, ia menumpang kendaraan bersama dua anggota DPRD lainnya dan seorang istri anggota dewan.

Di tengah perjalanan, salah seorang anggota DPRD, Therensius Lazakar, mengajak rombongan singgah ke RS Leona untuk menjenguk keponakannya yang sedang dirawat di IGD akibat gigitan ular berbisa.

"Saya ikut membesuk karena kebetulan pulang bersama rombongan tersebut. Kehadiran saya di rumah sakit bukan merupakan kunjungan yang direncanakan sebelumnya," katanya.

Ia mengaku semula berada di depan IGD bersama istri salah seorang anggota DPRD. Saat masuk ke ruang perawatan, ia melihat perdebatan antara dua anggota DPRD dan seorang dokter sudah berlangsung.

Veronika mengatakan, dirinya kemudian menanyakan perkembangan penanganan pasien serta standar pelayanan rumah sakit.

"Saya kemudian ikut menanyakan bagaimana tindak lanjut penanganan pasien, standar pelayanan, dan kualitas pelayanan," ujarnya.

Suasana rumah duka dokter Eliza Princila Utami Pakaenoni. Foto: kumparan

Jelaskan Maksud Ucapan "Panggil Wartawan Saja"

Veronika juga menjelaskan ucapannya yang belakangan menjadi sorotan, yakni kalimat "panggil wartawan saja".

Menurutnya, ucapan tersebut bukan ditujukan kepada dr. Icha, melainkan sebagai usulan agar pelayanan rumah sakit mendapat perhatian publik.

"Terkait perkataan 'panggil wartawan saja', itu saya maksudkan sebagai usulan kepada salah satu rekan DPRD agar ada liputan eksternal dan investigatif terkait transparansi pelayanan kesehatan, evaluasi, dan perbaikan kualitas pelayanan. Jadi, tidak ditujukan kepada personal atau pribadi, tetapi sebagai bentuk dorongan untuk perbaikan pelayanan kesehatan di rumah sakit," jelasnya.

Ia mengatakan setelah itu manajemen RS Leona bersama dokter lain datang memberikan penjelasan mengenai prosedur penanganan pasien. Menurut Veronika, persoalan tersebut kemudian diselesaikan melalui diskusi.

Veronika juga menyebut dua anggota DPRD yang terlibat telah menyampaikan permohonan maaf kepada pihak rumah sakit dan dr. Icha.

"Kedua rekan saya sudah menyampaikan permohonan maaf kepada pihak manajemen dan almarhumah Dokter Icha saat itu juga," katanya.

Ia menegaskan tidak kembali lagi ke RS Leona pada keesokan harinya dan siap memberikan keterangan apabila dibutuhkan penyidik.

"Saya menghormati seluruh proses yang sedang berjalan dan siap bekerja sama memberikan keterangan apabila sewaktu-waktu diperlukan oleh pihak yang berwenang," ujarnya.

Suasana rumah duka dokter Eliza Princila Utami Pakaenoni. Foto: kumparan

Kasus Masih Diselidiki Polisi

Kasus meninggalnya dr. Icha menjadi perhatian publik setelah keluarga menduga almarhumah mengalami tekanan psikologis usai insiden saat bertugas menangani pasien di IGD RS Leona Kefamenanu.

Paman almarhumah, Victor Manbait, sebelumnya menyatakan dr. Icha telah menjalankan penanganan pasien sesuai standar operasional prosedur (SOP) dan arahan dokter spesialis. Namun, situasi disebut memanas ketika keluarga pasien meminta pemberian vaksin tertentu yang menurut pertimbangan medis belum direkomendasikan dan tidak tersedia di rumah sakit.

Victor mengatakan dua anggota DPRD TTU sempat mendatangi ruang pelayanan dan mempertanyakan penanganan medis dengan nada tinggi. Salah seorang di antaranya disebut menunjuk wajah dr. Icha saat meminta penjelasan.

"Dokter Icha mengaku masih ketakutan dan mengalami tekanan psikologis akibat bentakan yang diterimanya saat bertugas," kata Victor.

Sementara dua anggota DPRD TTU yang juga disebut dalam peristiwa tersebut, Therensius Lazakar dan Norbertus Tubani, membantah melakukan intimidasi. Keduanya menyatakan hanya meminta penjelasan mengenai kondisi pasien dan telah menyampaikan permohonan maaf kepada pihak rumah sakit.

Hingga kini, Polres TTU dan Polres Kupang masih menyelidiki rangkaian peristiwa tersebut, termasuk dugaan intimidasi yang dilaporkan keluarga dr. Icha.