Bandara Riyadh Kembali Beroperasi, Houthi Ancam Lanjutkan Serangan

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Jemaah umrah di Bandara Riyadh beberapa detik sebelum serangan terjadi, Oktober 2026. Foto: Dok. AlekhbariyaTV
zoom-in-whitePerbesar
Jemaah umrah di Bandara Riyadh beberapa detik sebelum serangan terjadi, Oktober 2026. Foto: Dok. AlekhbariyaTV

Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi, kembali membuka sebagian operasionalnya pada Minggu (25/10), di tengah ancaman serangan lanjutan dari kelompok Houthi Yaman.

Dikutip dari Reuters, otoritas bandara mengumumkan Terminal 1 akan melayani penerbangan domestik. Sedangkan Terminal 2 digunakan untuk penerbangan internasional yang dioperasikan maskapai nasional Saudi.

Meski demikian, data pelacakan penerbangan Flightradar24 menunjukkan lalu lintas penerbangan di bandara tersebut masih terbatas pada Minggu.

Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, sebelumnya memperingatkan bahwa bandara itu tidak akan pernah aman. Ia juga meminta maskapai penerbangan, staf bandara, dan penumpang untuk tidak menggunakan fasilitas tersebut.

Bandara King Khalid menghentikan operasionalnya pada 10 Oktober setelah serangan yang diklaim Houthi menewaskan 13 orang. Menurut laporan tersebut, serangan itu menjadi insiden paling mematikan di Arab Saudi dalam lebih dari satu dekade.

Saudi Cegat Rudal dan Drone

Di tengah ancaman terhadap bandara, otoritas pertahanan sipil Saudi melaporkan pecahan rudal balistik yang dicegat di wilayah Khamis Mushait dan Ahad Rafidah melukai dua orang serta merusak bangunan tempat tinggal dan kendaraan pada Minggu.

Sebelumnya, otoritas juga mengeluarkan peringatan darurat untuk Riyadh serta sejumlah kota, yakni Abha, Khamis Mushait, Jazan, dan Najran. Beberapa menit kemudian, otoritas menyatakan ancaman telah berlalu.

Koalisi pimpinan Saudi menyebut dua drone dan satu rudal balistik diluncurkan ke arah Riyadh, sementara satu rudal jelajah diarahkan ke Khamis Mushait. Koalisi kemudian melaporkan telah mencegat 10 rudal balistik yang ditembakkan ke wilayah selatan Arab Saudi.

Kelompok Houthi mengklaim telah menyerang bandara dan fasilitas minyak Saudi pada Sabtu (24/10). Namun, otoritas Saudi tidak memberikan komentar langsung atas klaim tersebut.

Koalisi pimpinan Saudi juga menyatakan bahwa Houthi melancarkan 20 serangan terhadap bandara antara 1 dan 11 Oktober.

Ilustrasi Bandara Riyadh. Foto: Fedor Selivanov/Shutterstock

Konflik Saudi-Houthi Kembali Memanas

Ketegangan tersebut menjadi bagian dari konflik regional yang semakin meluas di tengah serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Arab Saudi, yang merupakan sekutu AS, turut menghadapi tekanan akibat serangan yang dikaitkan dengan Houthi.

Saudi juga meningkatkan serangan terhadap kelompok Houthi setelah kelompok tersebut merebut wilayah strategis di sepanjang pesisir Laut Merah pada bulan sebelumnya. Wilayah itu mendekati Selat Bab el-Mandeb, jalur pelayaran penting bagi perdagangan global dan pengangkutan minyak dari kawasan Teluk.

Pertempuran yang kembali meningkat di Yaman turut mengancam gencatan senjata yang dimediasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan sebagian besar bertahan sejak 2022.

Arab Saudi terlibat dalam perang saudara Yaman pada 2015 sebagai pemimpin koalisi yang mendukung pemerintah yang diakui secara internasional, setelah Houthi merebut ibu kota Sanaa pada tahun sebelumnya.