Bicara di Forum U20 New York, Pram Ungkap Strategi DKI Hadapi Perubahan Iklim

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung saat menghadiri U20 Mayors Summit 2026 di New York, Amerika Serikat, Minggu (20/9/2026). Foto: Dok. Pemprov DKI Jakarta
zoom-in-whitePerbesar
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung saat menghadiri U20 Mayors Summit 2026 di New York, Amerika Serikat, Minggu (20/9/2026). Foto: Dok. Pemprov DKI Jakarta

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memaparkan sejumlah upaya Jakarta menghadapi perubahan iklim melalui pengembangan transportasi publik dan pengelolaan sampah saat menjadi pembicara dalam Heat Roundtable di New York, Amerika Serikat, Minggu (20/9).

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian kunjungan kerja Pramono ke New York untuk menghadiri Urban 20 (U20) Mayors Summit 2026.

Pramono mengatakan, aksi menghadapi perubahan iklim tidak hanya berkaitan dengan upaya mengurangi emisi. Menurutnya, kebijakan iklim juga harus menghadirkan kota yang lebih bersih, sehat, terjangkau, dan nyaman dihuni.

“Aksi iklim harus memberikan manfaat nyata yang dapat dilihat dan dirasakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari melalui transportasi yang lebih bersih, ruang publik yang lebih baik, energi yang lebih bersih, serta kualitas hidup yang lebih baik,” ujar Pramono dalam keterangannya.

Pramono memaparkan tantangan Jakarta sebagai kota metropolitan dengan mobilitas tinggi. Setiap hari, sekitar empat juta orang bergerak keluar-masuk Jakarta dari wilayah penyangga, terutama pada jam sibuk. Di sisi lain, Jakarta menghasilkan sekitar 9.000 ton sampah per hari.

“Persoalan kemacetan, polusi udara, dan sampah tidak berdiri sendiri. Ketiganya berkaitan langsung dengan mobilitas, kesehatan, serta kualitas hidup masyarakat. Karena itu, kebijakan iklim Jakarta diarahkan agar menghasilkan perubahan yang dapat dirasakan warga,” ungkapnya.

Petugas UPS Badan Air Dinas Lingkungan Hidup mengangkut sampah di Kali Cideng, kawasan perkantoran Kuningan, Setiabudi, Jakarta Selatan, Jumat (25/9/2026). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Transportasi Publik

Salah satu langkah yang dilakukan Jakarta adalah transformasi transportasi publik. Pemprov DKI Jakarta terus mengintegrasikan MRT, LRT, Transjakarta, Transjabodetabek, dan kereta komuter.

Saat ini, konektivitas transportasi publik Jakarta disebut telah mencapai sekitar 93 persen.

“Kami sedang mengubah cara masyarakat bergerak melintasi Jakarta. Kami ingin menyediakan alternatif yang andal dan terjangkau selain kendaraan pribadi, sekaligus mengurangi kemacetan dan emisi,” tuturnya.

Pengembangan jaringan transportasi publik juga terus dilakukan. Pemprov DKI Jakarta menargetkan jaringan MRT bertambah dari sekitar 15,7 kilometer menjadi 46,5 kilometer pada 2034.

Sementara itu, jaringan LRT ditargetkan berkembang hingga 75 kilometer pada 2029.

Jakarta juga mulai memperkuat elektrifikasi transportasi publik. Hingga 2026, Transjakarta mengoperasikan sekitar 4.792 armada, termasuk 500 bus listrik.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan transportasi publik yang lebih ramah lingkungan.

Menurut Pramono, pembangunan transportasi publik tidak semata-mata untuk mengurangi kemacetan. Transportasi publik juga harus menjadi bagian dari solusi perubahan iklim sekaligus memperluas akses mobilitas masyarakat.

Petugas gabungan yang terdiri dari Ditlantas Polda Metro Jaya, Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta dan Dinas Perhubungan DKI Jakarta menindak pengendara kendaraan bermotor di razia tilang uji emisi di kawasan Cakung, Jakarta, Rabu (1/11). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Pengelolaan Sampah

Selain transportasi, Jakarta memperkuat pengelolaan sampah. Dengan produksi sekitar 9.000 ton sampah per hari, Pemprov DKI mengubah pendekatan dari sekadar kumpul-angkut-buang menjadi pilah-angkut-olah.

Sejak 1 Agustus 2026, Bantargebang hanya menerima sampah residu. Sementara itu, pemilahan dan pengolahan sampah didorong dilakukan sejak dari sumber.

Jakarta juga mengembangkan fasilitas waste-to-energy (WTE) bersama pemerintah pusat. Dua fasilitas tersebut diarahkan untuk mengolah sampah menjadi energi sekaligus mengurangi beban sampah yang berakhir di tempat pemrosesan akhir.

Pemprov DKI turut memperkuat pengelolaan sampah berbasis masyarakat melalui Gerakan Pilah Sampah dan kegiatan daur ulang.

Sampah menumpuk di Kali Cideng, kawasan perkantoran Kuningan, Setiabudi, Jakarta Selatan, Jumat (25/9/2026). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Pramono mengatakan ketahanan iklim tidak hanya dibangun melalui proyek berskala besar, tetapi juga melalui perubahan cara kota mengelola mobilitas, energi, sampah, dan ruang publik.

“Kita tidak boleh melihat aksi iklim sebagai sesuatu yang jauh dari kehidupan masyarakat. Ukurannya sederhana: apakah udara menjadi lebih bersih, perjalanan menjadi lebih mudah, ruang publik menjadi lebih baik, dan lingkungan menjadi lebih sehat,” tandasnya.

Pramono menambahkan, Jakarta terus belajar dari berbagai kota besar dunia dalam memperluas ruang terbuka hijau dan meningkatkan ketahanan terhadap dampak perubahan iklim, termasuk menghadapi peningkatan suhu perkotaan.

Ia menegaskan Jakarta terbuka untuk bertukar pengalaman dan bekerja sama dengan kota-kota lain dalam mencari solusi yang sesuai dengan karakter masing-masing.

“Jakarta siap berbagi praktik baik, belajar dari kota-kota lain, dan mewujudkan tujuan iklim bersama menjadi solusi yang praktis,” pungkasnya.