Cerita Kades soal Pencuri Ayam di Bali Dihakimi Warga: Mengancam Pakai Sajam

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi pemukulan. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pemukulan. Foto: Shutterstock

Perbekel atau Kepala Desa Batunya, I Made Riasa, mengungkap kronologi sebelum pengeroyokan terhadap pria berinisial KD yang diduga mencuri ayam di Banjar Juwuk Legi, Desa Batunya, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali.

Menurut Riasa, pengeroyokan yang terjadi pada Jumat (24/7) dini hari itu berawal ketika pemilik ayam memergoki KD diduga tengah mencuri ayam. Saat dipergoki, KD disebut mengacungkan senjata tajam dan mengancam akan membunuh pemilik ayam.

“Dia meneror, saya bunuh kamu. Karena dia yang punya ayam merasa takut, lari yang punya ayam, tidak berani,” kata Riasa ketika dihubungi, Rabu (29/7).

Pemilik ayam kemudian menghubungi adiknya yang saat itu sedang menghadiri resepsi di lokasi yang cukup jauh dari desa. Informasi tersebut lantas disampaikan kepada Ketua Pecalang Banjar Juwuk Legi dan warga yang berada di pos keamanan lingkungan (kamling).

Tak lama kemudian, kulkul bulus atau kentongan tanda bahaya dibunyikan.

“Itu spontanitas. Ketika memang ada pencuri, pasti kulkul bulus dibunyikan,” jelasnya.

Menurut Riasa, bunyi kulkul membuat warga yang tengah beristirahat berdatangan ke lokasi. Ia mengatakan warga telah lama resah karena maraknya kasus kehilangan ayam di desa tersebut.

“Mereka semua merasa geram karena ayam-ayamnya bukan ayam boiler. Mereka sudah pernah kehilangan sampai ada 10 ekor, bahkan 16 ekor. Dulunya mereka mengikhlaskan saja karena pencurinya tidak kedapatkan. Warga sudah melaporkan ke pihak berwajib, tetapi hasilnya juga tidak memuaskan,” terang Riasa.

Warga Disebut Bergantung pada Ternak Ayam

Riasa mengatakan sebagian warga Banjar Juwuk Legi menggantungkan penghasilan dari beternak ayam, khususnya ayam aduan. Menurutnya, beberapa warga bahkan mengambil pinjaman Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk membeli bibit dan membiayai pemeliharaan ayam hingga siap dijual.

Karena itu, menurut Riasa, kehilangan ayam berdampak pada kondisi ekonomi para peternak, termasuk kemampuan mereka membayar pinjaman dan memenuhi kebutuhan keluarga.

Riasa menyebut ayam yang dipelihara warga umumnya bernilai sekitar Rp1 juta per ekor. Sementara ayam impor dapat bernilai Rp10 juta hingga Rp15 juta per ekor.

“Ada masyarakat saya yang memelihara ayam tersebut dari telur sampai sudah besar, tahu-tahu hilang. Kalau dihitung kerugiannya mencapai Rp12 juta. Padahal rencananya itu (hasil jual ayam) dipakai beli sepeda motor untuk anaknya,” ungkapnya.

Sepeda motor milik terduga pelaku pencurian ayam yang tewas dikeroyok massa di Banjar Dinas Juwuk Legi, Desa Batunya, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Jumat (24/7/2026). Foto: Polres Tabanan

Desa Berharap Ada Mediasi

Atas kasus tersebut, Riasa mengatakan pihak desa berharap lima warga yang telah ditetapkan sebagai tersangka mendapat keringanan hukuman. Menurutnya, mereka merupakan tulang punggung keluarga.

Pemerintah Desa Batunya juga berencana menempuh mediasi dengan keluarga korban di Desa Sidatapa, Buleleng. Langkah itu diharapkan dapat memulihkan hubungan sosial antarmasyarakat tanpa mengesampingkan proses hukum yang sedang berjalan.

“Mudah-mudahan bisa kita melakukan mediasi dan hukumannya lebih diringankan, agar kita bisa saling mengisi. Artinya, warga yang dinyatakan sebagai tersangka agar bisa juga menghidupi keluarganya,” tutupnya.