Gerakan Mahasiswa Menang Pemilu, Eks Presiden Serbia Vucic Akui Kekalahan

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sejumlah warga dan mahasiswa melaksanakan unjuk rasa menuntut kematian 15 orang di stasiun kereta api di Beograd, Serbia, Sabtu (14/3/2025). Foto: Djordje Kojadinovic/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah warga dan mahasiswa melaksanakan unjuk rasa menuntut kematian 15 orang di stasiun kereta api di Beograd, Serbia, Sabtu (14/3/2025). Foto: Djordje Kojadinovic/REUTERS

Aleksandar Vucic mengakui kekalahan dalam pemilihan parlemen Serbia pada Minggu (25/10).

Ia menyebut, gerakan mahasiswa yang menentang pemerintah memenangkan pemilu dan diperkirakan meraih 135-140 kursi di parlemen yang memiliki 250 kursi.

“Kami masih belum memiliki hasil akhir, berdasarkan sampel ... jelas bahwa kami telah kalah dalam pemilihan ini, Daftar Mahasiswa telah menang, mereka akan memiliki antara 135 dan 140 kursi dan kami akan memiliki 105, tidak ada orang lain yang masuk parlemen,” kata Vucic, dikutip dari Reuters.

Vucic menyampaikan pengakuan tersebut setelah pemungutan suara dalam pemilu parlemen dini berakhir. Ia mengatakan hasil yang disampaikan masih berdasarkan sampel dan belum merupakan hasil akhir.

Vucic memperkirakan koalisinya memperoleh sekitar 1,72 juta suara, sedangkan Daftar Mahasiswa meraih sekitar 2,2 juta suara. Perolehan tersebut masih berupa perkiraan awal.

Pemilu ini menjadi tantangan politik besar bagi kelompok yang dipimpin Vucic. Partainya, Partai Progresif Serbia (SNS), telah mendominasi politik Serbia selama bertahun-tahun. Sementara gerakan mahasiswa memperoleh dukungan luas setelah menggelar demonstrasi antikorupsi selama hampir dua tahun.

Aleksandar Vucic melambaikan bendera Serbia dalam sebuah unjuk rasa di Beograd pada 27 Juni 2026. Foto: OLIVER BUNIC / AFP

Protes Antikorupsi Berawal dari Tragedi Novi Sad

Pemilu dini yang digelar pada 25 Oktober berlangsung setelah Vučić menyerukan pemungutan suara lebih cepat pada September 2026. Pemilu semestinya baru digelar pada Desember 2027.

Gelombang demonstrasi mahasiswa bermula setelah kanopi beton di stasiun kereta api Kota Novi Sad runtuh pada November 2024 dan menewaskan 16 orang. Peristiwa tersebut memicu kemarahan publik serta tuduhan korupsi dan praktik kolusi dalam proyek renovasi stasiun.

Para demonstran menuntut pertanggungjawaban atas tragedi tersebut dan perubahan dalam tata kelola pemerintahan. Mereka juga menyoroti dugaan korupsi serta kecenderungan pemerintahan yang semakin otoriter. Vucic dan sekutunya membantah tuduhan korupsi yang diarahkan kepada mereka.

Gerakan mahasiswa kemudian berkembang menjadi kekuatan politik yang menantang SNS. Daftar Mahasiswa mengusung 250 kandidat, yang mencakup kalangan akademisi, dokter, seniman, atlet, petani, dan profesional lainnya. Meski digerakkan mahasiswa, kandidat dalam daftar tersebut bukan hanya mahasiswa aktif.

Gerakan itu mengusung agenda pemberantasan korupsi, pemulihan demokrasi, perbaikan institusi negara, dan pembenahan sektor pendidikan.

Sejumlah warga dan mahasiswa melaksanakan unjuk rasa menuntut kematian 15 orang di stasiun kereta api di Beograd, Serbia, Sabtu (14/3/2025). Foto: Djordje Kojadinovic/REUTERS

Partisipasi Tinggi, Pengamat Soroti Dugaan Pelanggaran

Pemilu parlemen Serbia diikuti 18 daftar peserta yang bersaing memperebutkan 250 kursi parlemen. Reuters melaporkan tingkat partisipasi mencapai 67,6 persen hingga pukul 19.00 waktu setempat, berdasarkan data lembaga pemantau CeSID dan Ipsos. Angka tersebut menjadi yang tertinggi sejak pecahnya Yugoslavia pada 1992.

Namun, pemungutan suara juga diwarnai laporan mengenai dugaan pelanggaran. Pengamat pemilu independen melaporkan sejumlah insiden, termasuk dugaan upaya membeli suara dan pemotretan surat suara yang dinilai dapat mengindikasikan tekanan terhadap pemilih.

Media lokal juga melaporkan beberapa insiden kekerasan. Duta Besar Uni Eropa untuk Serbia, Andreas von Beckerath, menyatakan keprihatinan atas laporan tersebut dan menyerukan semua pihak tetap tenang serta menghindari kekerasan dan provokasi.

Uni Eropa turut memantau pelaksanaan pemilu karena Serbia merupakan negara kandidat anggota blok tersebut. Pemilu ini berlangsung di tengah kekhawatiran pengamat mengenai kebebasan media, kondisi kampanye, dan kesetaraan proses pemilihan.

Para mahasiswa dan warga memegang plakat dan meneriakkan slogan-slogan saat melakukan unjuk rasa di pusat kota Beograd, Serbia, Minggu (22/12/2024). Foto: Andrej Isakovic/AFP

Vucic Mundur dari Jabatan Presiden untuk Maju sebagai PM

Vucic sebelumnya mengumumkan pengunduran dirinya dari jabatan presiden pada September 2026 untuk mengikuti pemilu parlemen dan berupaya kembali menjadi perdana menteri.

Ia telah memimpin Serbia sebagai perdana menteri dan presiden selama lebih dari satu dekade. Partainya dan para pendukungnya mengaitkan kepemimpinannya dengan pembangunan infrastruktur serta modernisasi negara, sementara kelompok oposisi menyoroti dugaan korupsi dan persoalan kebebasan media.