Kebakaran Adat Desa Sade, Manuskrip Lontar Berusia Ratusan Tahun Hangus Terbakar

Kebakaran yang melanda Kampung Adat Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, tidak hanya menghanguskan rumah dan fasilitas warga. Sejumlah benda yang memiliki nilai sejarah dan budaya masyarakat Sasak juga ikut terdampak.
Salah satunya manuskrip kuno berbahasa Sanskerta yang ditulis pada daun lontar dan dibungkus menggunakan kain kafan. Benda yang diduga telah berusia ratusan tahun tersebut ditemukan dalam kondisi hangus setelah berhasil diamankan dari salah satu rumah warga yang terbakar.
Tokoh adat Sasak Lombok Tengah, Lalu Sungkul, mengatakan manuskrip tersebut memiliki nilai penting bagi masyarakat Sasak. Naskah yang dikenal dengan sebutan "guntal" itu tidak hanya menjadi peninggalan masa lalu, tetapi juga memuat pengetahuan dan pedoman hidup masyarakat Sasak.
“Artefak ini sebagai wisdom, sebagai panduan,” kata Lalu Sungkul, Senin (24/8).
Isi manuskrip berkaitan dengan berbagai pertanyaan mendasar tentang kehidupan manusia. Menurut Sungkul, naskah tersebut dipercaya memuat penjelasan tentang kehidupan hingga kematian.
“Berisi panduan dan penjelasan. Kenapa kita hidup? Ada penjelasannya di sini. Dan ke mana kita mati? Ada penjelasannya,” ujarnya.
Dibacakan dalam Kegiatan Adat
Keberadaan manuskrip Guntal memiliki hubungan erat dengan kehidupan adat masyarakat Sasak. Untuk mempertahankan warisan tersebut, naskah selalu dibaca oleh para tetua adat dalam sejumlah kegiatan penting masyarakat, seperti acara khitanan dan perkawinan. Dalam beberapa tradisi, pembacaan dapat berlangsung selama beberapa hari.
“Setiap ada acara khitanan, kawinan itu tujuh hari dibaca. Dan kalau acaranya sembilan hari, maka dibaca selama sembilan malam,” katanya.
Menurut Sungkul, tradisi membaca Guntal menunjukkan bahwa manuskrip tersebut tidak hanya menjadi benda pusaka yang disimpan di dalam rumah, tetapi juga tetap dibaca dan diajarkan secara turun-temurun.
Akan Disimpan di Museum
Sungkul mengatakan benda-benda sejarah yang masih dapat diselamatkan dari kebakaran, termasuk Guntal, akan dirawat dan disimpan di museum.
“Nanti kalau Sade dibangun kembali, kita akan bangun museum kebakaran. Artefak ini akan kita simpan di museum Sade,” ujar Sungkul.
Museum tersebut, kata Sungkul, tidak hanya menjadi tempat menyimpan benda yang rusak akibat kebakaran, tetapi juga ruang untuk menceritakan sejarah Sade kepada generasi berikutnya.
Karena itu, penyelamatan artefak kuno menjadi bagian penting dalam proses pemulihan Sade. Jika rencana museum terealisasi, manuskrip tersebut nantinya dapat menjadi salah satu koleksi yang menghubungkan sejarah masa lalu, peristiwa kebakaran, dan upaya masyarakat mempertahankan warisan budaya Sasak.
“Semua sejarah tentang Sade, benda pusaka, cerita sebelumnya hingga kebakaran. Semuanya akan diabadikan di museum tersebut,” tutup Sungkul.
