Kemarau Diprediksi Panjang, Pemprov DKI Bikin Hujan Buatan 1-2 Kali Tiap Pekan

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung saat menghadiri Penandatanganan dan Penyerahan Berita Acara Serah Terima Pemenuhan Kewajiban Fasos/Fasum Semester I Tahun 2026 di Balai Kota DKI Jakarta, Rabu (5/8/2026). Foto: Nauval Pratama/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung saat menghadiri Penandatanganan dan Penyerahan Berita Acara Serah Terima Pemenuhan Kewajiban Fasos/Fasum Semester I Tahun 2026 di Balai Kota DKI Jakarta, Rabu (5/8/2026). Foto: Nauval Pratama/kumparan

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta akan mengintensifkan operasi modifikasi cuaca (OMC) atau hujan buatan hingga satu sampai dua kali setiap pekan untuk mengantisipasi musim kemarau panjang.

Kebijakan tersebut diambil setelah Pemprov DKI menerima laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta yang berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai potensi kemarau berkepanjangan.

"Jadi intinya tadi saya sudah memberikan persetujuan untuk kalau bisa setiap minggu itu satu-dua kali dibuat hujan buatan atau modifikasi cuaca. Karena ini akan berlangsung lama," kata Pramono di Balai Kota DKI Jakarta, Rabu (5/8).

Menurut Pramono, berdasarkan paparan BPBD, puncak El Nino tahun ini diperkirakan menjadi salah satu yang terpanjang dibandingkan 2023. Kondisi tersebut diprediksi berlangsung hingga akhir September atau bahkan pekan pertama dan kedua Oktober sebelum hujan mulai turun.

"Dari data yang ada, puncak El Nino itu akan panjang, mungkin salah satu yang terpanjang dibandingkan dengan tahun 2023 pada waktu itu. Puncaknya kurang lebih nanti akhir September atau pertengahan Oktober, minggu pertama atau kedua Oktober baru akan ada hujan," ujarnya.

Pramono mengatakan, tantangan utama pelaksanaan modifikasi cuaca adalah minimnya pembentukan awan. Meski demikian, Pemprov DKI akan tetap memanfaatkan setiap peluang yang ada untuk menurunkan hujan.

Ia menyebut, hujan yang mengguyur Jakarta pada Selasa (4/8) malam merupakan hasil operasi modifikasi cuaca meski saat itu kondisi awan sangat terbatas.

"Kalau tadi malam itu termasuk rezeki anak sholeh, enggak ada awan tapi bisa dimodifikasi," katanya.

Pemprov DKI Jakarta melaksanakan operasi modifikasi cuaca antisipasi cuaca Ekstrem. Foto: Dok. BPBD DKI Jakarta
Pemprov DKI Jakarta melaksanakan operasi modifikasi cuaca antisipasi cuaca Ekstrem. Foto: Dok. BPBD DKI Jakarta

Antisipasi Kebakaran dan Krisis Air Bersih

Selain mengintensifkan operasi modifikasi cuaca, Pemprov DKI menyiapkan langkah mitigasi menghadapi musim kemarau panjang.

Pramono mengatakan, pemerintah akan memprioritaskan antisipasi terhadap potensi kebakaran serta menjaga ketersediaan air bersih bagi masyarakat.

"Yang pertama adalah antisipasi terhadap kebakaran. Maka Pemerintah DKI Jakarta, wali kota akan campaign tentang Jaga Jakarta dalam dua hal; satu kebakaran, yang satu adalah penyediaan air bersih pasti mengalami hambatan," ujarnya.

Ia meminta seluruh wilayah meningkatkan kesiapsiagaan terhadap kebakaran, termasuk memastikan setiap rukun warga (RW) memiliki alat pemadam api ringan (APAR).

"Saya minta untuk setiap RW persiapan APAR dipersiapkan dari sekarang karena ini pasti cepat atau lambat, karena suasananya kering dan juga kemungkinan untuk terjadi ISPA. Jadi itulah yang tadi dalam rapat kami putuskan," kata Pramono.