Ketua Komisi V soal Pilot Malaysia Bawa Narkoba: Ini Warning bagi Bandara RI

Ketua Komisi V DPR RI Lasarus menilai, kasus pilot asal Malaysia yang diduga menyelundupkan narkotika ke Indonesia harus menjadi peringatan bagi seluruh otoritas bandara untuk memperketat sistem pengawasan.
Menurut Lasarus, meski narkotika berhasil dideteksi saat tiba di Indonesia, kasus tersebut menunjukkan bandara masih menjadi salah satu pintu masuk yang rawan dimanfaatkan jaringan penyelundupan narkoba.
"Ini kan warning juga buat seluruh bandara yang ada di Indonesia, otoritas bandara yang ada di Indonesia, bahwa bandara itu adalah salah satu pintu masuk yang sangat memungkinkan untuk narkoba masuk ke Indonesia," ujar Lasarus saat dihubungi kumparan, Rabu (5/8).
Lasarus menduga pengawasan di bandara keberangkatan di Malaysia menjadi celah sehingga pelaku dapat lolos sebelum akhirnya ditangkap di Indonesia. Meski demikian, ia menegaskan Indonesia tidak memiliki kewenangan mengawasi sistem keamanan negara lain.
"Ini kan pengawasan di Malaysia-nya yang lemah. Sebagian bisa lolos dari Malaysia, dan sistem di Malaysia itu kan sebenarnya standar internasional itu kan sama. Baik melalui X-Ray, melalui walk-through, peralatan-peralatan yang bisa mendeteksi narkotika, itu kan semua bandara di seluruh dunia ada," tegasnya.
Minta Pengawasan Bandara Terus Diperkuat
Lasarus meminta pemerintah sebagai regulator memastikan seluruh peralatan keamanan di bandara berfungsi optimal. Salah satunya melalui kalibrasi berkala terhadap mesin X-Ray agar sensitivitasnya tetap terjaga.
Menurut dia, penggunaan peralatan deteksi di bandara harus memenuhi standar internasional yang ditetapkan International Civil Aviation Organization (ICAO).
"X-Ray ini kan harus dikalibrasi terus. Supaya sensitivitas X-Ray itu tetap terjamin gitu loh sepanjang waktu ya selama digunakan. Kemudian juga produk-produk yang digunakan itu adalah produk-produk terbaik yang memang punya kemampuan mendeteksi barang-barang terlarang yang tidak boleh dibawa di pesawat udara menurut aturan ketentuan penerbangan internasional," ujar Lasarus.
Ia juga mengingatkan modus penyelundupan narkotika melalui jalur udara terus berkembang sehingga petugas bandara tidak boleh lengah.
"Namanya narkotika itu tidak hanya pilot, ya dibawa orang juga. Kadang-kadang dibawa masuk di perut. Macam-macam kan metode sekarang yang dipakai orang untuk meloloskan narkotika itu," katanya.
Lasarus menilai keberhasilan aparat Indonesia mengungkap kasus tersebut menunjukkan sistem keamanan bandara nasional mampu mendeteksi berbagai modus penyelundupan narkotika. Menurutnya, capaian itu harus menjadi momentum untuk terus memperkuat pengawasan di seluruh bandara Indonesia.
