KH Zulfa Mustofa Ungkap Ada 6 Caketum PBNU di Muktamar, 1 Nama Belum Disebut

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
KH Zulfa Mustofa. Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
KH Zulfa Mustofa. Foto: Dok. Istimewa

Calon Ketua Umum PBNU KH Zulfa Mustofa mengungkap ada enam nama yang masuk dalam bursa calon Ketua Umum PBNU pada Muktamar ke-35 NU.

Namun, dia hanya menyebut lima nama yang telah sepakat menggunakan mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) jika pemilihan tidak dapat dilakukan melalui musyawarah mufakat.

Kelima nama tersebut yakni KH Zulfa Mustofa, Gus Kikin, Gus Yusuf, Gus Rozin, dan Gus Salam. Sementara satu calon lainnya tidak disebutkan oleh Zulfa.

"Saya, Gus Kikin, ya kan. Saya Zulfa Mustafa, Gus Kikin, lalu siapa tadi? Gus Yusuf, lalu Gus Rozin, lalu Gus Salam. Kami lima bersepakat pemilihan Ketua Umum itu jika tidak bisa dipilih secara musyawarah mufakat, maka sistemnya adalah lewat Ahwa, gitu ya. Ya. Artinya tetap mengirim lima nama," kata Zulfa di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Sabtu (29/8).

Ketika ditanya siapa calon keenam yang tidak disebutkan, Zulfa memilih tidak mengungkapkannya. Dia justru mengatakan nama tersebut sudah diketahui publik.

"Saya pikir kita tahu semua lah. Gak perlu, gak perlu ditanya, Anda tahu lah calonnya siapa," jawabnya.

Pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Maarif, KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam (tengah bawah) menyampaikan pernyataan terkait dinamika Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Denanyar, Jombang, Jawa Timur, Sabtu (29/8/2026). Foto: Syaiful Arif/ANTARA FOTO

Sebelumnya, Zulfa bersama Gus Kikin, Gus Yusuf, Gus Rozin dan Gus Salam, sepakat mengusulkan untuk memakai mekanisme AHWA bila musyawarah mufakat untuk memilih Ketua Umum PBNU tidak tercapai.

Dalam mekanisme tersebut, lima nama calon akan diusulkan untuk kemudian diseleksi melalui AHWA. Zulfa menilai mekanisme ini menggabungkan unsur election dan selection dalam menentukan Ketua Umum PBNU.

Menurut Zulfa, mekanisme tersebut juga dapat memperkuat posisi Syuriyah sebagai pemegang posisi tertinggi dalam struktur NU serta memastikan kepemimpinan Tanfidziyah berjalan searah dengan kebijakan Syuriyah.