Kiai Sepuh Serukan Muktamirin Jaga Marwah-Hindari Pertikaian di Muktamar NU

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Mustasyar PBNU KH Ma'ruf Amin, KH Anwar Manshur dan KH Abdullah Kafabihi Mahrus, KH 'Athoillah Sholahuddin Anwar, KH Mu'adz Thohir, KH Abdullah Ubab Maimoen, serta KH Muhibbul Aman Aly di Ponpes Lirboyo, Kediri, Rabu (26/8/2026). Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Mustasyar PBNU KH Ma'ruf Amin, KH Anwar Manshur dan KH Abdullah Kafabihi Mahrus, KH 'Athoillah Sholahuddin Anwar, KH Mu'adz Thohir, KH Abdullah Ubab Maimoen, serta KH Muhibbul Aman Aly di Ponpes Lirboyo, Kediri, Rabu (26/8/2026). Foto: Dok. Istimewa

Para kiai sepuh menggelar pertemuan di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, Rabu (26/8) siang.

Sejumlah kiai yang hadir yakni Mustasyar PBNU KH Ma’ruf Amin, KH Anwar Manshur dan KH Abdullah Kafabihi Mahrus dari Lirboyo, KH ‘Athoillah Sholahuddin Anwar, KH Mu’adz Thohir dari Kajen, KH Abdullah Ubab Maimoen dari Rembang, serta KH Muhibbul Aman Aly dari Pasuruan.

Dalam pertempuran tersebut, para kiai mengingatkan seluruh peserta Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) untuk menjaga marwah dan kehormatan jam’iyyah.

Mereka meminta muktamirin menggunakan haknya secara bertanggung jawab serta menghindari tekanan, provokasi, dan pertikaian selama proses muktamar.

KH Ma’ruf Amin mengatakan, pesan ini ditujukan kepada seluruh muktamirin. Menurut dia, peserta memiliki tanggung jawab besar dalam menentukan kepemimpinan NU ke depan. Sehingga hak tersebut harus digunakan secara bijak.

"Tausiah ini artinya untuk mengingatkan, pertama, kepada para muktamirin sebagai pemegang hak utama supaya dia menggunakan haknya dengan baik, jangan terintimidasi dengan terkena provokasi, memilih yang terbaik, baik AHWA maupun juga pengurus NU yang akan datang," ujar Kiai Ma’ruf dalam keterangannya, Rabu (26/8).

Ia menyampaikan, proses pemilihan pemimpin harus mempertimbangkan kemaslahatan jam’iyyah, bukan kepentingan pribadi maupun kelompok.

Maka dari itu, muktamirin diminta memilih sosok yang dinilai mampu membawa NU ke arah yang lebih baik.

Kiai Ma'ruf juga mengingatkan konsekuensi moral bagi seseorang yang sengaja memilih pemimpin yang tidak baik ketika mengetahui terdapat calon yang lebih baik.

"Jadi khianat kepada Nabi, khianat kepada pendiri (NU). Apalagi kalau memilihnya itu ada sesuatu, maka dosanya menjadi bertambah," jelasnya.

Forum silaturahmi para kiai sepuh di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jatim, Rabu (26/08/2026). Foto: Dok. NU

Dalam pertemuan yang berlangsung sekitar satu jam itu menghasilkan tujuh poin tausiah yang ditujukan kepada muktamirin dan Presiden Prabowo Subianto. Poin-poin tersebut dibacakan KH Muhibbul Aman Aly, antara lain:

  1. Para kiai meminta muktamirin menjaga adab dan akhlakul karimah serta menjauhkan Muktamar dari tindakan yang bertentangan dengan nilai-nilai tersebut.

  2. Muktamirin juga diminta menjalankan musyawarah dengan akal sehat, hati yang jernih, dan akhlak yang mulia. Mereka diminta memilih pemimpin terbaik, mengutamakan kemaslahatan jam’iyyah, memperkuat persatuan, serta menghindari pertikaian.

  3. Para kiai juga meminta kehormatan dan martabat Ahlul Halli wal 'Aqdi (AHWA) dijaga. Proses penentuan AHWA diminta bebas dari transaksi, tekanan, rekayasa, atau cara-cara lain yang dinilai mencederai kemuliaan ulama.

  4. Muktamirin disebut sebagai pemegang kedaulatan dalam muktamar. Karena itu, hak dan kebebasan mereka dalam menyampaikan pendapat serta menentukan pilihan harus dihormati.

  5. Para kiai juga menyerukan kepada pemerintah, kekuatan politik, dan seluruh pihak di luar jam’iyyah untuk menghormati kemandirian NU dan kedaulatan Muktamar. Mereka meminta tidak ada tekanan atau tindakan yang dapat dipersepsikan sebagai pengondisian maupun intervensi terhadap proses dan keputusan Muktamar.

  6. Para kiai menyatakan kepercayaan kepada Presiden Prabowo Subianto untuk menjaga agar pemerintah menghormati kemandirian NU. Mereka juga meminta Presiden mengambil tindakan tegas apabila terdapat pejabat yang melakukan tindakan tidak patut yang dapat dinilai sebagai intervensi terhadap proses Muktamar.

  7. Para kiai menyatakan siap menghadap Presiden untuk menyampaikan informasi dan hal-hal yang menjadi keprihatinan mereka terkait penyelenggaraan Muktamar.

Mereka juga menyerukan pihak-pihak yang dinilai mengacaukan proses Muktamar agar menghentikan tindakannya.

"Semoga Allah subhanahu wa ta'ala senantiasa menjaga, melindungi dan membimbing Nahdlatul Ulama," kata KH Muhibbul Aman Aly.