Muktamar Ke-35 NU Gunakan Kartu Cip untuk Atur Akses Peserta

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Nahdlatul Ulama. Foto: Setyawan aref/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Nahdlatul Ulama. Foto: Setyawan aref/Shutterstock

Panitia Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) menyiapkan sistem digital untuk mengatur kepesertaan dan akses peserta selama rangkaian kegiatan di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

Peserta akan dibekali kartu khusus berbasis cip. Setiap kartu memiliki pengaturan wilayah akses sehingga pemegangnya hanya dapat memasuki area sesuai dengan kewenangannya di arena utama muktamar.

Sekretaris Steering Committee (SC) Muktamar Ke-35 NU Mohammad Nuh mengatakan, sistem tersebut disiapkan untuk memastikan kepesertaan terverifikasi sekaligus mencegah manipulasi akses.

"Mulai dari kepesertaan itu semuanya sudah kita verifikasi. Model-model kepesertaan ini sudah kita siapkan. Sudah pakai cip, sudah paten, sehingga dengan demikian enggak bisa dimanipulasi," kata Mohammad Nuh di Jombang dikutip dari Antara, Rabu (26/8).

Ia mengatakan setiap kartu peserta telah diatur berdasarkan wilayah akses.

"Setiap kartu ini ada wilayahnya. Dia boleh masuk ke mana saja di wilayah arena utama," katanya.

Selain kartu berbasis cip, panitia menyiapkan lebih dari 100 kamera pengawas atau CCTV yang terhubung dengan pusat kendali (command center). Kamera tersebut digunakan untuk memantau aktivitas di sekitar arena muktamar.

Sekretaris Steering Committee Muktamar ke-35 NU Profesor Mohammad Nuh saat di Jombang, Jawa Timur. Foto: Asmaul/ANTARA

557 Peserta Punya Hak Suara

Panitia juga telah menuntaskan verifikasi daftar pemilih tetap (DPT) Muktamar Ke-35 NU. Sebanyak 557 peserta ditetapkan sebagai pemilik hak suara dari total 590 peserta yang terdata.

Mohammad Nuh mengatakan jumlah tersebut telah memenuhi kuorum pelaksanaan muktamar.

"DPT sudah ditetapkan, sebanyak 557. Totalnya 590, jadi sekitar 97 persen. Dari sisi kuorum, aman," katanya.

Verifikasi dilakukan terhadap data kepengurusan pengurus wilayah NU (PWNU), pengurus cabang NU (PCNU), dan pengurus cabang istimewa NU (PCINU).

Data tersebut mencakup identitas rais syuriyah, katib syuriyah, ketua, dan sekretaris, termasuk masa berlaku surat keputusan (SK) kepengurusan.

Setiap PCNU, PWNU, dan PCINU mengirim empat perwakilan sesuai data kepengurusan yang telah diverifikasi. Mereka terdiri atas rais syuriyah, katib syuriyah, ketua, dan sekretaris.

Menurut Mohammad Nuh, sekitar tiga persen kepengurusan tidak masuk DPT karena tidak memenuhi persyaratan administrasi. Beberapa di antaranya disebabkan pengurus telah meninggal dunia atau data kepengurusan tidak diperbarui.

Khusus PCINU, pembaruan data lebih kompleks karena sebagian pengurus merupakan mahasiswa yang berada di luar negeri. Setelah menyelesaikan pendidikan dan kembali ke Indonesia, tidak selalu ada pengurus yang melanjutkan kepengurusan PCINU di negara tersebut.

Mohammad Nuh menegaskan Muktamar Ke-35 NU dilaksanakan secara luring. Perwakilan PCINU yang memiliki hak suara dan telah terverifikasi akan hadir langsung di Jombang tanpa mekanisme pemungutan suara secara daring maupun hibrida.

Sekretaris Jenderal PBNU, Saifullah Yusuf atau Gus Ipul di Kantor PWNU Jawa Timur, Selasa (20/7/2026). Foto: Farusma Okta Verdian/kumparan

100 Lebih CCTV Terhubung Command Center

Ketua Panitia Muktamar Ke-35 NU Saifullah Yusuf mengatakan, lebih dari 100 CCTV telah dipasang dan diintegrasikan dengan command center untuk memantau berbagai aktivitas selama muktamar.

"Ini hal yang baru dalam penyelenggaraan muktamar. Kita bisa mengetahui semua yang terjadi di arena utama, mulai tempat persidangan, tower, akomodasi, konsumsi maupun di jalan-jalan," kata Saifullah di Jombang.

Sistem tersebut tidak hanya digunakan untuk pemantauan, tetapi juga dilengkapi mekanisme pelaporan dan tindak lanjut. Setiap kejadian dapat segera ditangani petugas yang telah ditentukan.

Bagian IT Muktamar Ke-35 NU Robin Makrufi mengatakan, pemanfaatan teknologi digital diterapkan mulai dari verifikasi kepesertaan, penggunaan kartu bercip, hingga pemantauan aktivitas melalui CCTV.

"Mulai dari kepesertaan itu semuanya sudah kita verifikasi. Mudah-mudahan tidak ada lagi dispute (sengketa). Model-model kepesertaan ini sudah kita siapkan," ujar Robin.

Ia mengatakan sistem kartu peserta dengan pengaturan wilayah akses diharapkan dapat memperkuat pengawasan selama muktamar.

"Sudah pakai cip, sudah paten. Dengan demikian tidak bisa dimanipulasi. Setiap kartu ini ada wilayahnya," katanya.

Petugas membantu membawa koper milik peserta Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di pintu masuk Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Rabu (26/8/2026). Foto: Syaiful Arif/ANTARA FOTO

Panitia Mulai Simulasi Layanan

Saifullah mengatakan, persiapan muktamar kini difokuskan pada penyempurnaan layanan kepada peserta. Sarana dan prasarana disebut hampir seluruhnya selesai dan panitia mulai melakukan simulasi pelayanan.

"Persiapan terutama yang menyangkut hal-hal pelayanan terhadap peserta. Sarana-prasarana sudah hampir selesai semua. Sekarang menyempurnakan layanan dan sudah mulai simulasi," ujar Gus Ipul, sapaan akrab Saifullah.

Sumber daya manusia yang terlibat dalam pelayanan juga telah mengikuti bimbingan teknis. Panitia berharap petugas dapat memberikan pelayanan secara optimal selama pelaksanaan muktamar.

Para muktamirin mulai berdatangan ke Jombang dan melakukan registrasi pada Rabu menjelang pembukaan Muktamar Ke-35 NU pada Kamis (27/8).

Terkait rencana pembukaan muktamar oleh Presiden Prabowo Subianto, Saifullah mengatakan panitia telah mengundang Presiden secara resmi dan berkoordinasi dengan protokol Istana.

Muktamar Ke-35 NU dijadwalkan berlangsung pada 27-31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang. Agenda utama muktamar membahas berbagai persoalan organisasi serta arah perjalanan NU ke depan.