Pakar UI Beri Masukan ke Prabowo, Jelaskan Kebakaran Gambut Sulit Dipadamkan

Pakar dari Universitas Indonesia (UI) Yulianto Sulistyo Nugroho memberikan sejumlah masukan kepada Presiden Prabowo Subianto terkait penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan gambut.
Menurutnya, kebakaran gambut sangat sulit dipadamkan apabila api sudah muncul.
"Ada beberapa poin yang mungkin eh sangat penting perlu kita cermati bahwa gambut ini sangat sulit dipadamkan ketika sudah mulai terbakar," kata Yulianto dalam pertemuan bersama Prabowo di Istana Merdeka, Jakarta, sebagaimana ditayangkan akun YouTube Sekretariat Presiden, Jumat (25/9).
Yulianto menjelaskan, salah satu penyebabnya adalah karakteristik gambut yang dapat menjadi hidrofobik setelah mengalami pengeringan ekstrem.
"Mengapa demikian? Karena eh gambut ini memiliki sifat hidrofobik ketika sudah mengalami proses pengeringan yang sangat ekstrim," ujarnya.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan timnya menggunakan water spray dalam skala laboratorium, dibutuhkan air dalam jumlah besar untuk memadamkan gambut yang terbakar.
"Sehingga dari penelitian yang kami lakukan, menggunakan water spray di skala laboratorium, itu kami menemukan angka kurang lebih untuk memadamkan satu, 1 kilogram gambut itu butuh 6 liter, Bapak Presiden. Ini angka yang menakjubkan," ucapnya.
Yulianto kemudian memberikan gambaran kebutuhan air apabila kebakaran terjadi pada lahan gambut seluas satu hektare. Jumlah air yang dibutuhkan, menurut perhitungannya, dapat mencapai ratusan ribu hingga satu juta liter.
"Sehingga kalau kita punya 1 hektar lahan gambut begitu, ya mohon dikoreksi, kita membutuhkan kurang lebih 200 ribu liter sampai 1 juta liter. Ini luar biasa," kata Yulianto.
Karena karakteristik tersebut, Yulianto menilai pencegahan menjadi kunci utama dalam penanganan kebakaran gambut. Sebab, ketika kebakaran sudah terjadi, proses pemadaman akan jauh lebih sulit.
"Artinya, untuk dipadamkan kuncinya adalah bagaimana kita mencegah. Ketika sudah kebakaran itu terjadi sangat sulit," ujarnya.
Ia mengatakan kebakaran gambut tetap terjadi sehingga diperlukan teknologi yang mampu mendeteksi kemunculan titik api sedini mungkin.
"Namun demikian, kebakaran masih saja terjadi. Oleh karenanya, kita perlu eh mencoba mengembangkan cara untuk mendeteksi sedini mungkin," terangnya.
Yulianto juga mengungkapkan hasil penelitian mengenai metode injeksi langsung ke lapisan gambut. Metode tersebut, kata dia, dapat mempercepat proses penanganan.
"Dan dari hasil penelitian yang kami lakukan, itu kita menemukan bahwa apabila kita melakukan eh injeksi ke dalam eh lapisan gambut, ini sangat mempercepat proses," imbuhnya.
Namun, tantangan lain muncul dari kondisi geografis kawasan gambut yang kerap sulit dijangkau. Karena itu, ia kembali menekankan pentingnya pencegahan.
"Namun demikian, kita tahu sendiri kalau sudah di lahan gambut, aksesnya sangat sulit. Oleh karena itu, kembali mencegah menjadi salah satu kuncinya," terangnya.
Yulianto juga menyoroti metode water bombing yang selama ini digunakan dalam operasi penanganan karhutla. Berdasarkan data penelitian yang dimilikinya, metode tersebut dinilai tidak efektif untuk memadamkan kebakaran gambut.
"Dan seperti yang kami sampaikan tadi, apakah water bombing itu efektif? Kalau melihat data yang kami miliki, itu tidak efektif Bapak Presiden," ucapnya.
Meski demikian, ia mengatakan water bombing masih dapat menjadi salah satu upaya yang dilakukan dalam kondisi tertentu yang sudah sangat ekstrem.
"Tetapi mungkin itu upaya yang mungkin bisa kita lakukan untuk kondisi-kondisi yang sangat ekstrim," tandasnya.
