Pilu Ningrum dan Kisah di Balik Anak Kayuh Sepeda demi Peluk Ayah di Penjara

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ningrum, saat ditemui di rumah kontrakannya di Kelurahan Ardirejo, Situbondo. Foto: kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ningrum, saat ditemui di rumah kontrakannya di Kelurahan Ardirejo, Situbondo. Foto: kumparan

Kehidupan keluarga Slamet (52) berubah setelah ia ditahan di Mapolres Situbondo dalam kasus penganiayaan terhadap seorang tukang becak bernama Abdul Majid (62).

Video anaknya yang mengayuh sepeda ke Polres Situbondo untuk bertemu sang ayah di penjara jadi perbincangan. Di dalam penjara, sang anak memeluk erat ayahnya.

Sejak suaminya ditahan, Ningrum Suliyati (49) harus mencari penghasilan untuk menghidupi ketiga anak mereka. Ia kini bekerja sebagai buruh pengupas bawang merah di rumah tetangganya dengan upah paling besar Rp 30 ribu per hari.

"Dengan upah Rp 30 ribu, saya harus mencukupi makan dua kali sehari untuk saya dan tiga anak. Itu pun lauknya hanya tempe goreng dan sambal," ujar Ningrum saat ditemui di rumah kontrakannya di Kelurahan Ardirejo, Kecamatan Panji, Situbondo, Selasa (28/7).

Slamet ditahan sejak Selasa (14/7). Setelah itu, Ningrum mulai mencari pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Anak pertamanya juga mulai bekerja untuk membantu perekonomian keluarga.

"Alhamdulillah, anak pertama saya mulai hari ini juga sudah bekerja sebagai pelayan di salah satu toko di Kota Situbondo," kata Ningrum dengan nada lirih.

Rumah kontrakan Ningrum di Kelurahan Ardirejo, Situbondo. Foto: kumparan

Puluhan Tahun Tinggal di Rumah Kontrakan

Ningrum mengatakan kondisi ekonomi keluarganya sudah terbatas sejak lama. Sejak menikah dengan Slamet sekitar 21 tahun lalu, mereka tinggal di rumah kontrakan berukuran 5x4 meter.

Menurut Ningrum, rumah tersebut hampir tidak memiliki perabot rumah tangga, seperti kursi maupun tempat tidur. Ketika ada tamu, keluarga itu menggelar tikar di teras rumah.

"Bahkan, rumah kontrakan yang kami tempati puluhan tahun ini tidak dilengkapi kamar mandi. Jadi, setiap hari saya dan anak-anak terpaksa mandi di sungai yang berada tidak jauh dari rumah," tambahnya.

Ningrum berharap suaminya mendapatkan keringanan dalam proses hukum. Ia mengatakan Slamet selama ini menjadi tulang punggung keluarga.

Perhatiannya terutama tertuju kepada anak bungsunya yang masih berusia 10 tahun dan duduk di kelas V SD.

"Anak bungsu kami masih butuh biaya besar untuk sekolah. Sementara dua kakaknya sudah lulus; yang pertama baru saja bekerja dan anak kedua masih terus mencari pekerjaan," jelas Ningrum.

Ningrum, saat ditemui di rumah kontrakannya di Kelurahan Ardirejo, Situbondo. Foto: kumparan
Ningrum, saat ditemui di rumah kontrakannya di Kelurahan Ardirejo, Situbondo. Foto: kumparan

Upayakan Uang Saku Anak

Dengan penghasilan dari mengupas bawang, Ningrum harus membagi pendapatannya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya.

Ia juga berusaha menyisihkan uang untuk kebutuhan sekolah anak bungsunya. Namun, ketika tidak memiliki uang, anaknya terpaksa berangkat sekolah tanpa uang saku.

"Biasanya saya usahakan memberi uang saku Rp5 ribu sehari untuk anak bungsu saya. Tapi kalau uangnya benar-benar tidak ada, terpaksa dia sekolah tanpa uang saku," pungkasnya.