Polisi: Pelaku Penembakan Sekolah di Thailand Kerap Tonton Konten Kekerasan

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Para siswa berlari saat dievakuasi dari Sekolah Debsirin Nonthaburi, lokasi insiden penembakan, di distrik Bang Kruai, provinsi Nonthaburi, pinggiran Bangkok, Thailand, Jumat (7/8/2026). Foto: Chalinee Thirasupa/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Para siswa berlari saat dievakuasi dari Sekolah Debsirin Nonthaburi, lokasi insiden penembakan, di distrik Bang Kruai, provinsi Nonthaburi, pinggiran Bangkok, Thailand, Jumat (7/8/2026). Foto: Chalinee Thirasupa/REUTERS

Polisi Thailand mengungkap perkembangan penyelidikan kasus penembakan massal di sebuah sekolah di luar Bangkok yang menewaskan 8 orang.

Remaja berusia 14 tahun yang diduga menjadi pelaku diketahui telah menunjukkan ketertarikan terhadap senjata api sejak satu hingga dua tahun terakhir.

Wakil Kepala Kepolisian Daerah Wilayah 1 Thailand, Atthapol Anusit, mengatakan penyidik menemukan bukti pelaku mempelajari penggunaan senjata api melalui media sosial.

"Berdasarkan keterangan saksi, pelaku sudah menunjukkan minat untuk mempelajari penggunaan senjata api sejak beberapa waktu lalu, sekitar satu hingga dua tahun," kata Atthapol dikutip dari Reuters, Minggu (9/8).

Insiden penembakan terjadi pada Jumat (7/8). Polisi menduga remaja tersebut lebih dulu menembak mati kakek dan neneknya di rumah sebelum menuju sekolah dan menewaskan 6 orang lainnya. Setelah itu, pelaku mengarahkan senjata ke dirinya sendiri.

Hingga kini, polisi telah memeriksa sedikitnya 17 saksi untuk mengungkap motif penyerangan.

Sejumlah siswa berlari menyelamatkan diri saat penembakan di Sekolah Debsirin Nonthaburi, distrik Bang Kruai, Provinsi Nonthaburi, Thailand, Jumat (7/8/2026). Foto: Chalinee Thirasupa/REUTERS

Sering Menonton Konten Kekerasan

Dalam penyelidikan, polisi menemukan sepucuk senjata api, sejumlah selongsong peluru, sebilah pisau di dalam tas pelaku, serta sebuah komputer pribadi.

Hasil pemeriksaan terhadap komputer tersebut menunjukkan pelaku kerap mengakses konten bermuatan kekerasan di media sosial.

"Setelah memeriksa komputer tersebut, ditemukan bahwa anak itu pernah menonton konten media sosial yang memuat unsur kekerasan," ujar Atthapol.

Meski demikian, polisi belum menemukan bukti pelaku pernah menjalani latihan menembak secara langsung.

Penyidik juga mengungkap pada tahun lalu, seorang guru sempat menyita sebuah BB gun atau senjata angin yang dibawa pelaku ke sekolah.

Polisi menyebut, remaja tersebut tinggal bersama kakek dan neneknya selama sekitar 12 tahun setelah kedua orang tuanya berpisah.

Petugas darurat berdiri di dekat ambulans usai penembakan di Sekolah Debsirin Nonthaburi, distrik Bang Kruai, Provinsi Nonthaburi, Thailand, Jumat (7/8/2026). Foto: Athit Perawongmetha/REUTERS

Pemerintah Siapkan Protokol Keamanan Baru

Tragedi ini mendorong pemerintah Thailand memperketat sistem keamanan di sekolah.

Kementerian Pendidikan Thailand akan menyusun protokol keselamatan baru dalam 3 bulan ke depan.

Kebijakan itu meliputi pemeriksaan kesehatan mental, mekanisme rujukan bagi individu yang berisiko, simulasi penanganan keadaan darurat, pencegahan perundungan (bullying), hingga peningkatan pemeriksaan untuk mencegah masuknya senjata atau benda berbahaya ke lingkungan sekolah.

Selain menewaskan 8 orang, penembakan tersebut menyebabkan lebih dari 20 orang mengalami luka-luka.

Insiden itu menjadi penembakan massal paling mematikan di Thailand sejak 2022 dan kembali memicu perdebatan mengenai pengendalian kepemilikan senjata api di negara yang memiliki tingkat kepemilikan senjata tertinggi di Asia Tenggara.