Serangan Israel Tewaskan 5 Warga Palestina di Gaza, 4 di Antaranya Perempuan

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Petugas Pertahanan Sipil berupaya menyelamatkan orang-orang yang terjebak di bawah reruntuhan bangunan tempat tinggal yang rusak akibat serangan Israel sebelumnya di Kota Gaza, Rabu (16/9/2026). Foto: Mahmoud Issa/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Petugas Pertahanan Sipil berupaya menyelamatkan orang-orang yang terjebak di bawah reruntuhan bangunan tempat tinggal yang rusak akibat serangan Israel sebelumnya di Kota Gaza, Rabu (16/9/2026). Foto: Mahmoud Issa/REUTERS

Serangan udara Israel menghantam sebuah gedung apartemen di Kota Gaza, Sabtu (3/10) dini hari. Lima warga Palestina tewas dalam serangan itu di mana empat di antaranya merupakan perempuan.

Di antara korban terdapat Maisa Abu Dawoud dan putrinya, Mary, yang merupakan warga Palestina beragama Kristen. Keduanya tewas setelah apartemen tempat mereka berada dihantam serangan dan terbakar.

Dikutip dari Reuters, serangan tersebut menghancurkan bagian gedung apartemen dan memicu kebakaran.

Militer Israel pada Sabtu menyatakan telah melakukan serangan terhadap sebuah apartemen di Gaza dengan tujuan menewaskan Ali al-Amoudi. Sumber Hamas menyebut al-Amoudi sebagai pimpinan kantor politik Hamas di Gaza.

Namun, belum dipastikan apakah serangan yang ditujukan kepada al-Amoudi merupakan serangan yang sama dengan yang menewaskan lima warga Palestina tersebut. Militer Israel masih meninjau hasil serangan, sementara Hamas belum memberikan keterangan mengenai klaim tersebut.

Petugas Pertahanan Sipil berupaya menyelamatkan orang-orang yang terjebak di bawah reruntuhan bangunan tempat tinggal yang rusak akibat serangan Israel sebelumnya di Kota Gaza, Rabu (16/9/2026). Foto: Mahmoud Issa/REUTERS

Warga Panik dan Evakuasi Korban

Serangan tersebut terjadi ketika warga sedang tidur. Ledakan membuat penghuni sekitar panik dan berusaha menyelamatkan korban dari reruntuhan.

Saksi mata Ahmed al-Dahdouh mengatakan warga mendengar rentetan serangan dan ledakan keras sebelum anak-anak berlarian keluar rumah.

“Kami sedang tidur dan tiba-tiba mendengar serangan bertubi-tubi serta ledakan keras. Anak-anak terbangun dengan kaget lalu berlari dan berteriak,” kata Ahmed kepada Reuters.

Ia mengatakan warga kemudian menemukan rumah tetangga mereka telah terkena serangan. Para korban ditemukan di antara reruntuhan dan dievakuasi oleh warga.

Orang-orang berkumpul saat petugas Pertahanan Sipil berupaya menyelamatkan orang-orang yang terjebak di bawah reruntuhan bangunan tempat tinggal yang rusak akibat serangan Israel sebelumnya di Kota Gaza, Rabu (16/9/2026). Foto: Mahmoud Issa/REUTERS

Ibu dan Anak Dimakamkan

Jenazah Maisa dan Mary kemudian dibawa ke Gereja Saint Porphyrius di Kota Gaza untuk dimakamkan. Kerabat serta sejumlah warga, termasuk umat Muslim, hadir memberikan penghormatan terakhir kepada keduanya.

Fouad al-Najjar, salah seorang anggota keluarga, mengatakan kehilangan tersebut menjadi pukulan berat bagi keluarganya.

“Hari ini benar-benar merupakan hari terburuk dalam hidup saya. Saya kehilangan ibu dan nenek saya hari ini,” kata Fouad.

Patriarkat Ortodoks Yunani Yerusalem menyampaikan belasungkawa kepada keluarga Maisa dan Mary. Dalam pernyataannya, lembaga tersebut juga menyerukan penghentian perang dan pengeboman serta perlindungan terhadap warga sipil.

Komunitas Kristen merupakan kelompok minoritas di Gaza. Reuters menyebut jumlah umat Kristen hanya sekitar 1 persen dari populasi Gaza yang berjumlah lebih dari 2 juta jiwa.

Serangan Meningkat di Tengah Gencatan Senjata

Israel dalam beberapa pekan terakhir meningkatkan serangan terhadap Hamas. Israel mengeklaim Hamas kembali mempersenjatai diri dan melakukan serangan yang melanggar kesepakatan gencatan senjata.

Hamas membantah tuduhan tersebut. Kelompok itu juga menuduh Israel melakukan tindakan yang merusak kesepakatan perdamaian di Gaza.

Kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat sebelumnya memuat rencana rekonstruksi Gaza, pelucutan senjata Hamas, dan penarikan pasukan Israel. Namun, pelaksanaan sejumlah ketentuan tersebut masih menghadapi hambatan.

Pejabat kesehatan Gaza menyebut sedikitnya 1.400 warga Palestina tewas akibat serangan Israel sejak gencatan senjata pada Oktober tahun lalu. Di sisi lain, Israel menyatakan empat tentaranya tewas akibat serangan kelompok bersenjata di Gaza dalam periode yang sama.